RADAR KUDUS - Fahmi Gaka ialah salah satu seniman rupa asal Jepara. Konsisten berkarya sejak 2017. Setidaknya ia telah menggelar dua pameran tunggal dan mengikuti lebih dari 20 pameran bersama. Di samping itu, ia terlibat dalam berbagai proyek seni, perfilman, pemberdayaan masyarakat, hingga pelestarian budaya melalui mural dan penyelenggaraan event seni.
Pengalaman tersebut menunjukkan kemampuannya dalam mengelola proyek kreatif, membangun kolaborasi, serta mengembangkan karya seni yang sarat nilai budaya dan sosial.
DI BALIK karya-karya yang dipamerkan dari satu kota ke kota lain, ada perjalanan panjang yang dibangun dari rasa ingin tahu. Curiosity.
Bagi Khoirul Fahmi, atau yang lebih akrab disapa Fahmi Gaka, seni bukanlah aktivitas tanpa makna.
Seni menjelma menjadi ruang untuk bertanya. Membaca ulang sejarah, merumuskan serta menggali identitasnya. Mereguk kedirian sebagai orang Jawa sekaligus orang Jepara.
Lahir pada 19 Juni 1999 di Desa Sekuro, Kecamatan Mlonggo, Fahmi merupakan anak pertama dari tiga bersaudara. Ia tumbuh dalam lingkungan keluarga yang memberi kebebasan untuk bereksperimen. Sejak kecil, menggambar dan membangun imajinasi waktu penghabisannya.
"Saya selalu senang bereksplorasi ide. Seni rupa menjadi arena untuk bermain dan berimajinasi dengan daya kreativitas," ungkapnya, pada Jumat (31/7).
Ketertarikan itu kemudian membawanya menempuh pendidikan di Program Studi Seni Rupa Murni, Institut Seni Indonesia (ISI) Surakarta pada 2017, hingga lulus sebagai Sarjana Seni pada 2022.
Masa kuliah menjadi titik balik dalam perjalanan intelektualnya. Tugas akhir yang disusunnya mengangkat kajian formalisme Macan Kurung Welahan, karya budaya khas Jepara, dengan pendekatan representasi dan interaksionisme simbolik.
Dari penelitian itu, ia menyadari bahwa karya seni tradisi bukan sekadar benda visual. Lebih dalam, yakni menyimpan lapis makna yang terus dapat dieja ulang. Kesadaran ini membentuk arah berkaryanya.
Sejak mulai serius berkesenian pada 2019, hampir seluruh karya Fahmi berangkat dari narasi kebudayaan Jawa.
Pada awalnya ia banyak mengeksplorasi kisah Ramayana. Tokoh dan adegan dalam epos tersebut diejawantahkan kembali, ke dalam bahasa visual yang lebih kontemporer.
Perjalanan risetnya terus berkembang. Pada 2021 ia mulai meneliti patung Macan Kurung, kemudian sejak 2022 hingga sekarang mendalami Relief Mantingan dengan perspektif dekolonial. Melalui penelitian itu, Fahmi berusaha membaca kembali warisan budaya Jepara dari sudut pandang yang lebih kritis.
"Seni menjadi medium untuk menyampaikan sesuatu. Yang paling menarik bagi saya adalah soal identitas, tentang diri saya sebagai orang Jawa dan orang Jepara," ucapnya.
Baginya, praktik berkesenian tidak bisa dipisahkan dari penelitian. Karena itu, hasil risetnya tidak hanya diwujudkan menjadi karya seni, tetapi juga dipresentasikan dalam forum ilmiah, ditulis menjadi paper, serta dikembangkan menjadi jurnal akademik.
Kini, sebagian besar waktunya dihabiskan untuk memperdalam pembacaan Relief Mantingan melalui perspektif dekolonial.
Ia berharap penelitian tersebut suatu hari dapat berkembang menjadi buku, sekaligus menjadi landasan lahirnya karya-karya seni kontemporer yang berangkat dari ornamen Mantingan.
Selain aktif meneliti, Fahmi juga dikenal sebagai seniman yang produktif berpameran. Hingga kini, ia setidaknya telah menggelar dua pameran tunggal, yakni Hadir dan Tumbuh di Tembi Rumah Budaya Yogyakarta pada 2021 serta Titik Menapak, Terlihat Dalam Cerita di ARTOTEL Yogyakarta pada 2022.
Di luar itu, ia telah mengikuti lebih dari 20 pameran bersama di berbagai kota seperti Surakarta, Yogyakarta, Semarang, dan Jepara.
Beberapa di antaranya Seenergi, Srawung, Kampungseni, Archetype 2.0, RuangRaung, Tutur Karya, SALON di Langgeng Art Foundation, Titik Temu, Temu Energi, Intersection, hingga Pra Jepara Art Biennale bertajuk Ambah Pesisiran.
Baginya, setiap pameran menjadi ruang berdialog dengan publik. Sekaligus menguji gagasan yang selama ini ia bangun melalui penelitian. Aktivitas berkaryanya pun tidak hanya berlangsung di ruang galeri.
Sejak 2017 Fahmi juga aktif sebagai seniman profesional dan peneliti independen, yang mengembangkan karya seni kontemporer berbasis riset sejarah dan isu-isu aktual.
Ia pernah dipercaya menjadi Gallery Staff pada International Gamelan Festival di Surakarta dengan tanggung jawab menata ruang pamer, mengelola karya, serta mendampingi pengunjung.
Pengalamannya juga meluas ke dunia perfilman. Ia terlibat sebagai kru produksi di Marka Cinema Production House dan Ways Creative Production House, bekerja bersama sutradara, produser, penata gambar, hingga para talent dalam proses produksi film.
Di bidang sosial, Fahmi pernah menjabat sebagai Project Manager Kejora Karimunjawa. Di sana ia menggagas berbagai program pemberdayaan masyarakat, mengembangkan kerja sama dengan berbagai pihak, hingga mempromosikan yayasan kepada komunitas internasional.
Sementara di ruang publik, Fahmi juga aktif mengerjakan proyek mural. Salah satu karya terbesarnya berupa mural sepanjang 50 meter dengan tinggi 2,5 meter bertema kisah Wayang Panji, sebagai bagian dari program pelestarian budaya yang didukung pemerintah Indonesia. Pada periode 2025–2026 ini, ia terlibat dalam proyek kolaborasi mural bersama komunitas Mural Denpasar.
Tidak hanya berkarya, Fahmi juga pernah dipercaya menjadi Director of Event, Assistant Director of Event, penata pameran, hingga juri lomba lukis Olimpiade Mahasiswa UNS 2021.
Seabrek pengalaman itu mempertemukannya dengan banyak disiplin kreatif, mulai dari seni rupa, film, manajemen acara, hingga pemberdayaan masyarakat.
Dalam perjalanan artistiknya, Fahmi banyak terinspirasi oleh Marcel Duchamp yang mengubah cara pandang terhadap seni modern. Ia juga mengagumi Handiwirman Saputra, Co-founder Jendela Art Group, karena kemampuannya menerjemahkan gagasan yang rumit, menjadi visual yang sederhana namun kuat.
Meski aktivitasnya membawanya berpindah dari satu kota ke kota lain, Jepara tetap menjadi titik pulang. Baginya, daerah asal bukan sekadar tempat tinggal, melainkan sumber gagasan yang tak pernah habis digali.
Ke depan, Fahmi ingin terus mengembangkan ornamen Relief Mantingan menjadi karya seni kontemporer, jurnal ilmiah, hingga buku. Ia juga berencana melanjutkan pendidikan ke jenjang magister hingga doktoral, agar dapat memperluas kajian mengenai seni dan kebudayaan.
Bagi Fahmi Gaka, seni bukan semata tentang menghasilkan karya. Seni tak ubahnya cara menjaga ingatan, membaca kembali sejarah, merawat identitas, sekaligus menghadirkan ruang perdamaian melalui kebudayaan.
Dari Desa Sekuro, ia membawa gagasan-gagasan itu berkeliling. Menyapa galeri, ruang diskusi, hingga kota-kota yang menjadi saksi perjalanan berkaryanya.
"Saya selalu ingin berimajinasi dan bermain wacana di ranah intelektual," tandasnya.(*)
Editor : Mahendra Aditya