Mengenal Muhammad Luqmanul Hakim Melaju Tingkat Internasional Arabic Reading Challenge (ARC) 2026: Perdana Prestasi Bergengsi Mewakili Indonesia Lomba ARC ke Dubai

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 31 Juli 2026 | 09:18 WIB
BERPRESTASI: Muhammad Luqmanul Hakim murid MA Qudsiyyah Kudus memperlihatkan prestasi yang diraihnya ajang bergengsi Arabic Reading Challenge (ARC) 2026 tingkat internasional di sekolah. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)
BERPRESTASI: Muhammad Luqmanul Hakim murid MA Qudsiyyah Kudus memperlihatkan prestasi yang diraihnya ajang bergengsi Arabic Reading Challenge (ARC) 2026 tingkat internasional di sekolah. (INDAH SUSANTI/RADAR KUDUS)

Muhammad Luqmanul Hakim, murid Madrasah Aliyah (MA) Qudsiyyah Kudus.

Ia mewakili Indonesia pada ajang Arabic Reading Challenge (ARC) tingkat Internasional yang akan berlangsung di Dubai, Uni Emirat Arab, Oktober 2026.

 INDAH SUSANTI, Kudus

 PRESTASI membanggakan ditorehkan Muhammad Luqmanul Hakim yang kini duduk di kelas XI-C.

Ia berhasil lolos ke tingkat internasional setelah meraih Juara II Arabic Reading Challenge (ARC) 2026 tingkat nasional.

Prestasi tersebut mengantarkannya menjadi salah satu delegasi Indonesia yang akan bersaing dengan peserta terbaik dari berbagai negara, di Dubai, Uni Emirat Arab di Oktober 2026 mendatang.

Luqman sapaan akrabnya, sambil memegang kitab ia bercerita pengalamannya mengikuti lomba ARC 2026.

Ketertarikannya terhadap bahasa Arab sejak kali pertama mondok di Kudus dan menempuh pendidikan di MTs Qudsiyyah.

Sejak saat itu, ia mulai akrab dengan kitab-kitab berbahasa Arab dan semakin menikmati berbagai kompetisi yang berkaitan dengan kemampuan membaca kitab maupun bahasa Arab.

Luqman santri dari Ponpes Al-Maimuniyyah dan pengasuh ponpes tersebut KH Naf’ah yang juga guru MA Qudsiyyah.

”Ya saya saat mengikuti ARC bimbingan tak hanya di MA Qudsiyyah tapi juga di pondok. Ya kolaborasi memberikan suport pada saya. Sehingga, saya semakin semangat dalam menjalani seleksi ARC,” kata Luqman.

Ia mengaku, sejak mondok di Kudus, suka dengan buku-buku teks bahasa Arab.

Bahkan, prestasi sebelumnya, Luqman mengikuti lomba yang berkaitan dengan teks Arab, termasuk Musabaqah Qiraatul Kutub dan lomba bahasa Arab.

Sebelum mengikuti ARC 2026 ini, Luqman mengikuti Olimpiade bahasa Arab dengan dan mampu meraih Juara I tingkat kabupaten dan saat ini persiapan melaju ke tingkat provinsi yang rencananya dilaksanakan Agustus 2026.

Luqman bercerita seleksi ARC 2026 cukup ketat, ada 50 peserta lomba yang diikuti dari berbagai sekolah di Indonesia.

Lomba ARC tersebut, Luqman merangkum satu per satu dari 25 buku berbahasa Arab.

”ARC 2026 ini merupakan ajang lomba bergengsi yang diselenggarakan oleh Yayasan Ali Mahtul dari pemerintahan Dubai. Seleksi Indonesia ada 50 peserta. Lombanya berupa meringkas 25 buku,” ungkapnya.

Kemudian, meringkat satu buku Luqman membutuhkan waktu dua hari, sehingga total sampai selesai sekitar dua bulan, karena deadline pengiriman diberikan waktu dua bulan 21 hari.

”Ya saya diinterview terkait hasil ringkasan tersebut. Alhammdullilah bisa sampai lolos 10 besar. Kemudian, seleksi lagi interview langsung dengan penyelenggara lomba dari Dubai, dan saya juara II. Dan, tahun ini yang dikirim maju tingkat internasional juara I dan II,” terangnya.

Hampir setiap hari ia membaca kitab, mencatat poin-poin penting, menyusun ringkasan di buku tulis, lalu memperbaikinya berulang kali hingga kalimat yang ditulis benar-benar sesuai.

”Yang pertama membaca, kemudian poin-poinnya dicatat dan dipahami kembali. Setelah itu dibuat draft di tulis manual, lalu dibenahi lagi. Kalau masih kurang tepat, diganti lagi bahasanya supaya lebih menarik,” ujarnya.

Luqman mengaku, bisa memahami kitab ia menekankan memahami tentang Nahwu Shorof, karena banyak kosakata bahasa Arab. Itu yang membuat paham teks-teks bahasa Arab.

”25 buku berbahasa Arab yang saya ringkas bergenre sejarah orang-orang yang memiliki kontribusi besar dalam Islam. Mencakup sejarah Nabi Muhamamd dan para sahabat seperti sahabat Sayyidina Umar bin Khattab. Kemudian, sejarahnya Sayyidah Khadijah, Imam Al-Ghazali dan lainnya,” kata Luqman.

Namun tantangan di Dubai diperkirakan lebih berat. Ia bahkan memasang target merangkum hingga 50 buku berbahasa Arab untuk semakin memperkaya referensi bacaan berbahasa Arab. Luqman mengaku, tak bisa berjalan sendiri.

Dukungan orang tua, madrasah, dan pondok pesantren menjadi penyemangatnya selama mengikuti berbagai perlombaan.

”Targetnya 50 buku, realistisnya 35 buku. Semakin banyak membaca, semakin baik untuk persiapan,” katanya.

Di sela kesibukannya sebagai santri, ia memiliki cita-cita mulia, yakni menjadi dosen dan terus mendalami dunia akademik melalui bahasa Arab yang telah ditekuni.

Guru BK MA Qudsiyyah Zidni Ilma Hafi, mengatakan bakat Luqman sudah terlihat sejak masih menempuh pendidikan di MTs Qudsiyyah.

Saat melanjutkan ke jenjang MA, sekolah tinggal mengembangkan potensi yang telah dimilikinya.

Ia mengaku, Luqman bukan hanya unggul dalam bahasa Arab dan membaca kitab, tetapi juga dikenal sebagai pribadi yang disiplin serta memiliki kemauan belajar tinggi.

Anak yang cerdas, tidak pernah neko-neko, disiplin, datang tepat waktu, dan selalu berusaha menguasai pelajaran. 

”Itu yang membuat kami yakin dia (Luqman, Red) mampu terus berkembang,” tandasnya. (*)

Editor : Ali Mustofa
ma qudsiyyah kudus Arabic Reading Challenge (ARC) 2026 Muhammad Luqman Hakim