Mengenal Sosok Safina Lutfiah Zahro, Mahasiswa asal Pati Ini Sukses Bertahan di Kampus Bergengsi Rusia dengan Nilai A Terus tanpa Remedial,

Ali Mustofa • Dipublikasikan Jumat, 24 Juli 2026 | 10:12 WIB
PREDIKAT TERTINGGI: Safina Lutfiah Zahro saat wisuda dengan menerima ijazah merah saat S-1. (DOK PRIBADI)
PREDIKAT TERTINGGI: Safina Lutfiah Zahro saat wisuda dengan menerima ijazah merah saat S-1. (DOK PRIBADI)

Kuliah di salah satu kampus paling bergengsi di Rusia bukan perkara mudah. Hal itu dibuktikan Safina Lutfiah Zahro.

Namun, dia berhasil mendapat nilai A berturut-turut tanpa remidial.

ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati

Mahasiswi asal Desa Bulungan, Tayu, Pati, bernama Safina Lutfiah Zahro kini menempuh studi magister di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO) Rusia.

Kesehariannya pun tak seperti mahasiswi lain di Indonesia. Harus lebih giat belajar. 

Ia membagikan pengalaman menghadapi sistem pendidikan dengan standar akademik yang ketat.

Mulai dari ujian lisan hingga ancaman drop out (DO), jika gagal menyelesaikan mata kuliah sesuai kurikulum.

Perempuan yang lahir pada 4 Maret 2001 itu, mengawali pendidikannya di SMP Negeri 1 Tayu. Kemudian melanjutkan ke SMA Negeri 2 Pare.

Setelah lulus, langkahnya membawanya ribuan kilometer dari kampung halaman menuju Rusia. 

Di Negeri Beruang Merah itu, Safina menempuh pendidikan strata 1 (S-1) di Kazan Federal University pada program studi World and Regional Economics.

Tak berhenti di situ. Setelah menyelesaikan pendidikan tersebut, ia kembali melanjutkan studi magister (S-2) di Moscow State Institute of International Relations (MGIMO). 

Itu salah satu universitas bergengsi di Rusia yang berada di bawah Kementerian Luar Negeri Federasi Rusia.

Di kampus itu, Safina mengambil program Political Economy of Russia-ASEAN Strategic Partnership.

Yaitu sebuah bidang studi yang mempelajari hubungan strategis Rusia dan negara-negara ASEAN dari sisi ekonomi dan politik.

Bagi Safina, kuliah di Rusia menghadirkan tantangan yang jauh berbeda. Dibandingkan sistem pendidikan di Indonesia.

“Lebih sulit di sana (Rusia, Red),” ujarnya.

Salah satu perbedaan paling mencolok adalah masa studi yang bersifat mutlak.

Mahasiswa tidak diperbolehkan mempercepat ataupun memperpanjang masa kuliah.

Program sarjana harus ditempuh selama empat tahun. Sedangkan magister selama dua tahun.

“Di Rusia masa studi sudah ditetapkan. Tidak bisa dipercepat menjadi tiga tahun atau diperpanjang. Sama seperti sekolah. Kalau SD enam tahun ya enam tahun,” tuturnya.

Tak hanya itu, sistem akademik juga menerapkan aturan yang sangat ketat.

Setiap mata kuliah yang telah ditentukan dalam kurikulum wajib dinyatakan lulus pada semester tersebut.

Jika gagal pada satu mata kuliah, mahasiswa tidak dapat melanjutkan ke semester berikutnya dan berisiko dikeluarkan dari kampus alias drop out (DO).

“Kalau ada mata kuliah yang tidak lulus, kami tidak bisa mengulang sesuka hati seperti di Indonesia. Sistemnya langsung berhenti, karena tidak bisa melanjutkan semester berikutnya,” jelasnya.

Tekanan semakin besar ketika menghadapi ujian semester.

Berbeda dengan kebanyakan perguruan tinggi di Indonesia yang menggunakan ujian tertulis, mahasiswa di Rusia diuji secara lisan.

Setiap akhir semester, mahasiswa harus memelajari puluhan hingga ratusan materi.

Saat ujian berlangsung, penguji akan memberikan satu topik secara acak yang harus dijelaskan langsung di hadapan dosen.

Lalu dilanjutkan dengan sesi tanya jawab secara spontan. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
Safina Lutfiah Zahro studi magister mahasiswi asal pati MGIMO Rusia sistem pendidikan