Masyarakat di lereng Pegunungan Muria kini mempunyai potensi ekonomi baru. Melalui pembudidayaan udang galah.
Pengembangan udang galah ini, hasil dari ketekunan Rio Krisdian belajar budidaya sebelum pulang kampung ke Kudus.
GALIH ERLAMBANG, Kudus
WARGA di lereng Pegunungan Muria tepatnya di Desa Dukuh Waringin, Dawe, Kudus, mulai membuat sistem ketahanan pangan dan upaya peningkatan ekonomi.
Dengan pembudidayaan udang galah. Target budidaya ini, digagas untuk memenuhi pasar lokal dan luar negeri.
Pembudidayaan udang galah ini, dilakukan Ngaramen Farm di atas lahan seluas 3,8 hektare. Proses pembudidayaan ini, melibatkan kelompok tani di desa setempat.
Dengan tujuan menguatkan ketahanan pangan serta meningkatkan perekonomian masyarakat.
Dalam pengembangan budidaya udang galah ini, pihak pengelola juga bekerja sama dengan Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kudus.
Lokasi budidaya tersebut, akan dijadikan tempat pendi dikan dan penelitian agro serta pengembangan pakan alternatif untuk udang galah.
Awal mula pengembangan budidaya ini, berawal dari Rio Krisdian yang memang sudah berkecimpung di budidaya udang galah.
Sebelum pulang ke Kudus, dia turut bekerja di tempat budidaya udang galah di Jawa Barat. Setelah ilmu dirasa matang, Rio memutuskan keluar dan pulang ke Kudus.
Di tempat kelahirannya itu, dia mengembangkan budidaya udang galah di atas tanah keluarganya.
Pengelola Ngaramen Farm itu menyampaikan, pembuatan tambak udang galah ini, dibuat sejak Desember 2024 lalu. Dia membawa 150 indukan udang galah.
“Kami membesarkan udang ini, di ketinggian 600 mdpl. Ada orang yang nggak per caya, tapi buktinya udang ini bisa besar,” katanya.
Dia menuturkan, progres pembesaran udang pada tahun pertama, memang belum menikmati hasil panen. Dia lebih memperbanyak bibit udang dan membutuhkan banyak indukan.
Sedangkan pada 2027 nanti, diharapkan sudah tercapai jutaan bibit.
“Target kami bisa jutaan bibit dan mampu menembus pasar ekspor. Kami juga sempat mendapatkan tawaran untuk menyuplai di rumah makan. Tapi fokus kami saat ini, di pembibitan dulu,” ungkapnya.
Pemetaan pasar ekspor telah dilakukan olehnya. Udang galah ini, berpotensi menembus pasar di Korea Selatan. Pembudidayaan udang ga lah ini, dengan sistem bioflok.
Kini, jumlahnya sudah ada 18 unit. Satu unit mampu menampung 2.000 udang. Rion pun berencana akan menambahkan unit bioflok.
Rio menambahkan, dalam proses pembudidayaan udang galah ini, dia tidak menemukan masalah berarti.
Hanya, suhu udara di pegunungan yang cukup dingin, membuat ukuran udang sedikit mengecil.
Harusnya suhu air 29 derajat. Namun di sana, suhu air mencapai 24 derajat.
Untuk itu, dia bekerja sama dengan UIN Sunan Kudus dalam pengembangan penelitian udang galah serta pencarian pakan alternatif.
Dia juga mendistribusikan beberapa bibit udang galah beserta 8 unit biofl ok kepada kelompok tani desa setempat.
Harapannya, kelompok tani bisa mengembangkan udang galah untuk ketahanan pangan dan peningkatan perekonomian.
Dari penelitian, kandungan udang galah memiliki omega 3 tinggi. Hewan air tawar tersebut, juga rendah kolesterol.
Untuk harga menyesuaikan ukuran udang. Per kilogram bisa mencapai Rp 270 ribu. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa