Kegelisahan melihat anak-anak semakin akrab dengan gawai justru mengantarkan Eka Fitriyana Sari menjadi salah satu penggerak literasi di Kudus.
Kini, perempuan 23 tahun itu dipercaya menjadi Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional RI untuk menguatkan budaya baca di daerahnya.
ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus
DI tengah derasnya arus digital yang membuat anak-anak semakin sulit lepas dari layar gawai, Eka Fitriyana Sari memilih jalan berbeda.
Perempuan muda asal Desa Prambatan Lor, Kecamatan Kaliwungu, Kabupaten Kudus itu justru mengabdikan waktunya untuk menumbuhkan kecintaan terhadap buku dan budaya membaca.
Perjalanan Eka di dunia literasi tidak dimulai sejak kecil.
Saat masih duduk di bangku SMK dengan jurusan komputer, ia mengaku belum memiliki ketertarikan khusus pada dunia buku.
Namun semuanya berubah ketika memasuki masa kuliah.
Dari sanalah ia mulai menemukam makna membaca yang lebih luas, bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi juga sarana membangun kualitas generasi.
“Awalnya saya melihat anak-anak sekarang lebih dekat dengan game dan gadget. Dari situ muncul keinginan untuk mengenalkan mereka oada buku dan budaya membaca,” ungkap Eka.
Ketertarikan itu terus tumbuh selama empat tahun terakhir.
Saat menempuh pendidikan Program Studi Pendidikan Guru Madrasah Ibtidaiyah di Fakultas Tarbiyah UIN Sunan Kudus, ia aktif mengikuti Unit Kegiatan Mahasiswa yang fokus pada aktivitas membaca, bedah buku, hingga diskusi literasi.
Kecintaannya terhadap dunia baca kemudian membawanya bergabung dengan sejumlah komunitas di Kudus.
Keseriusannya di bidang literasi akhirnya membuahkan hasil.
Tahun 2026, Eka terpilih sebagai Relawan Literasi Masyarakat (Relima) Perpustakaan Nasional Republik Indonesia.
Program yang baru berjalan sejak 2025 itu bertujuan memperkuat budaya literasi di berbagai wilayah Indonesia melalui pendampingan dan penguatan jejaring literasi.
Menjadi Relima bukan perkara mudah. Calon peserta harus memiliki pengalaman minimal dua tahun di bidang literasi, menyusun esai, serta mengikuti proses seleksi dan wawancara.
Dari Kudus, hanya dua orang yang lolos tahap wawancara.
Sementara secara nasional terdapat 360 peserta terpilih yang tersebar di 322 wilayah.
Dari Kabupaten Kudus, Eka menjadi satu-satunya relawan yang dipercaya menjalankan program tersebut.
“Saya senang sekali bisa diterima. Ini kesempatan untuk berkontribusi lebih luas bagi literasi di Kudus,” katanya.
Selama enam bulan, mulai Juni hingga November 2026, Eka memiliki sejumlah tugas strategis.
Salah satunya membantu inventarisasi data pembangunan literasi masyarakat.
Ia mendata sekolah-sekolah di bawah naungan Kementerian Pendidikan Dasar dan Menengah serta berbagai lembaga penerima bantuan Perpustakaan Nasional RI.
Tak hanya melakukan pendataan, Eka juga bertugas membangun jejariing dengan dinas terkait dan berbagai komunitas literasi.
Setiap bulan ia ditargetkan melaksanakan dua kali kegiatan advokasi, enam kegiatan literasi, serta lima kali inventarisasi data.
Target tersebut menjadi bagian dari upaya memperkuat gerakan membaca di tingkat akar rumput.
Di sela aktivitasnya sebagai Relima, Eka tetap menjalani berbagai kesibukan lain.
Ia mengajar bimbingan belajar, bekerja sebagai freelancer, serta aktif dalam sejumlah komunitas literasi.
Semangat belajar juga terus ia jaga.
Setelah menyelesaikan Program Profesi Guru di IKIP Siliwangi Bandung, kini ia tengah melanjutkan pendidikan magister di Program Studi Pendidikan Dasar Universitas Negeri Semarang (Unnes).
Bagi Eka, literasi bukan sekadar kemampuan membaca dan menulis.
Literasi adalah jalan untuk membuka wawasan, membangun karakter, dan menyiapkan generasi yang lebih siap menghadapi masa depan.
Karena itulah, di tengah era digital yang serba cepat, ia memilih ttap berdiri di antara tumpukan buku, mengajak anak-anak mengenal dunia yang lebih luas lewat lembar demi lembar bacaan.
Dari sebuah kegelisahan sederhana tentang anak-anak yang terlalu akrab dengan gadget, lahirlah sebuah gerakan kecil yang kini menjangkau masyarakat lebih luas.
Melalui perannya sebagai Relima, Eka berharap budaya membaca di Kudus semakin tumbuh dan menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari generasi muda.
“Kalau anak-anak bisa mencintai buku sejak dini, mereka akan memiliki bekal yang kuat untuk masa depan. Itu yang ingin saya perjuangkan,” tuturnya. (dik)
Editor : Andika Trisna Saputra