Tiga atlet asal Jepara bersama pelatih pendamping Suko Hartono berhasil mengharumkan nama Indonesia dengan meraih medali perunggu nomor tim regu putra pada TM ISTAF World Cup Sepaktakraw Kuala Lumpur 2026, sebagai bagian dari persiapan menuju Asian Games Nagoya 2026.
FIKRI THOHARUDIN, Jepara
DI TENGAH gemerlap persaingan ratusan atlet dari 14 negara dalam TM ISTAF World Cup Sepaktakraw Kuala Lumpur, Malaysia, 2026, ada kebanggaan tersendiri bagi Kabupaten Jepara.
Tiga putra daerah berhasil menjadi bagian dari Tim Nasional Sepak Takraw Indonesia, serta turut mempersembahkan medali perunggu pada nomor tim regu event putra.
Ketiga atlet tersebut adalah M. Ubaidur Rohman (18), asal Desa Gidangelo, Kecamatan Welahan.
Serta Dicka Putra Arcanela (21) dari Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan.
Rifqy Puji Santoso (26) yang juga berasal dari Desa Kendengsidialit, Kecamatan Welahan.
Di balik pencapaian mereka, terdapat sosok pelatih pendamping asal Jepara, Suko Hartono (41), warga Kelurahan Saripan, Kecamatan Jepara. Suko, juga merupakan ASN Pemkab Jepara yang bertugas di Disdikpora.
Bagi sang pelatih, keberhasilan membawa pulang medali perunggu bukan sekadar soal raihan.
Prestasi ini, menjadi bukti bahwa sepak takraw Jepara masih memiliki denyut pembinaan yang kuat, meski olahraga tersebut belum sepopuler cabang olahraga lain.
“Syukur Alhamdulillah, dari 15 atlet Indonesia yang diberangkatkan ke Malaysia, ada lima atlet dari Jawa Tengah dan tiga di antaranya berasal dari Kabupaten Jepara. Dua lainnya dari Demak dan Kendal,” ungkapnya pada Sabtu (30/5).
Perjalanan menuju kejuaraan dunia itu tidaklah singkat. Seleksi pelatih nasional sendiri, dimulai sejak Januari 2026.
Sementara seleksi atlet dilaksanakan pada Maret 2026 dan diikuti 93 atlet terbaik dari berbagai daerah di Indonesia.
Dari proses ketat tersebut, hanya 15 atlet yang akhirnya dipilih untuk memperkuat tim nasional.
Suko sendiri dipercaya menjadi salah satu pelatih tim nasional, bersama pelatih dari DKI Jakarta dan Sulawesi.
Setelah seleksi selesai, para atlet tidak langsung menjalani pemusatan latihan.
Training camp baru dimulai pada 14 April hingga 14 Mei 2026 di GOR Cendrawasih, Cengkareng, Jakarta Barat.
Selama sebulan penuh, para atlet digembleng secara fisik, teknik, dan mental sebelum bertolak ke Malaysia.
Mereka kemudian menjalani rangkaian pertandingan, dengan jadwal kompetisi berlangsung pada 16 hingga 23 Mei 2026.
Di antara para atlet Jepara yang memperkuat tim nasional, masing-masing memiliki latar belakang yang berbeda.
Tiga atlet dari Jepara sendiri, ada yang baru lulus dari SMA Negeri Keberbakatan Olahraga (SMANKO) Semarang, Jawa Tengah.
Ada yang masih menempuh kuliah semester empat di Universitas Sebelas Maret Surakarta.
Hingga atlet yang kini telah menjadi anggota Polri dan bertugas di Polda Jawa Tengah.
Perbedaan latar belakang tersebut melebur dalam satu tujuan, mengharumkan nama Indonesia.
Kejuaraan dunia di Kuala Lumpur sendiri menjadi bagian dari rangkaian persiapan menuju target yang lebih besar, yakni Asian Games Nagoya 2026 di Jepang.
Bagi tim nasional Indonesia, World Cup Malaysia menjadi sasaran antara, untuk mengukur kekuatan sekaligus mengevaluasi kesiapan menghadapi persaingan level Asia.
Menurut Suko, secara historis Indonesia memiliki tradisi kuat dalam cabang sepak takraw.
Tim nasional pernah meraih medali emas di berbagai ajang SEA Games dan Asian Games. Bahkan beberapa kali tampil sebagai finalis. Namun saat ini persaingan semakin ketat.
Ia menilai negara-negara seperti Thailand dan Malaysia, memiliki keunggulan karena kompetisi domestik yang berlangsung secara masif dan berkelanjutan.
Kondisi tersebut membuat atlet mereka memiliki pengalaman bertanding, serta jam terbang yang lebih tinggi.
“Kita sebenarnya punya potensi. Faktor kesiapan sangat memengaruhi. Negara lain sudah menjalankan kompetisi yang masif sehingga pengalaman bertanding atlet mereka lebih banyak,” ucapnya.
Meski demikian, Suko optimistis masa depan sepak takraw Indonesia, khususnya Jepara, masih sangat terbuka.
Ia berharap prestasi yang diraih para atlet muda ini mampu membangkitkan perhatian masyarakat. Sekaligus dukungan pemerintah, terhadap cabor yang menjadi lumbung medali Porprov Jawa Tengah sejak awal 2000-an tersebut.
Harapan itu bukan tanpa alasan. Kabupaten Jepara, khususnya Kecamatan Welahan, memiliki fasilitas yang menjadi kebanggaan tersendiri bagi insan sepak takraw.
Di daerah tersebut berdiri gedung olahraga khusus sepak takraw, yang menurut Suko menjadi satu-satunya fasilitas sejenis di Indonesia.
“Bahkan sekelas provinsi, dari 35 provinsi di Indonesia belum ada yang memiliki GOR khusus sepak takraw. Apalagi di tingkat kabupaten dan kota,” ujarnya.
Karena itu, ia berharap sepak takraw dapat semakin memasyarakat dan sejajar dengan cabang olahraga lain.
Dengan semakin banyak anak muda yang mengenal dan menekuni olahraga ini, regenerasi atlet diyakini akan berjalan lebih baik dan prestasi dapat terus berlanjut.
Perjuangan tim nasional pun belum selesai. Setelah membawa pulang medali perunggu dari Kuala Lumpur, fokus berikutnya adalah menghadapi turnamen King's Cup di Bangkok, Thailand, pada 3–13 Agustus 2026.
Setelah itu, seluruh perhatian akan tertuju pada Asian Games Nagoya, yang dijadwalkan berlangsung pada 19 September hingga 4 Oktober 2026.
Bagi Suko Hartono dan tiga atlet asal Jepara, medali perunggu di Kuala Lumpur bukanlah garis akhir.
Medali itu justru menjadi langkah awal menuju mimpi yang lebih besar. Mengibarkan Merah Putih setinggi-tingginya di panggung dunia.(*)
Editor : Admin