Langkah Peka Muria menjaga Habitat Macan Tutul
Menjaga Hutan Pegunungan Muria dan Hidup Berdampingan Dengan Alam
Upaya menjaga nafas hutan Pegunungan Muria gencar digelorakan oleh Yayasan Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria). Aksi tersebut untuk menjaga habitat asli macan tutul sekaligus harapan warga bisa hidup berdampingan dengan alam.
GALIH ERLAMBANG W, Kudus, Radar Kudus
KUDUS- Cuaca di Pegunungan Muria, Desa Colo, Kabupaten Kudus usai diguyur hujan, Sabtu (25/4) dini hari. Esok harinya kabut tipis sempat menyelimuti jalur pendakian menuju kawasan hutan lindung Muria.
Kondisi cuaca tersebut tak menyurutkan langkah Anggota Yayasan Pegiat Konservasi Muria (Peka Muria) Muhammad Athoillah Daniswara, 20 dan Aprilianto Rahayu, 35 menapaki medan Gunung Muria yang gembur usai diguyur hujan. Misi mereka berdua memasang kamera trap.
Kamera yang berbentuk kotak tersebut disimpan di dalam tas ransel. Perangkat pemantau satwa yang berwarna menyerupai pohon itu di pasang di dua sisi, kanan dan kiri batang pohon. Tujuannya agar satwa yang dilindungi, seperti macan tutul terpantau lebih mudah.
Sejauh ini Yayasan Peka Muria telah menempatkan 80 kamera, di 40 titik yang ada di hutan Pegunungan Muria. Penempatan perangkat pemantau satwa tersebut tersebar di Kudus, Jepara, dan Pati.
Hasil riset atau yang dilakukan Peka Muria sepanjang tahun 2020-2025 terdapat 14 ekor macan tutul yang hidup di Pegunungan Muria. Macan tutul tersebut jalur lintasnya di Gunung Muria di daerah Kudus, Pati, dan Jepara.
”Pemasangan kamera ini kami sesuaikan dengan jalur yang kerap dilalui manusia. Karena macan tutul sering melintasi jalan yang sering dilalui manusia,” kata Muhammad Athoillah Daniswara.
Upaya konservasi Pegunungan Muria telah dimulai Peka Muria sejak 2018 silam. Gerakan pertama dengan penanaman pohon di sejumlah titik.
Ketua Peka Muria, Teguh Budi Wiyono menyatakan, konservasi ini dimulai dengan upaya pengembalian hutan dan pemulihan mata air. Jenis pohon yang ditanam antara lain bambu dan ficus.
Proses penanaman yang telah dijalani oleh Peka Muria tak sengaja menjawab tanda tanya yang selama ini menjadi pertanyaan di kawasan Muria itu. Apakah macan tutul masih benar-benar hidup atau mengalami kepunahan?.
Aktivitas satwa langka tersebut terdeteksi dengan adanya ternak milik warga yang tewas menjadi rantai makanan macan tutul. Satwa endemik tersebut turun ke pemukiman, lantaran sebagai tempat perlintasannya.
”Bisa diprediksi kalau macan tutul biasanya makan ternak warga November-Maret untuk di Kudus. Bulan Juli-Agustus ada Desa Tempur, Jepara,” kata Teguh.
Warga di Desa Colo, dari situ akhirnya belajar banyak tentang cara hidup berdampingan dengan satwa. Mau tidak mau, warga tidak bisa mengusir macan tutul dari habitat asalnya.
Masyarakat memikirkan pengamanan ganda agar hewan ternaknya tidak keluar dari kandang. Serta bagaimana macan tutul agar tidak masuk ke dalam kandang.
Di sisi lain, warga juga harus memikirkan penanganan jangka panjang lewat gerakan konservasi Muria. Langkah tersebut merupakan cara menjaga wilayah Muria tetap lestari.
Teguh menambahkan, luasan hutan yang ada di Gunung Muria berkisar 11 ribu hektar. Wilayah hutan yang masih terjaga sekitar dua ribu hektar.
Peka Muria bersama Bakti Lingkungan Djarum Foundation (BLDF) pada tahun lalu berupaya melakukan penanaman pohon. Pemulihan dilakukan menanam pohon di hutan serta dilakukan sistem tumpang sari di lahan pertanian warga dengan menanam tanaman buah. Total pohon yang ditanam 60.321 bibit di Gunung Muria.
”Lewat upaya penanaman tumpang sari secara tidak langsung mengintervensi warga tidak melakukan pembukaan lahan perkebunan kopi hingga wilayah lindung,” katanya.
Konservasi yang dilaksanakan Peka Muria dan BLDF telah menemukan banyak hal di Pegunngan Muria. Satwa endemik dari Gunung Muria selain macan tutul terdeksi. Mulai dari elang jawa, monyet ekor panjang, lutung jawa, trenggiling, serta keberadaan elang jawa yang masih hidup.
Mejaga nafas hutan Muria secara jangka pendek akan memulihkan habitat. Manfaat jangka panjangnya, huntan Pegunungan Muria akan menjalankan fungsinya, mulai dari ekologi, ekonomi, serta hidrologi. (gal)
Editor : Admin