NAMANYA Masrur, Agus Aji dan Ali Anwar, petani milenial asal Desa Karangharjo, Kecamatan Pulokulon, Kabupaten Grobogan, berhasil menghadirkan inovasi Nutriboost, nutrisi cair berbahan limbah akar kedelai yang selama ini terbuang.
INTAN MAYLANI SABRINA, Grobogan.
Masrur bersama dua kawannya (Agus Aji Susanto dan Ali Anwar) dikenal sebagai sosok petani muda yang ulet dan tak mudah puas.
Meski kesehariannya lekat dengan lumpur sawah dan rutinitas bertani, pikirannya selalu dipenuhi ide-ide baru untuk mencari solusi bagi persoalan pertanian di desanya.
Keresahan itu muncul karena mereka melihat semakin banyak petani bergantung pada pupuk subsidi maupun pupuk kimia.
Ketika pupuk subsidi datang terlambat, petani pun tak bisa melakukan pemupukan sesuai jadwal. Akibatnya, tanaman dibiarkan tanpa nutrisi hingga kondisinya menurun.
“Semakin ke sini petani ketergantungan terhadap pupuk subsidi atau kimia. Saat ketersediaan pupuk terlambat, petani tidak bisa melakukan pemupukan. Jadi tanaman dibiarkan seperti kekurangan nutrisi karena menunggu pupuk subsidi tersebut,” ujarsalah satu pencetus ide Nutriboost, Masrur.
Dari situlah Masrur bersama rekan sesama petani milenial di desanya tergerak untuk membuat nutrisi tanaman yang bisa diproduksi sendiri.
Mereka kemudian berdiskusi dengan Balai Penyuluhan Pertanian (BPP) Kecamatan Pulokulon untuk mencari jalan keluar atas permasalahan tersebut.
Upaya mereka mendapat respons positif. BPP Pulokulon kemudian memberikan kesempatan bagi Masrur untuk mengikuti pelatihan di Balai Pelatihan Pertanian Jawa Tengah (Bapeltan) di Temanggung.
Selama lima hari pelatihan, Masrur mendapat pembekalan mulai dari proses awal hingga akhir pembuatan pupuk organik mandiri.
Sepulang dari pelatihan itu, Masrur mulai merancang konsep baru agar produk yang dibuatnya tidak sekadar meniru materi pelatihan, tetapi benar-benar memanfaatkan potensi lokal yang ada di Grobogan.
“Kami punya inovasi bagaimana memanfaatkan produk lokal dari Kabupaten Grobogan. Jadi tidak terikat resep dari Bapeltan. Kita kombinasikan bahan yang ada di sekitar,” jelasnya.
Dari berbagai bahan yang ada, Masrur menemukan ide unik: memanfaatkan limbah akar kedelai varietas Grobogan yang selama ini hanya dianggap sisa panen dan terbuang.
Akar kedelai tersebut kemudian dijadikan bahan utama dalam pembuatan Nutriboost.
Proses pengembangan Nutriboost tidak dilakukan secara instan. Masrur menyebut uji coba dilakukan melalui tahapan fermentasi yang cukup panjang. Uji coba dibagi menjadi dua, yakni fermentasi starter, kemudian fermentasi lanjutan.
Setelah nutrisi cair tersebut jadi, Masrur kemudian menerapkannya ke beberapa jenis tanaman. Salah satu yang menjadi fokus utama adalah padi.
Nutriboost diaplikasikan sekitar dua bulan pada fase vegetatif. Selain padi, uji coba juga dilakukan pada tanaman cabai dan bawang merah.
“Kurang lebih pengaplikasian dari ujicoba pembuatan Nutriboost dua bulan, ujicoba ke tanaman juga dua bulan,” imbuhnya.
Masrur menjelaskan, keunggulan utama Nutriboost terletak pada kandungan bakteri alami rhizobium yang terdapat pada akar kedelai.
Rhizobium dikenal sebagai bakteri yang mampu membantu menambah unsur nitrogen, sehingga mendukung pertumbuhan tanaman.
Bagi Masrur, pemanfaatan akar kedelai bukan hanya soal memanfaatkan limbah, tetapi juga membuka peluang besar bagi pertanian berkelanjutan.
Rhizobium dapat bersimbiosis dengan perakaran tanaman dan membantu menyediakan unsur nitrogen secara alami.
“Simbiosis akan memberikan efek unik. Tanaman bisa menghasilkan pupuk sendiri di perakaran, bisa membuat makanan sendiri. Kandungannya bisa menambah nitrogen hingga bisa dimanfaatkan untuk tanaman,” jelasnya.
Hasil uji coba pun mulai terlihat saat Masrur melakukan demplot pada tanaman padi. Dalam penerapan tersebut, Nutriboost disemprotkan dengan interval satu pekan sekali.
Menariknya, sejak awal tanam hingga panen, demplot tersebut sama sekali tidak menggunakan pupuk kimia.
Hasil panen yang didapat justru mengalami peningkatan. Jika sebelumnya produksi padi rata-rata hanya 16 hingga 17 karung, setelah menggunakan Nutriboost terjadi tambahan sekitar tiga karung.
Menurutnya, inovasi tersebut sangat potensial dikembangkan karena bahan dasarnya cukup tersedia di Grobogan.
Selain itu, produksi Nutriboost juga tidak harus terus-menerus menggunakan akar kedelai baru. Rhizobium dapat dikembangbiakkan sehingga produksi tetap bisa berjalan.
“Untuk keberlanjutannya cukup tersedia. Karena pemanfaatannya seperti mengembangbiakkan bakteri yang ada di akar kedelai.
Jadi tidak selalu harus menggunakan akar kedelai, selagi masih punya bakteri rhizobium yang dikembangbiakkan dari akar kedelai itu, masih bisa produksi Nitroboost,” paparnya.
Masrur juga menilai dampak lingkungan dari penggunaan Nutriboost sangat positif.
Pengurangan pupuk kimia diyakini mampu menekan degradasi lahan serta menjaga kesuburan tanah dalam jangka panjang.
“Ketika Nitroboost diaplikasikan secara aktif pada tanaman, ini akan mengurangi penggunaan pupuk kimia. Sehingga akan memberikan dampak positif bagi tanaman dan lingkungan,” ujarnya.
Dengan semakin minimnya pupuk kimia, tanah akan lebih terjaga dan unsur hara lebih stabil. Kehadiran bakteri baik di dalam tanah juga dapat membantu tanah tetap produktif.
Tak hanya menyehatkan tanaman, Nutriboost juga memiliki kelebihan lain. Masrur menyebut produk ini turut dikembangkan dengan campuran Zat Pengatur Tumbuh (ZPT), daun mimba, serta minyak cengkeh. Kombinasi itu menimbulkan aroma khas yang membuat tikus enggan mendekat.
“Kelebihannya, tikus nggak berani nyerang. Dari baunya karena pengembangan ZPT, daun mimba dan minyak cengkeh,” katanya.
Saat ini, produk Nutriboost sudah cukup ramai dibicarakan di kalangan petani.
Masrur mengaku telah berkomunikasi dengan gabungan kelompok tani (Gapoktan) Desa Karangharjo, dan mendapat dukungan agar produk tersebut bisa disebarluaskan di lingkungan mereka.
Mereka berharap ke depan Nutriboost bisa diproduksi lebih besar dan dimanfaatkan secara luas. Ia juga ingin petani bisa membuat sendiri nutrisi cair tersebut agar biaya perawatan tanaman bisa ditekan.
Namun ia mengakui, kendala terbesar saat ini adalah modal. Produksi Nutriboost masih dilakukan secara terbatas dengan sistem iuran bertiga.
Bahkan, tidak jarang produk diberikan secara cuma-cuma ketika ada petani yang membutuhkan.
“Kendalanya pada modal. Selama ini iuran bertiga. Kalau ada yang minta, kadang dikasihkan cuma-cuma,” ungkapnya.
Berkat inovasi Nutriboost ini juga berhasil meraih Juara 1 Kategori Umum Krenova Grobogan 2026, sekaligus menjadi bukti bahwa petani muda tidak hanya bekerja di sawah, tetapi juga mampu menghadirkan solusi inovatif dari bahan yang selama ini dianggap limbah. (*)
Editor : Admin