Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Inflasi Rembang Naik 0,53 Persen, Hal Ini Jadi Pemicu Utama

Mahendra Aditya Restiawan • Rabu, 1 April 2026 | 18:59 WIB
Ilustrasi uang rupiah
Ilustrasi uang rupiah

 

REMBANG – Laju inflasi di Kabupaten Rembang pada Maret 2026 menunjukkan kenaikan yang cukup terasa di level bulanan. Data yang disampaikan oleh Badan Pusat Statistik melalui Kepala BPS Rembang, Jubaedi, mencatat inflasi month-to-month (m-to-m) sebesar 0,53 persen.

Tak hanya itu, inflasi sejak awal tahun (year-to-date/y-to-d) berada di angka 1,07 persen, sementara inflasi tahunan (year-on-year/y-on-y) menyentuh 3,52 persen. Angka ini mencerminkan tekanan harga yang mulai meningkat, terutama menjelang periode hari besar keagamaan.

Menurut Jubaedi, kelompok pengeluaran yang paling dominan mendorong inflasi bulanan adalah sektor makanan, minuman, dan tembakau dengan kontribusi sebesar 0,34 persen. Kenaikan ini tak lepas dari meningkatnya kebutuhan masyarakat selama Ramadan hingga menjelang Idulfitri.

Sejumlah komoditas menjadi penyumbang utama kenaikan harga, di antaranya daging ayam ras, telur ayam, minyak goreng, ikan bandeng, hingga kelapa. Selain itu, faktor non-pangan seperti bensin, tarif angkutan antarkota, hingga perangkat telepon seluler juga ikut memberi tekanan terhadap inflasi.

Namun, jika dilihat secara tahunan, kelompok perumahan, air, listrik, dan bahan bakar rumah tangga justru menjadi kontributor terbesar inflasi dengan andil mencapai 1,17 persen. Dalam kelompok ini, tarif listrik menjadi faktor dominan yang mendorong kenaikan harga secara signifikan.

Sementara itu, kelompok makanan, minuman, dan tembakau tetap menjadi penyumbang besar inflasi tahunan dengan kontribusi 1,06 persen. Komoditas seperti beras, daging ayam, ikan, serta rokok kretek mesin menjadi faktor utama dalam kelompok ini.

Tak kalah penting, kelompok perawatan pribadi dan jasa lainnya turut menyumbang inflasi sebesar 0,57 persen, terutama dipicu oleh kenaikan harga emas perhiasan yang cenderung mengikuti tren global.

Dalam paparannya, BPS juga menyoroti sejumlah faktor musiman yang memperkuat tekanan inflasi. Ramadan dan Idulfitri menjadi momen dengan lonjakan permintaan yang signifikan terhadap berbagai kebutuhan pokok. Hal ini secara langsung mendorong kenaikan harga di pasar.

Selain itu, kondisi cuaca buruk turut memengaruhi sektor perikanan. Produksi ikan menurun akibat gelombang tinggi dan cuaca ekstrem, sementara permintaan justru meningkat. Kombinasi ini menyebabkan harga ikan laut mengalami lonjakan.

Di sisi lain, kenaikan harga bahan bakar minyak (BBM) nonsubsidi sejak awal Maret 2026, termasuk Pertamax yang mencapai Rp12.300 per liter, turut memberikan efek berantai terhadap biaya distribusi barang dan jasa.

Menjelang arus mudik Lebaran, tarif angkutan antarkota juga mengalami penyesuaian. Tingginya permintaan transportasi membuat harga tiket melonjak, yang kemudian ikut menyumbang inflasi dari sektor jasa.

Secara keseluruhan, inflasi di Rembang masih berada dalam kategori terkendali, namun tekanan dari faktor musiman dan energi menjadi perhatian utama. Pemerintah daerah diharapkan terus memantau stabilitas harga, terutama pada komoditas pangan strategis.

Ke depan, pengendalian inflasi akan sangat bergantung pada kestabilan pasokan, kondisi cuaca, serta kebijakan harga energi. Tanpa intervensi yang tepat, lonjakan harga berpotensi berlanjut pada bulan-bulan berikutnya.

Editor : Mahendra Aditya
#inflasi rembang 2026 #data BPS rembang #kenaikan harga pangan #tarif listrik naik #inflasi ramadan