Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Gerakan Lingkungan di Jati Kulon Kudus, Sampah Plastik Disulap Jadi Sumber Penghasilan

Andika Trisna Saputra • Rabu, 11 Maret 2026 | 15:46 WIB

SETOR: Warga setempat menyetorkan sampahnya ke Bank Sampah RW 2 Jati Kulon untuk ditabung, belum lama ini. (BANK SAMPAH JATI KULON UNTUK RADAR KUDUS)
SETOR: Warga setempat menyetorkan sampahnya ke Bank Sampah RW 2 Jati Kulon untuk ditabung, belum lama ini. (BANK SAMPAH JATI KULON UNTUK RADAR KUDUS)

Kini bank sampah yang ia rintis berkembang dan memberi nilai ekonomi bagi ratusan warga.

Banjir yang dulu kerap membawa tumpukan sampah di Desa Jati Kulon mendorong Sri Setuni memulai gerakan pengelolaan sampah.

ANDIKA TRISNA SAPUTRA, Kudus

DI tengah permukiman RW 2 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati, sebuah gerakan pengelolaan sampah berbasis masyarakat tumbuh dan memberi dampak nyata.

Gerakan tersebut digerakkan oleh Sri Setuni, koordinator Bank Sampah RW 2 yang konsisten mengedukasi warga agar sampah tidak lagi berakhir di sungai.

Bank sampah tersebut kini menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Dengan sistem “menabung sampah”, warga bisa menyetorkan sampah anorganik dan mencairkan hasilnya setiap tahun menjelang Ramadan.

Sri Setuni menuturkan, gerakan bank sampah yang ia jalankan berawal dari keresahannya terhadap kondisi lingkungan.

Ia mengingat, saat masih kecil wilayah Jati Kulon kerap dilanda banjir yang membawa banyak sampah hingga menumpuk di sekitar permukiman.

Kondisi tersebut mendorongnya memulai gerakan kecil pada 2012.

Saat itu ia memasang spanduk bertuliskan “kaline resik, uripe becik” di beberapa titik pinggir sungai sebagai ajakan menjaga kebersihan.

Namun upaya tersebut belum sepenuhnya berhasil karena kebiasaan membuang sampah sembarangan masih terjadi.

Ia kemudian memilih pendekatan lain dengan mengedukasi warga agar mengolah sampah menjadi produk daur ulang yang memiliki nilai jual.

“Alhamdulillah dari kegiatan daur ulang ini kami bisa merekrut tenaga kerja warga, terutama ibu-ibu. Mereka jadi punya kegiatan sekaligus tambahan penghasilan,” tuturnya.

Sri Setuni menjelaskan, kegiatan bank sampah dibuka secara rutin dua kali dalam sebulan, yakni pada minggu kedua dan minggu keempat.

Warga yang menjadi nasabah diminta menyetorkan sampah anorganik ke lokasi pengumpulan yang berada di rumah ketua RW.

Setiap sampah yang disetorkan akan ditimbang terlebih dahulu sebelum dicatat sebagai tabungan warga.

Setelah itu, data setoran diserahkan kepada koordinator untuk dicatat secara terpusat.

“Sistemnya menabung sampah. Warga RW 2 yang setor sampah akan ditimbang dan dicatat. Kemudian data setoran disampaikan kepada saya sebagai koordinator,” ujar Sri Setuni.

Jenis sampah yang diterima umumnya berupa sampah anorganik kering yang masih memiliki nilai jual, seperti botol plastik, kardus, kertas, logam, hingga gelas plastik bening.

Namun sampah yang tidak memiliki nilai jual seperti bungkus kopi atau plastik kemasan tetap diterima untuk diolah menjadi kerajinan tangan.

Melalui pelatihan yang dilakukan secara berkala, warga diajari memanfaatkan limbah plastik menjadi berbagai produk kerajinan bernilai ekonomi.

Kegiatan tersebut bahkan pernah mampu menyerap lebih dari sepuluh tenaga kerja dari kalangan ibu-ibu sebelum pandemi.

“Setiap bank sampah buka, kami juga sekalian edukasi membuat kerajinan dari sampah plastik. Ada yang melipat, menjahit, hingga merangkai produk. Jadi masing-masing warga punya tugas sendiri,” jelasnya.

Di Bank Sampah RW 2, sistem tabungan sampah yang diterapkan bersifat tahunan.

Artinya, setiap setoran warga akan dikumpulkan selama satu tahun dan tidak langsung diuangkan.

Harga sampah bervariasi sesuai jenisnya.

Botol plastik dihargai sekitar Rp 1.800 per kilogram, kardus Rp 2.000 per kilogram, duplek Rp 700 per kilogram, aluminium Rp 15.000 per kilogram, gelas plastik bening Rp 2.000 per kilogram, serta besi sekitar Rp 4.000 per kilogram.

Setelah satu tahun terkumpul, tabungan sampah tersebut biasanya dicairkan pada bulan Ramadan.

Warga kemudian menerima uang sesuai dengan jumlah dan jenis sampah yang mereka setorkan sepanjang tahun.

“Biasanya pencairan kami lakukan saat Ramadan seperti sekarang. Nilainya ada yang belasan ribu sampai ratusan ribu rupiah, tergantung jumlah tabungan sampahnya,” ungkapnya.

Pada Ramadan tahun ini, pencairan kembali dilakukan dengan jumlah nasabah lebih dari 100 warga di RW 2 Jati Kulon yang rutin menyetorkan sampah setiap bulan.

Seiring waktu, program bank sampah yang awalnya hanya satu unit di tingkat desa kemudian berkembang.

Setelah adanya kebijakan dari Pemerintah Kabupaten Kudus agar pengelolaan bank sampah dilakukan di tingkat RT atau RW, sistem tersebut dipecah.

Sejak Februari lalu, Desa Jati Kulon kini memiliki enam bank sampah yang dikelola di masing-masing RW.

Bagi Sri Setuni, perkembangan tersebut menjadi bukti bahwa gerakan kecil yang dimulai dari kepedulian terhadap lingkungan bisa tumbuh menjadi gerakan bersama yang memberi manfaat luas bagi masyarakat. (dik)

Editor : Ali Mustofa
#banjir #peduli lingkungan #bank sampah #nabung sampah #Gerakan