Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Maria Leoni, Cindo yang Memutuskan Memeluk Islam Bermula dari Dengarkan Azan di Televisi

Fikri Thoharudin • Jumat, 20 Februari 2026 | 17:50 WIB
Maria Leoni atau Tan Swan Chu (38).
Maria Leoni atau Tan Swan Chu (38).

RADAR KUDUS - Tak ada hal yang benar-benar sederhana di dunia ini. Semua memiliki ihwal yang berarti.

Maria Leoni adalah salah satu orang yang telah membuktikannya. Sebuah kebesaran acapkali dapat direngguk dari hal-hal yang terlampau sederhana.

Ia memutuskan menjadi mualaf di usia muda. Alasannya hampir tak masuk akal: Suka mendengar lantunan azan.

SENYUM Maria Leoni mekar, saat ditanya bagaimana kisahnya hingga yakin untuk masuk agama Islam. Perempuan 38 tahun bernama Cina, Tan Swan Chu ini, mengalami revolusi spiritual yang tak biasa.

Sikapnya yang lembut, membuatnya mendapatkan hidayah dari hal yang tak dinyana-nyana. Kebiasaan dan kegemaran mendengarkan lantunan azan dari televisi menyentuh kedalaman kalbunya. 

Seruan untuk menunaikan salat yang kerap didengarnya menjelang Maghrib tersebut mengetuk hati. Sampai pada akhirnya memutuskan diri menjadi mualaf, sebagai seorang Muslim Tionghoa.

"Dorongannya ya itu, mendengar Azan Maghrib. Dari kecil hingga SMP sering nunggu di depan TV. Syahdu," ungkapnya saat ditemui pada Selasa (17/2) di Masjid Besar Walisongo, Pecangaan.

Bermula dari situ, ia pun bertanya-tanya kepada teman sekolahnya. Bahkan ikut pergi ke musala untuk salat.

"Ya sering dibilangi teman. Koe ngapain sih, koe kui Cina, ojo sholat (Kamu itu ngapain sih, kamu itu Cina, jangan salat, red)," kenangnya.

Namun, pribadinya yang teguh dalam keinginan itupun tak mau berhenti begitu saja. Ia semakin penasaran atas dorongan spiritual yang dirasakannya. 

"Ya, saya itu kalau sudah punya keinginan, harus saya kejar. Waktu itu (mualaf, red) dibantu teman saja," katanya.

Syahadat diucapkannya dalam suasana yang biasa-biasa saja. Tanpa disaksikan oleh orang khusus. Termasuk keluarga. Umurnya waktu itu 17 tahun.

Bermula dari situ, ia kemudian belajar rukun-rukun Islam. Tak hanya dipelajari, namun juga dipraktikkan. 

Karena wajah Cinanya yang begitu kentara, semula ia malu-malu mengenakan hijab. Namun perlahan-lahan jadi istiqamah sampai saat ini.

Maria Leoni lahir di Pemalang, dengan darah Pekalongan yang didapat dari sang ayah.

Sejak kecil ia hidup dalam lingkungan keluarga Tionghoa. Wajar jika di awal masanya memeluk Islam, masih merasakan adanya culture shock.

Jauh sebelumnya, kedua orang tuanya—ayah bernama Tan dan sang ibu Li—telah wafat. Saat itu, Leoni ikut tinggal bersama tantenya dari jalur keluarga ibu.

Meskipun tak sepenuhnya dimarahi, namun sikapnya dalam menjalankan ajaran Islam sempat menimbulkan ketegangan.

Leoni, belajar mengaji pada malam hari, selepas Isya. Hijab yang ia kenakan saat mengaji disembunyikan di dalam tas sebelum pulang. 

“Make hijab lalu dilepas. Dan seterusnya,” singkatnya.

Hingga dirinya memilih untuk tetap mengenakannya. 

Keputusan tersebut menyulut konflik. Sang tante marah. Tidak karena Leoni masuk Islam, namun karena ia terlihat sebagai Muslim.

"Cici bilang, masuk Islam boleh, tapi jangan pakai jilbab. Malu. Karena wajah saja Cina," ucapnya. 

Alumni Fakultas Kesehatan Masyarakat Undip ini kemudian menikah dengan warga Desa Troso, Kecamatan Pecangaan pada tahun 2011. Serta hijrah ke Jepara setahun setelahnya.

"Ya sempat culture shock awal-awal di sini, pengin pulang. Karena di Jepara sini di desa, dulu saya waktu di Pemalang tinggal di kota. Cari makanan perak (dekat, red)," ucapnya.

Saat ini ia merintis dan mengembangkan usaha Kain Tenun Troso, bersama suaminya. Termasuk memberdayakan warga sekitar sebagai mitra.

Memasuki bulan Ramadhan seperti saat ini, membuatnya semakin terdorong untuk beribadah. Sebagaimana Ramadhan tahun-tahun sebelumnya.

"Jika hari-hari biasa malas membaca Alquran, Ramadhan seperti ini saya pribadi lebih banyak mengaji. Salat malam," ujarnya.

Leoni yang kini merupakan ibu dari tiga anak, merasa bersyukur atas berkah yang diterimanya.

"Alhamdulillah sudah mendaftar haji juga pada 2015 lalu. Sudah umrah dua kali, pertama tahun 2019 bersama suami dan yang kedua tahun 2025 lalu," sebutnya.

Ia pun merasakan kedamaian bisa berziarah ke Makkah dan Madinah. Ke makam Rasulullah. "Kalau bisa setiap tahun selalu ke sana. Umrah itu kayak curhat, melaporkan masalah kepada Allah," terangnya.

Kini ia juga aktif, mendampingi mualaf lain secara personal. Serta mengemban amanat sebagai Bendahara Perkumpulan Islam Tionghoa Indonesia (PITI) Jawa Tengah.

Ia juga berharap, dapat istiqamah dalam kebaikan. "Allah sering mempermudah. Saya gak pernah kepikiran juga bisa punya buyer (pembeli kain tenun, red) dari luar negeri, ibaratnya kadang mustahil tapi terjadi," pungkasnya.(*)

Editor : Mahendra Aditya
#azan #jateng #cina #jepara #mualaf #tionghoa #piti