RADAR KUDUS - Nama Mahdis kian dikenal sebagai salah satu butik fashion perempuan di Grobogan.
Di balik brand tersebut, ada sosok Marisa Wulandari, perempuan yang membangun Mahdis dari hobi, konsistensi, dan kecintaan pada dunia fashion.
Mahdis resmi berdiri sejak Maret 2023, namun perjalanan Marisa di dunia fashion telah dimulai jauh sebelumnya.
Alumni Public Relation Universitas Diponegoro (Undip) angkatan 2007 ini mengaku telah menyukai fashion sejak masa kuliah. Gaya berpakaiannya yang khas bahkan kerap menjadi perhatian teman-teman kampus.
“Dari dulu aku memang hobi banget sama fashion. Awalnya cuma buat nambah uang saku,” kenang perempuan kelahiran 14 Maret 1989 tersebut.
Meski kini berkarier sebagai Kepala BCA KCP Blora, Marisa tetap konsisten merawat mimpinya. Dengan modal keyakinan dan niat besar, ia membangun Mahdis dari nol.
Hampir seluruh proses awal dikerjakan sendiri, mulai dari desain produk, hijab, hingga detail kemasan.
Namun, perjalanan itu tak selalu mudah. Tantangan terbesar yang ia hadapi adalah menjaga kualitas di tengah keterbatasan, terutama saat harus menangani banyak hal secara mandiri.
Dengan ketekunan dan konsistensi menjadi kunci hingga Mahdis perlahan berkembang dan kini memiliki tim yang tumbuh bersama.
Menurut Kepala BCA KCP Blora ini, nama Mahdis sendiri memiliki makna personal bagi Marisa. Brand tersebut diambil dari nama anak perempuannya.
“Mahdis itu bukan cuma bisnis. Ada rasa, ada cinta, dan ada doa,” ujarnya.
Pemilihan nama itu sekaligus menjadi pengingat akan tanggung jawab besar dalam membangun brand yang berkarakter dan memiliki identitas kuat.
Filosofi Mahdis pun dirumuskan dengan jelas: setiap perempuan berhak tampil cantik, anggun, dan mewah, tanpa harus terbebani oleh harga.
Konsep luxury look with affordable price menjadi ciri utama Mahdis. Melalui konsep tersebut, Mahdis ingin menjangkau semua kalangan perempuan yang ingin tampil elegan dan percaya diri.
Dalam menjaga kualitas, Marisa dikenal detail dan teliti. Ia terlibat langsung dalam pemilihan bahan, pengecekan jahitan, hingga proses finishing.
Baginya, kualitas adalah bentuk tanggung jawab kepada pelanggan.
Di tengah tren fashion yang cepat berubah, Marisa memilih untuk tidak sekadar mengikuti arus.
Ia menyesuaikan tren yang selaras dengan karakter Mahdis. Elegan, anggun, dan timeless—agar koleksi dapat dikenakan dalam jangka panjang.
Media sosial juga berperan besar dalam perkembangan Mahdis.
Melalui konten yang real dan dekat dengan keseharian, Marisa membangun kepercayaan serta kedekatan dengan pelanggan.
Salah satu momen paling berkesan baginya adalah saat Mahdis mengikuti pameran expo di Alun-alun Purwodadi.
Dari kegiatan tersebut, Mahdis semakin dikenal dan diterima masyarakat Grobogan.
Kini, Butik Mahdis berlokasi di Ruko Jalan Gajahmada, tepat di samping BPJS Ketenagakerjaan dan depan Polres Grobogan.
Dari ruko sederhana itu, Marisa terus menata langkah ke depan, membangun sistem yang lebih profesional, memperluas jangkauan pasar, dan menghadirkan koleksi yang semakin lengkap.
Bagi Marisa, kunci bertahan di bisnis fashion adalah konsistensi, kualitas, dan identitas brand yang kuat.
“Jangan takut mulai. Aku juga mulai dari kecil. Yang penting niat, konsisten, dan terus belajar. Dalam bisnis, bukan siapa yang paling cepat, tapi siapa yang paling tahan uji,” pesannya.
Dari Grobogan, Marisa Wulandari membuktikan bahwa mimpi yang dirawat dengan kesungguhan dapat tumbuh menjadi karya yang bermakna—seperti Mahdis, yang lahir dari cinta dan keteguhan seorang perempuan. (int)
Editor : Ali Mustofa