Puluhan warga dari berbagai usia turun ke tambak untuk menangkap bandeng dengan tangan kosong.
ANDRE FAIDHIL FALAH, Pati.
KEMARIN sore tambak bengkok milik kepala Desa Bakaranwetan, Juwana, Pati, tak lagi tenang seperti biasanya.
Air yang semula bening dan tenang mendadak bergolak oleh tawa, teriakan, dan cipratan air.
Anak-anak hingga mbah-mbah berlarian di antara lumpur yang licin itu.
Tangan mereka meraba, menyambar, lalu mengangkat ikan bandeng yang berusaha meloloskan diri.
Kaus lusuh yang diikat tali rafia di pinggang menjadi kantong sederhana tempat menyimpan hasil tangkapan, ikan bandeng.
Di sinilah gogo bandeng hidup lagi. Sebuah tradisi lama yang telah diwariskan dari generasi nelayan dan petani tambak Desa Bakaranwetan.
Bukan sekadar atraksi, bukan pula perlombaan semata, melainkan ritual kebersamaan yang setiap tahun menjadi jantung kemeriahan Festival Berkat Bandeng.
Tak ada jaring. Tak ada seser. Tak ada alat lain yang boleh membantu. Hanya tangan kosong, naluri, dan kecekatan membaca arah lari bandeng yang gesit.
”Memang harus tangan kosong. Mbah-mbah dulu panen raya dengan cara menguras air, lalu di-gogo ramairamai,” kata Kepala Desa Bakaranwetan Wahyu Supriyo sambil mengawasi warganya yang makin tenggelam dalam keriuhan sore itu.
”Sekarang zaman modern, nangkap bandeng bisa pakai jaring supaya cepat. Tapi tradisi ini tetap kami jaga,” imbuhnya.
Gogo bandeng ini, sebenarnya tradisi panen bersama. Namun, dikemas dengan tradisi turun-temurun.
Dulu, ritual ini menjadi bagian dari manganan sigit, sebuah acara adat yang kemudian berkembang menjadi Festival Berkat Bandeng.
Bagi warga, gogo bandeng bukan hanya menangkap ikan.
Namun, sekaligus pengingat bahwa nenek moyang dulu bekerja bersama, tanpa sekat, tanpa alat modern, saling membantu demi rezeki dari tambak.
Dalam festival yang berlangsung tiga hari itu, menjadi salah satu agenda paling ditunggu.
Sebelum gogo bandeng digelar, rangkaian kegiatan lain telah membuka perayaan.
Ada kirab petani tambak, sarasehan rembuk kali, bersih sungai, hingga prosesi bancaan wiwit panen.
Dari tepi tambak, Maskan, seorang warga yang sudah bertahun-tahun ikut gogo bandeng melempar tawa sambil memperlihatkan dua ekor bandeng yang berhasil ia tangkap.
”Nangkap ikan itu enggak mudah,” katanya sambil mengusap lumpur di lengannya. ”Tapi kalau sudah biasa, kita tahu ke mana ikan lari,” sambungnya.
Hasil tangkapannya nanti akan ia masak bersama keluarga. Seperti tradisi setiap tahun.
Anak-anak tak mau kalah. Meski sering terpeleset, tangan-tangan kecil mereka terus mencoba meraih ekor bandeng yang licin.
Beberapa dari mereka tertawa puas ketika berhasil membawa pulang satu ekor. Kemenangan kecil yang akan mereka ingat lama.
Wahyu Supriyo menambahkan, Festival Berkat Bandeng bukan hanya pesta rakyat. Ada makna-makna yang tetap dipelihara.
Berupa wujud syukur atas hasil panen tambak yang menjadi tulang punggung ekonomi warga Juwana.
Selain itu, juga menjadi simbol gotong royong. Sebab, semua orang turun bersama ke tambak tanpa melihat usia.
”Ini juga ajang silaturahmi. Festival menjadi tempat warga berkumpul, saling menyapa, dan melepas penat,” paparnya.
Dan yang terpenting, upaya melestarikan ekologi tambak.
Sebab, pengelolaan tambak yang baik adalah kunci keberlanjutan sektor perikanan di daerah pesisir ini. Ada yang bilang, berani kotor itu baik.
Warga desa itu, menjadikan lumpur yang menempel di tubuh menjadi simbol kegembiraan.
Juga ajang silaturahmi. Karena bagi warga Bakaranwetan, gogo bandeng bukan sekadar tradisi.
Selama lumpur masih ada dan selama bandeng masih dilestarikan, tradisi ini akan dijaga agar terus hidup.
Editor : Ali Mustofa