Jika ada sepuluh orang yang secara konsisten menyuarakan kelestarian alam Karimunjawa, maka dapat dipastikan satu di antaranya adalah Bambang Zakaria.
Pria berdarah Bugis yang akrab disapa Bang Jack ini jamak dikenal, sebagai orang yang garang, menolak apapun yang merusak dan merenggut ekosistem laut maupun ruang-ruang hidup nelayan, masyarakat Kepulauan Karimunjawa.
Uang tawaran Rp 1 miliar bukanlah satu hal yang berharga di matanya, sebab alam adalah harga mati, sepaket warisan untuk anak cucu.
FIKRI THOHARUDIN, JEPARA, Radar Kudus
SENYUM ramah Bambang Zakaria, 57, mengembang saat didatangi di kediamannya di Desa Kemujan, Karimunjawa, pada Minggu (2/11) malam. Tangannya menjabat erat seraya mempersilakan untuk bergegas mencicipi aneka olahan ikan khas masakan orang Bugis.
Suasana malam yang dingin saat itu berubah menjadi hangat. Bang Jack sapaan akrabnya, menceritakan asal usul kedatangan sukunya, orang Bugis beserta suku-suku lain, Jawa, Madura, Mandar, Buton, maupun Bajau. Hingga akhirnya lebur, menjadi masyarakat Karimunjawa.
"Karimunjawa bukan pulau kosong," tegasnya. Untuk itulah ia terus bergerak, sepi ing pamrih rame ing gawe, memperjuangkan lingkungan yang asri. Selama bertahun-tahun, ia mewakafkan hidupnya untuk kelestarian alam, melalui kerja-kerja sosial dan budaya.
"Saya belajar dari sejarah, leluhur kami yang notabene suku Bugis, kok bisa sampai ke Karimunjawa. Kemudian bisa mempertahankan hidup dan berkembang, sementara beberapa era yang dilewati oleh keturunan dahulu, sebelumnya, tidak pernah tergantung dari mana-mana," kenangnya.
Dari renungan tersebut ia terpantik untuk memegang teguh nilai, mempertahankan hidup dari alam dan lingkungan. "Itu yang membuat saya kuat dan keras untuk melawan siapa saja yang mau merusak (alam, Red) sebab itu adalah hidup kami," tegasnya.
Pesan untuk menjaga lingkungan itulah yang merawat hidupnya sampai sekarang, hingga ia kini berstatus sebagai bapak dari dua anak.
"Sebab, lingkungan menjaga hidup kami, lebih jauh, suku Bugis datang ke Karimunjawa, berlayar. Laut adalah ibu sejati, ibu yang mengajari kami. Laut juga yang membesarkan kami, menguatkan otot-otot kami," katanya.
Menurutnya, rusaknya alam dimulai dari rusaknya budaya. Sehingga ia menempuh kerja-kerja sosial dan kebudayaan untuk mengedukasi dan mengajak masyarakat agar bergotong royong menjaga alam.
"Waktu kami bergerak melawan tambak udang ilegal, kami juga mengedukasi masyarakat melalui budaya, dari mulut ke mulut. Bukan melawan, tapi untuk sadar, laut mulai tercemar (limbah, Red) dan hidup dipertaruhkan," ujarnya.
Saat itu terdapat setidaknya 33 titik tambak udang ilegal, sementara per titik memiliki luas yang beragam, ada yang mencapai 40 petak. Itu tersebar di Desa Kemujan dan Karimunjawa.
"Tambak udang berdampak banyak, membuat terumbu karang rusak, biota kami pun banyak yang mati. Tak sedikit rumah yang berdekatan dengan tambak udang mengeluh, di samping bau yang menyengat, perabot yang terbuat dari metal atau besi karatan, karena air asin dikincir menguap ke rumah-rumah masyarakat. Sumur berubah menjadi payau tidak tawar lagi, ikan di karamba apung banyak yang mati, nelayan pun resah," jelasnya.
Saat itu ia bergerak secara masif bahkan sampai ke pengadilan. Termasuk mengedukasi masyarakat agar tidak menjual tanahnya jika akan digunakan menjadi tambak udang, hingga kemudian diketahui tambak ini tak berizin dan ada empat tersangka yang divonis penjara.
"Namun, dalam proses advokasi ini, juga terdapat kawan kami Daniel Frits Maurits, sesama pegiat lingkungan, dikriminalisasi atas tuduhan penyebaran informasi kebencian untuk kelompok masyarakat tertentu pada Kamis, 4 April 2024 oleh Pengadilan Negeri (PN) Jepara. Daniel yang bukan merupakan warga asli Karimunjawa sempat dikenakan UU ITE," sebutnya.
Tak hanya itu, ia sendiri pun ditawari uang senilai Rp 1 miliar oleh salah satu pihak. Dengan catatan, agar dirinya membuat sikap dan pernyataan bahwa 'Karimunjawa baik-baik saja dengan adanya tambak udang'.
Namun di matanya, uang hanya uang, bisa habis dan membuat petaka. Ia tidak mau kelestarian alam Karimunjawa tergadai.
Hingga akhirnya seluruh tambak udang, baik di Karimunjawa maupun Kemujan ditutup sampai sekarang.
"Limbahnya sangat mencemari laut kami. Kami waktu itu membuat aksi, masuk ke kantor Balai Taman Nasional (BTN) untuk memberi tuntutan; tutup tambak udang atau BTN keluar saja dari Karimunjawa. Hingga pihak Gakkum KLHK turun, sampai ada tersangka dan tambak ditutup total," jelasnya.
Tak hanya itu, kerja-kerja kelestarian lingkungannya bukan memerangi pemodal yang hanya ingin mengeruk intan permata dari Karimunjawa. Tapi kepada siapapun yang ingin menyisihkan warga dan masyarakat setempat.
"Setiap ada kegiatan apapun yang merusak, tidak sinkron dengan kearifan lokal kami, saya perjuangkan. Termasuk penggunaan racun untuk mencari ikan yang menyebabkan karang kami mati, atau penggunaan bom, maupun kapal tongkang yang merusak karang. Termasuk sejak akhir 1980-an, saat BTN mulai masuk di sini, mereka meletakkan banyak patok secara sewenang-wenang juga kami tentang. Hingga akhirnya ada kesepakatan, di mana lahan mereka dan masyarakat," terangnya.
Saat ini, ia menyebut, perjuangan tidak pernah selesai. Sebab, menurutnya, "Tuhan menciptakan Karimunjawa saat sedang tersenyum. Namun bagaimanapun juga, surga (Karimunjawa, Red), selalu banyak yang ingin memperebutkannya. Sehingga hidup adalah kata kerja dan perjuangan yang harus terus dijalani sepanjang usia."
Secara perawakan, Bang Jack amatlah mudah dikenali. Gaya pakaiannya yang selalu lekat dengan jarik, syal, tas selempang, kotak tembakau, serta rambut dan pembawaan yang klop seperti Kapten Jack Sparrow ini memanglah pantas disebut sebagai pahlawan lingkungan masyarakat kepulauan.
Tak hanya bergerak di dalam tempurung, Bang Jack juga kerap melakukan kampanye di skop nasional-internasional.
Seperti belum lama ini menghadiri Pawai Rakyat untuk Keadilan Iklim di Jakarta Pusat pada Agustus lalu. Ia menyerukan isu paving laut di Kepulauan Karimunjawa, seiring dengan orasi bersama nelayan dari Desa Kronjo, Kecamatan Pontang, Serang, Banten, Kholid yang mengkritik adanya pagar laut yang meresahkan nelayan.
"Saya membawa isu lingkungan dan budaya, kearifan lokal, itu yang saya angkat ke atas. Keberlangsungan. Melihat kearifan lokal dan budaya itu sudah ada dan yang sejatinya menjaga negeri ini, bukan aturan yang dibentuk dari atas," tegasnya.
Meskipun selalu garang atas kelaliman, namun Bang Jack juga mengaku memiliki ketakutan. Namun menurutnya hal itu, manusiawi.
"Bagi saya dengan ketakutan itulah yang menggerakkan saya, kalau saya tidak takut mungkin banyak tawaran yang saya terima, seperti uang Rp 1 miliar itu. Tapi takutnya saya bukan karena perlawanan, melainkan takut jika anak cucu saya tidak bisa lagi minta ke ibunya, yaitu ke laut. Jika tidak ada lagi yang bisa dimakan, di sana-sini. Kalau saya tidak takut, kerusakan ini lebih parah. Ketakutan itu bukan karena ketakutan untuk melawan, namun ketakutan yang membuat bertahan," ucapnya memberikan uraian.
Kini, ia bersama dengan masyarakat setempat juga tengah memperjuangkan perubahan nomenklatur Kecamatan Karimunjawa menjadi Kecamatan Kepulauan Karimunjawa.
"Karena, ketidaktepatan memberi nama ke Karimunjawa berdampak pada aturan dan pelayanan kepada kami. Ini kami teriakkan hingga ke Pusat, sebab itu hakikat kami sebagai masyarakat kepulauan tapi pelayanannya pemerintah kepada kami bukan sebagai masyarakat kepulauan," katanya.
Pihaknya ingin, selalu dilibatkan dan diajak berpikir untuk menentukan kebijakan. Harapannya setiap ada aturan dan regulasi maupun sejenisnya dapat sesuai dengan kebutuhan masyarakat.
"Pelibatan yang sebenarnya, bukan untuk pemenuhan administrasi atau formalitas untuk mengesahkan itu. Betul-betul mengajak berpikir dan meminta pendapat, betul-betul ke akar rumput. Apalagi ini menghadapi Karimunjawa sebagai tempat pariwisata bahari, seharusnya pemerintah mengajak kami dan masyarakat yang hidup di sini," lontarnya.
Ia ingin, pemerintah mengajak untuk mendefinisikan apa itu wisata, laut, dan ruang-ruang nelayan. "Dibedah bersama supaya sinkron, dan membuat Karimunjawa berkelanjutan. Tidak ada eksploitasi alam dan budaya, bukan hanya menurunkan investor yang mengejar keuntungan saja, menomorduakan kearifan lokal," tuturnya.
Menurutnya, lebih dari 27 gugusan pulau di Karimunjawa adalah karunia yang mustinya dijaga secara saksama.
"Maka, akui dulu kami itu Kepulauan, agar kami bisa bergerak lebih jauh. Yang paling saya takutkan yaitu soal pariwisata. Saya sangat takut ke depannya, jika kami tersapu keluar karena pemerintah mengonsep semaunya sendiri bergandengan dengan investor. Jika seperti ini, Karimunjawa tidak akan berkelanjutan, baik dari wisata ataupun alamnya. Karimunjawa bukan pulau kosong," tandasnya.(*)
Editor : Mahendra Aditya