RADAR KUDUS - Bagi komunitas Resik-resik Masjid Jepara, membersihkan masjid bukan sekadar kegiatan fisik, melainkan wujud penyucian hati dan jiw.
Sebuah laku, sebagaimana rumah ibadah harus dijaga kebersihannya, demikian pula hati manusia harus senantiasa dibersihkan agar cahaya kebaikan dapat bersemayam di dalamnya.
Di tengah hiruk-pikuk kehidupan zaman modern, masih terdapat sekelompok orang yang dengan sukarela meluangkan waktu, tenaga, dan bahkan biaya, demi satu tujuan sederhana namun penuh makna — menjaga kebersihan rumah ibadah.
Mereka menamakan diri Resik-resik Masjid (RRM) Jepara, sebuah komunitas yang sejak 12 Januari 2018 konsisten membersihkan ratusan masjid di seluruh pelosok Kabupaten Jepara.
Setiap Jumat pagi, menjelang waktu salat Jumat, para anggota RRM sudah tampak bergerak.
Dengan perlengkapan lengkap, mulai dari vacuum cleaner, polisher, alat pengebuk karpet rakitan sendiri, hingga cairan pembersih kaca dan lantai.
Mereka bahu membahu membersihkan setiap sudut masjid. Dari karpet, mimbar, kipas angin, hingga kamar mandi dan tempat wudhu, tak ada yang luput dari perhatian.
"Bukan berarti kita mengambil peran marbot, justru kita ingin membantu mereka," ujar Achmad Solichin, Ketua Harian RRM Jepara pasa Jumat (31/10).
Pria yang kini berusia 56 tahun tersebut menuturkan bahwa kegiatan ini bukan sekadar bersih-bersih belaka, tetapi juga cara untuk menumbuhkan rasa kepedulian dan gotong royong di tengah masyarakat.
"Kami selalu melibatkan warga sekitar masjid. Ini gerakan bersama, bukan hanya milik komunitas," imbuhnya.
Sejak pertama kali aksi dilakukan, kegiatan ini terus berlanjut tanpa henti. Dari satu masjid ke masjid lain, hingga kini telah ratusan masjid yang tersentuh tangan-tangan sukarelawan RRM. Jepara menjadi salah satu cabang paling aktif dari total 27 cabang RRM di Jawa Tengah.
Konsistensi itu sempat mendapat perhatian dari berbagai pihak, termasuk kalangan TNI. Sejak akhir 2024, sinergi antara RRM dan jajaran Kodim 0719/Jepara semakin erat. Kolaborasi tersebut lahir bukan karena program formal, melainkan karena kesamaan nilai, yaitu kepedulian sosial tanpa pamrih.
"Kami bersyukur ada dukungan moral dan tenaga dari mereka. Tapi esensinya tetap sama, ini tentang kemanusiaan dan ibadah," ujarnya.
Menariknya, semangat RRM ini bahkan menginspirasi terbentuknya tim serupa untuk tempat ibadah lintas agama, gereja, kelenteng, maupun vihara. Sebuah langkah kecil namun bermakna besar, yang menegaskan bahwa kebersihan dan kasih sesama tidak mengenal batas keyakinan.
Setiap aksi biasanya dimulai sejak pagi dan selesai sekitar pukul 10.30, sebelum azan Jumat berkumandang.
Setelah semua bersih, anggota RRM dan warga sekitar duduk bersama, minum teh hangat, menikmati makanan kukus, bercengkerama ringan. Ini menjadi momen sederhana yang merekatkan persaudaraan.
Kini, setelah tujuh tahun berjalan, komunitas ini ingin terus berbenah. Mereka berharap memiliki armada baru untuk menjangkau masjid di wilayah yang lebih jauh. Namun lebih dari sekadar alat, RRM Jepara percaya bahwa kekuatan sejati terletak pada niat tulus dan semangat kebersamaan.
"Membersihkan masjid itu ibadah, tapi di balik itu ada makna sosial yang besar," tegasnya.
Pihaknya ingin menunjukkan bahwa kepedulian itu bisa dimulai dari hal kecil, dari sapuan, dari niat yang bersih.
Bagi para relawan yang berasal dari sejumlah kecamatan di Jepara, membersihkan masjid bukan sekadar aktivitas fisik, melainkan cerminan batin yang ingin selalu disucikan.
Dalam tiap usapan kain dan debu yang terangkat, tersimpan filosofi sederhana: bahwa hati manusia, seperti masjid, juga perlu selalu dibersihkan agar cahaya kebaikan dapat tinggal di dalamnya.
"Bahkan ada yang rela menempuh jarak jauh, misalnya yang rumahnya Welahan tapi kegiatan ada di Jepara kota atau wilayah Utara. Mereka rela mengisi hari libur kerjanya untuk ikut membersihkan masjid. Bahkan malah keluar biaya sendiri, seperti bensin dan lainnya," kesannya.(*)
Editor : Mahendra Aditya