RADAR KUDUS - Tim mahasiswa Unisnu Jepara meraih Gold Medal di ajang internasional World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2025 lewat inovasi Totebag Vest—produk ramah lingkungan hasil kombinasi eco print daun alami dan motif batik Jepara.
Prestasi ini membuktikan bahwa karya bertema lingkungan kian mendapat tempat dan apresiasi di tingkat dunia.
BERAWAL dari ketertarikan terhadap produk bercorak sustainable design, lima mahasiswa Universitas Islam Nahdlatul Ulama (Unisnu) Jepara berhasil mendapatkan prestasi bergengsi di tingkat dunia.
Meskipun membuat produk dengan inovasi sederhana, namun mereka berhasil menyampaikan pesan kuat untuk bumi, Totebag Vest, tas multifungsi yang bisa disulap menjadi rompi.
Ide ini bukan sekadar tren fesyen. Ia lahir dari kegelisahan. Muhammad Dhika Pratama, 22, mahasiswa asal Bandung yang kini menempuh studi di Fakultas Ekonomi dan Bisnis Unisnu, bersama empat rekannya asli Jepara, Isna Amalia, Enriya Anjani Putri, Aryana Tirta Adista, dan Muhammad Syafii, ingin menyuarakan satu hal: mengurangi ketergantungan terhadap plastik dan memanfaatkan potensi lokal.
"Kami ingin membuat produk yang multifungsi, akhirnya ketemu ide, totebag yang bisa jadi vest. Lebih praktis dan ramah lingkungan," ujar Dhika Senin (27/10).
Tak disangka-sangka, produk Totebag Vest mereka berhasil meraih medali emas (Gold Medal) dalam ajang World Invention Competition and Exhibition (WICE) 2025, yang diselenggarakan oleh Indonesia Youth Scientist Association (IYSA) bekerja sama dengan SEGi University Malaysia, pada 12–15 September 2025 lalu.
Ajang bergengsi ini diikuti 270 tim dari 13 negara, termasuk Amerika Serikat, Korea Selatan, Thailand, Malaysia, hingga Turkmenistan. Tim Unisnu bersaing di kategori Environmental Science—sebuah bidang yang menuntut bukan hanya inovasi, tetapi juga keberlanjutan.
Dari proses lahirnya ide tersebut, produk diinisiasi dengan semangat yang berangkat dari potensi lokal namun mencakup isu global, krisis iklim.
Kekuatan karya ini tidak hanya pada fungsi produknya, tapi juga narasi budaya yang diusung.
Mereka mengangkat simbol kura-kura Jepara dan motif batik khas pesisir dalam desainnya. Selain itu, teknik eco print dari dedaunan (khususnya daun lanang) membuat produk memiliki corak unik, alami, dan tak bisa diseragamkan.
"Kami ingin menunjukkan bahwa budaya lokal bisa berjalan seiring dengan kepedulian lingkungan. Totebag Vest kami bukan hanya fesyen, tapi pesan," kata Enriya Anjani menambahi.
Produk ini juga telah memperoleh hak cipta, menjadikannya karya yang terlindungi secara hukum sebelum dibawa ke kancah internasional. "Kami ingin legalitas produk ini kuat, agar bisa dikembangkan lebih jauh dan tidak mudah ditiru," imbuhnya.
Secara harga, Totebag Vest sangat terjangkau. Jika produk sejenis di pasaran bisa mencapai Rp400 ribu, mereka menekan harga hingga Rp100 ribu saja tanpa mengorbankan kualitas.
Produksi pun telah bermitra dengan Gendhis Batik Krapyak Jepara, yang membuka peluang keberlanjutan usaha di masa depan.
"Kami ingin produk ini tetap bisa diproduksi lokal oleh UMKM, bukan mass production pabrikan. Ini tentang memberdayakan, bukan sekadar menjual," sebutnya.
Bagi kelima mahasiswa lintas semester ini, dari semester 3 hingga 7, prestasi tersebut menjadi bukti bahwa kampanye iklim bisa dilakukan dengan cara yang kreatif dan membumi. Mereka memadukan ilmu ekonomi Islam, kreativitas sosial, dan kepedulian ekologis menjadi satu produk nyata.
Setelah WICE 2025, mereka berencana mengembangkan produk serupa dengan sentuhan baru, kombinasi batik dan eco print yang lebih beragam.
"Kami ingin terus melangkah di bidang lingkungan. Tapi untuk sekarang, kami istirahat sejenak, sambil menyiapkan versi lanjutan yang lebih siap untuk dikomersialisasikan," ujar Dhika menimpali.
Daun-daun alami yang mereka gunakan bukan sekadar elemen estetika. Setiap helai membawa percikan warna yang lembut dan beragam, hasil dari keajaiban alam tanpa campuran pewarna sintetis.
Teknik eco print yang mereka terapkan sekaligus menjadi cara menghindari risiko pewarna berbahan kimia yang kerap menimbulkan keluhan, termasuk sejumlah resiko jangka panjang terhadap kulit.
Dalam setiap serat Totebag Vest, tersimpan pesan tentang keindahan yang lestari. Bahwa tren berkelanjutan tak harus lahir dari brand besar, tapi bisa tumbuh dari tangan-tangan muda yang berpikir jernih, berjiwa hijau, dan percaya bahwa gaya hidup ramah lingkungan pun bisa tampak keren dan elegan.
Melalui pemuda-pemudi ini, membuat refleksi tersendiri. Bahwa kepedulian terlebih soal lingkungan, harus terus memiliki wajah dalam bentuk kreativitas.
"Kita semua menyaksikan, tak sedikit TPA yang sudah overload. Ini tentu akan menimbulkan bencana ekologis apabila tidak diatasi. Vest dapat digunakan sebagai fashion yang trendi, sedangkan totebag bisa dimanfaatkan untuk berbelanja. Itulah semangat karya ini," tandas mereka kompak mengiyakan.(*)
Editor : Mahendra Aditya