Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Ning Sheila Hasina: Dari Lingkar Pesantren Lirboyo hingga Jadi Panutan Muslimah Zaman Now

Mahendra Aditya Restiawan • Kamis, 21 Agustus 2025 | 00:35 WIB
Ning Sheila Hasina
Ning Sheila Hasina

RADAR KUDUS - Ning Sheila Hasina, salah satu sosok muslimah yang tengah menjadi sorotan publik, dikenal bukan hanya karena garis keturunannya, tetapi juga karena kiprah dakwahnya yang konsisten.

Putri dari KH. Zamzami Mahrus dan Hj. Hannah Zamzami ini lahir di Kediri pada 30 Januari 1997 dan tumbuh besar dalam lingkungan pesantren Pondok Lirboyo, salah satu pusat pendidikan Islam ternama di Indonesia.

Sebagai cucu dari KH. Mahrus Aly, tokoh besar Lirboyo, sejak kecil Sheila sudah akrab dengan suasana religius.

Pendidikan agama yang kuat serta bimbingan intensif dari orang tua menjadikan dirinya sosok muslimah berakhlak santun, berwawasan luas, dan digadang-gadang sebagai teladan generasi muda.

Jejak Pendidikan dan Hafalan Al-Qur’an

Masa kecil Ning Sheila diwarnai dengan aktivitas belajar di pesantren. Setelah menyelesaikan sekolah dasar, ia melanjutkan pendidikan ke Pondok Pesantren Al-Ishlah Al-Ishom Jepara, tempat ibunya pernah menimba ilmu.

Di sana, ia mendalami beragam bidang ilmu Islam mulai dari hafalan Al-Qur’an, kitab kuning, ilmu tasrif, sorof, nahwu, hingga fiqih.

Pencapaiannya pun tidak bisa dipandang sebelah mata. Pada usia 13 tahun, Ning Sheila berhasil menuntaskan hafalan Al-Qur’an.

Kemampuan tersebut menjadi bekal utama yang semakin memperkuat reputasinya sebagai santriwati berprestasi.

Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan di Pondok Pesantren Mubtadiat Lirboyo, Kediri.

Lingkungan Lirboyo yang kental dengan tradisi keilmuan Islam memperdalam wawasan Sheila sekaligus membentuknya sebagai muslimah dengan kepribadian matang dan religius.

Kehidupan Pribadi

Pada 16 November 2017, Ning Sheila menikah dengan Agus Ahmad Kafabihi, putra KH. Kafabihi Mahrus dan Hj. Noor Laila.

Pernikahan ini menyatukan dua keluarga ulama besar di Lirboyo. Kehidupan rumah tangganya berjalan berdampingan dengan perannya sebagai pendakwah dan penggiat dakwah digital.

Dakwah di Era Digital

Di tengah perkembangan teknologi, Ning Sheila melihat media sosial sebagai sarana efektif untuk menyebarkan ilmu agama, khususnya di kalangan generasi muda.

Ia mulai aktif mengunggah konten dakwah dengan fokus pada kajian fiqih perempuan, terutama masalah-masalah seputar haid.

Motivasinya sederhana namun penting: banyak perempuan, baik dari kalangan awam maupun pesantren, masih terjebak mitos lama dan minim pemahaman tentang hukum Islam terkait.

Dari keresahan itu, Ning Sheila mulai menulis, membuat konten video, hingga mengisi kajian online yang kini banyak diikuti ribuan jamaah.

Kelebihannya bukan hanya pada penguasaan materi, melainkan juga pada cara penyampaian.

Dengan gaya tenang, lugas, dan penuh referensi ilmiah, dakwahnya dianggap kredibel sekaligus mudah dicerna.

Tidak heran, banyak yang menjulukinya sebagai "ratu ustadzah" karena pesona dakwah yang khas dan karismatik.

Teladan Muslimah Zaman Kini

Bagi banyak muslimah muda, Ning Sheila menjadi panutan. Selain kecerdasannya dalam menjawab problematika agama, ia juga dikenal berparas anggun dan rendah hati.

Kombinasi antara intelektualitas, kecantikan, dan akhlak membuat popularitasnya semakin meluas.

Dalam salah satu kesempatan di Lirboyo, Ning Sheila menyampaikan dawuh yang kemudian banyak dikutip:

"Khususnya untuk para perempuan, berdayalah kalian, mengajilah dengan tekun. Ada satu maqolah yang artinya, bagaimana kita bisa berharap anak-anak terdidik dengan baik jika mereka diasuh oleh ibu yang tidak berpendidikan. Maka jadilah perempuan terdidik sebelum kalian mendidik."

Pesan tersebut menegaskan pentingnya peran perempuan dalam pendidikan generasi. Bagi Ning Sheila, muslimah harus berilmu agar mampu mendidik keluarga sekaligus berkontribusi positif bagi masyarakat.

Dampak dan Relevansi Dakwah

Di era ketika arus informasi sangat cepat dan beragam, sosok seperti Ning Sheila menghadirkan oase. Dakwahnya dianggap memberi jawaban konkret atas persoalan keagamaan, terutama yang sering dialami perempuan.

Bukan hanya di dunia maya, ia juga kerap hadir sebagai narasumber dalam berbagai acara kemuslimahan. Kehadirannya diterima luas karena mengusung pendekatan inklusif, kontekstual, namun tetap berpijak pada tradisi pesantren.

Bagi generasi milenial muslimah, Ning Sheila bukan sekadar pendakwah, melainkan juga role model yang menunjukkan bahwa religiusitas dan modernitas bisa berjalan beriringan.

Penutup

Perjalanan hidup Ning Sheila Hasina adalah contoh nyata bagaimana lingkungan pesantren, pendidikan Qurani, dan dedikasi personal bisa membentuk sosok berpengaruh.

Dari santri kecil penghafal Al-Qur’an hingga menjadi pendakwah perempuan yang diperhitungkan, langkahnya kini memberi inspirasi.

Di tengah tantangan zaman, Ning Sheila tetap teguh membawa dakwah yang sederhana namun menyentuh: menjadikan ilmu agama mudah dipahami, mitos bisa diluruskan, dan muslimah lebih berdaya. (*)

Editor : Mahendra Aditya
#pesantren lirboyo #Sosok Ning Sheila Hasina #Ning Sheila Hasina #Ning Sheila