RADAR KUDUS - Persaingan memperebutkan talenta kecerdasan buatan (AI) di Silicon Valley semakin sengit.
Meta, perusahaan teknologi raksasa yang membawahi Facebook, Instagram, dan WhatsApp, baru saja merekrut salah satu bintang muda di bidang AI, Matt Deitke.
Pria 24 tahun ini mendapatkan paket kompensasi senilai 250 juta dollar AS atau sekitar Rp 4 triliun untuk kontrak kerja selama empat tahun.
Proses perekrutan Deitke tidak berlangsung instan. Awalnya, Meta menawarkan paket senilai 125 juta dollar AS (sekitar Rp 2 triliun). Namun, tawaran itu ditolak oleh Deitke karena dinilai belum cukup tinggi.
Mark Zuckerberg, CEO Meta, kemudian turun langsung merayu sang ilmuwan muda. Tawaran pun dinaikkan menjadi 250 juta dollar AS, yang akhirnya membuat Deitke setuju bergabung.
Profil Singkat Matt Deitke
Deitke merupakan ilmuwan komputer muda asal Amerika Serikat yang namanya cukup dikenal di komunitas AI global.
Ia menempuh pendidikan doktoral di University of Washington dan memiliki spesialisasi pada pengembangan sistem AI multimodal—teknologi yang mampu memahami sekaligus memproses gambar, suara, dan teks.
Sebelum bergabung dengan Meta, Deitke memimpin proyek Molmo di Allen Institute for Artificial Intelligence (AI2). Molmo adalah chatbot canggih yang bisa menerima dan memproses berbagai jenis input data. Selain itu, ia turut mendirikan startup bernama Vercept, yang berfokus mengembangkan agen AI otomatis. Startup ini memiliki sekitar 10 karyawan dan telah berhasil mengumpulkan pendanaan sebesar 16,5 juta dollar AS (sekitar Rp 270,4 miliar) dari sejumlah investor, termasuk mantan CEO Google, Eric Schmidt.
Penghargaan internasional pun pernah diraih Deitke. Pada konferensi NeurIPS 2022—salah satu forum AI paling bergengsi di dunia—ia meraih penghargaan "Outstanding Paper".
Prestasi ini hanya diberikan kepada sedikit peneliti dari ribuan karya yang masuk. Inovasinya mencakup pengembangan dataset 3D, lingkungan simulasi AI, dan model multimodal yang kompleks.
Rincian Paket Gaji Fantastis
Total kompensasi yang diterima Deitke bukan hanya gaji pokok. Nilai Rp 4 triliun tersebut mencakup gaji, bonus tunai, saham Meta, serta insentif lainnya. Dalam tahun pertama, ia diperkirakan bisa menerima hingga Rp 1,6 triliun.
Perbandingan ini membuat paket gaji Deitke terlihat luar biasa. Sebagai contoh, Neil Armstrong, astronot pertama yang menginjakkan kaki di Bulan, menerima gaji sekitar 27.000 dollar AS per tahun di 1969—setara dengan 244.000 dollar AS atau sekitar Rp 4 miliar per tahun setelah disesuaikan inflasi.
Itu berarti Deitke bisa memperoleh jumlah tersebut hanya dalam waktu satu hingga dua hari kerja.
Contoh lainnya, Robert Oppenheimer, pemimpin Proyek Manhattan, dibayar 10.000 dollar AS per tahun pada 1943—setara sekitar 190.000 dollar AS (Rp 3,1 miliar) saat ini. Penghasilan Deitke 300 kali lipat lebih besar daripada Oppenheimer ketika memimpin pengembangan bom atom.
Meta dan Ambisi AI Supercanggih
Rekrutmen Deitke adalah bagian dari strategi Meta membangun tim AI elite. Saat ini, perusahaan-perusahaan teknologi papan atas seperti Meta, OpenAI, Google, dan Anthropic sedang berlomba merekrut peneliti AI terbaik dunia.
Targetnya adalah mengembangkan teknologi superintelligence—AI yang bisa berpikir setara atau bahkan melampaui manusia.
Mark Zuckerberg secara terbuka menyatakan bahwa Meta siap membayar berapa pun untuk merekrut peneliti papan atas.
Dalam laporan keuangan terbaru, perusahaan mengumumkan rencana menaikkan anggaran infrastruktur AI menjadi 72 miliar dollar AS (sekitar Rp 1.180 triliun) pada 2025. Angka ini naik sekitar 30 miliar dollar AS (Rp 491,7 triliun) dari tahun sebelumnya.
“Kalau kami berinvestasi ratusan miliar dollar untuk server dan teknologi AI, masuk akal juga jika merekrut 50–70 peneliti terbaik di dunia, apa pun biayanya,” kata Zuckerberg dalam pernyataan resmi kepada investor.
Langkah ini tidak hanya melibatkan Deitke. Meta sebelumnya juga sukses menggaet Ruoming Pang, mantan kepala tim AI di Apple, dengan paket kompensasi lebih dari 200 juta dollar AS (sekitar Rp 3,2 triliun).
Menurut laporan Yahoo Finance yang dikutip KompasTekno (6/8/2025), total biaya yang telah dikeluarkan Meta untuk membangun tim AI elitnya sudah melampaui 1 miliar dollar AS (sekitar Rp 16,3 triliun).
Dengan masuknya Deitke ke dalam jajaran peneliti Meta, banyak pengamat menilai bahwa perusahaan ini semakin serius menantang dominasi OpenAI dan Google DeepMind dalam pengembangan AI generasi berikutnya.
Kehadirannya diharapkan akan memperkuat riset AI multimodal dan mendorong lahirnya inovasi yang bisa mengubah cara manusia berinteraksi dengan teknologi.