RADAR KUDUS - Berbagai ukiran dengan jenis dan rupa yang beragam terpampang rapih di tembok rumahnya.
Puluhan tahun menggeluti dunia seni ukir, sebuah perjalanan tak mudah menurut Bambang.
Belajar seni ukir secara hingga resep penjualan ke luar negeri ia pelajari dengan sendirinya.
ARIF FAKHRIAN KHALIM, BLORA, Radar Kudus
Bambang "Gembol" sebutan akrab di telinga masyarakat Blora. menjadi salah satu seniman ukiran kayu jati senior asal Blora, yang karya-karyanya, sudah banyak dibeli oleh warga luar Indonesia.
Tak hanya pasar lokal, ia juga berhasil merambah pasar nasional hingga internasional.
"Nama saya hanya Bambang, tapi masyarakat Blora taunya nama saya Bambang Gembol artinya orang suka bawa kayu bekas dari hutan, gunung dan sisa pemotongan pohon.
Kalau yang beli ukiran karya saya ya sudah banyak, ada yang dari Australia, Cina, Amerika, kalau ada tamu kenegaraan yang mampir di Blora, banyak kok yang ambil dari sini," ucapnya.
Bahkan ia mengaku, sebagian karya-karya ukiran jati buatannya juga telah menghiasi Istana Negara.
Bahkan, Soesilo Bambang Yudhoyono itu pesan ukuran Garuda dan Megawati Soekarnoputri pesan kepala banteng.
"Saya lebih senang jika membuat ukiran dengan karakter hewan, tokoh bangsa, dan lain sebagainya.
Paling saya senangi itu singa ya, tapi ukiran hewan lain juga ada, seperti monyet, merak, banteng, macan, katak, burung kakak tua. Terus saya juga buat ukiran tokoh-tokoh bangsa seperti Bung Hatta, Bung Karno, Gus Dur. Sama tokoh pewayangan Punokawan juga saya buat," terangnya.
Bambang menceritakan dirinya sudah menekuni dunia ukiran sejak usia muda. Menariknya, ia belajar membuat karya seni ukiran itu dengan otodidak tanpa diberikan ilmu oleh orang tua dan saudara terdekat.
"Saya menggeluti ini sejak tahun 1978, masih muda lah waktu itu. Awalnya saya tertarik buat ukiran dari bonggol jati, saya buat aneka karakter ya, kok bagus, jadi saya teruskan. Itu otodidak saya," jelasnya.
Pihaknya memilih kayu jati, lantaran Blora sebagai penghasil jati. Sehingga bahan bakunya sangat melimpah. Selain itu, kayu jati dikenal sebagai kayu yang kuat dan tahan lama.
"Ya karena kayu jati ini kuat, tidak akan dimakan rayap kan. Dan kalau dibuat karya seni ukiran tentu kuat bertahun-tahun," katanya.
Menurut Bambang, yang khas dari karya seni ukiran kayu jati buatannya yakni guratan-guratan yang sangat detail dalam setiap karakter ukiran yang dihasilkan. Hal itu membuat orang lain susah untuk menirunya.
"Kalau yang khas dari ukiran saya, itu guratan-guratannya, detailnya, nggak bisa ditiru oleh pengrajin ukiran lain. Ditambah untuk kayu yang saya garap ini tidak ada sambungan dan lem perekat,"tuturnya.
Adapun karya ukiran kayu jati buatannya itu dibandrol dengan harga yang bervariasi. Mulai harga 1 juta, hingga ratusan juta rupiah. “Untuk toko yang saya punya terletak di Blora Kota, Randublatung, Cepu dan di luar kota,” ungkapnya. (*)
Editor : Mahendra Aditya