Eko Wisnu Prilaksono punya semangat mengajarkan wayang kulit kepada anak-anak.
Di sanggarnya, para generasi muda antusias belajar tentang seni pedalangan.
VACHRI RINALDY L, Pati, Radar Kudus
Wisnu Prilaksono sudah dekat dengan wayang sejak kecil. Dulu, semasa anak-anak, dia sudah membuat wayang-wayangan dari kardus.
Kemudian ia berkeliling di desanya menunjukkan kebolehannya berkesenian.
Anak-anak seusianya kala itu juga antusias melihat pertunjukan sederhana yang ia pentaskan. Minatnya dalam mengulik kesenian wayang terus ia pupuk.
Baginya, dalang merupakan panggilan hati. Sedari kecil, dia tumbuh di tengah orang tua yang juga seorang seniman.
”Dalang memang ingin sendiri. Panggilan hati,” ungkapnya.
Setelah beranjak remaja, Wisnu melanjutkan sekolahnya di SMKI Surakarta yang memiliki jurusan kesenian. Ia berhasil lulus dengan nilai terbaik seangkatan.
Terkadang, meski masih setingkat SMA, ia juga dimintai bantuan mahasiswa untuk mengerjakan tugas.
Masa remaja Wisnu memang sudah diwarnai berbagai pentas dari panggung ke panggung.
Lakon-lakon yang ia bawakan mengalir sesuai dengan isuisu yang sedang hanya dibicarakan, sehingga ia bisa tetap eksis sampai sekarang.
”Yang viral sedang apa bisa dimasukkan (dalam lakon). Tetapi hanya sebatas menyindir,” katanya.
Seiring berjalannya waktu, namanya pun mulai dikenal hingga ada masyarakat yang ingin memasukkan anaknya untuk belajar memainkan wayang.
Awalnya, warga Desa Panggungroyom, Kecamatan Wedarijaksa, Pati, itu mengaku tidak memiliki niat untuk mendirikan sanggar, karena merasa belum mampu.
Hanya sesekali dia mengajar ekstrakurikuler pedalangan di beberapa sekolah. Hingga suatu saat ada orang yang datang ke rumah untuk belajar.
Namun, kala itu Wisnu sempat tidak berani menerima murid. Ia kemudian mengarahkan tamunya untuk belajar ke sanggar lain.
Sayangnya, sanggar yang dimaksud masih tutup. Dengan begitu, mau tidak mau ia harus membuka sanggar sendiri.
”Pingin belajar mendalang, tapi dulu belum punya niat ke situ (membuka sanggar). Saya arahkan ke sanggar tempat saya belajar dulu,” katanya.
Setelah memantapkan diri, barulah sanggar bernama ”Laksono Laras” tersebut, dibuka sekitar 2023 silam.
Murid-muridnya mulai dari usia PAUD sampai dengan SMP. Terkadang juga ada mahasiswa pedalangan yang berkonsultasi tentang tugas akhir.
Anak-anak di sana diajari berbagai teknik mendalang. Seperti olah suara, keprak, adegan perang, hingga mengatur permainan para pengrawit.
”Normalnya, dalam waktu enam bulan anak-anak sudah bisa menguasai,” jelasnya.
Menurutnya, ada beberapa tahapan yang harus dilalui murid. Kriterianya, dinilai dari durasi tampil.
Ia menganggap seorang siswa sudah lulus jika mampu mendalang satu malam. Setelah itu, anak didiknya dipersilakan mencari guru yang lebih baik dari dia.
”Kalau bisa jangan lamalama belajar dalang dengan saya. Kalau bisa lebih cepat,” katanya.
Sekarang sanggar itu sudah berkembang. Tidak hanya mengajar pedalangan, di sana juga bisa belajar karawitan maupun sinden.
Selain itu, di sanggar ini, para murid tidak hanya belajar memainkan kesenian, tapi Wisnu juga berupaya untuk mencarikan panggung.
Rencana, anak-anak didiknya akan tampil dalam sebuah acara dalang cilik di Surakarta.
”Kalau zaman saya (waktu masih kecil) nyari-nyari (panggung) sendiri,” imbuhnya.
Editor : Ali Mustofa