Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SOSOK Ki Pasiran, Dalang Penjaga Nyala Wayang Krucil asal Blora: Butuh 40 Tahun untuk Beli Peralatan Pentas Sendiri

Redaksi Radar Kudus • Kamis, 29 Mei 2025 | 23:08 WIB

PELESTARI BUDAYA: Ki Pasiran memainkan wayang krucil di rumahnya di Desa Pojokwatu, Sambong, Blora.
PELESTARI BUDAYA: Ki Pasiran memainkan wayang krucil di rumahnya di Desa Pojokwatu, Sambong, Blora.
Lebih dari lima dekade, Ki Pasiran mendedikasikan hidupnya untuk melestarikan wayang krucil di Blora.

Meski memiliki darah seni wayang kulit dari buyutnya, dia lebih memilih wayang krucil, seni pertunjukan tradisional yang kini nyaris punah.

ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora, Radar Kudus

Wayang adalah bentuk kesenian khas Kabupaten Blora dan beberapa daerah di Jawa Timur.

Wayang krucil terbuat dari kayu pipih, sehingga mudah patah jika dimainkan sembarangan.

Jumlah personel yang terlibat dalam pementasan wayang ini, lebih sedikit daripada wayang kulit.

Umumnya sekitar lima sampai tujuh orang. Termasuk dalang dan pengrawit. Sedang kan dibanding wayang kulit yang mencapai lebih dari 12 orang.

Tak seperti wayang kulit yang lazim dipentaskan malam hari dan berkisah tentang Mahabharata atau Ramayana.

Wayang krucil justru sering dimainkan siang hari dengan beragam cerita sejarah.

Mulai dari kisah-kisah kerajaan di Nusantara hingga tokoh-tokoh penyebaran agama Islam, seperti Umar Amir atau Amir Hamzah.

”Saya mulai mengenal wayang krucil sejak masih remaja, setelah Gestok (Gerakan Satu Oktober 1965). Waktu itu saya sering diajak keliling pentas oleh dalang wayang krucil dari Beged, Bojonegoro,” ujar Ki Pasiran didampingi putrinya, Pasruyanti, saat ditemui di rumahnya di Dukuh Delok, Desa Pojokwatu, Sambong, Blora, baru-baru ini.

Ki Pasiran lahir sekitar 1948, meski ia sendiri mengaku tak yakin dengan tahun ia lahir. Ki Pasiran tumbuh di lingkungan keluarga seni.

Mbah Buyutnya seorang dalang wayang kulit. Tak heran, darah seni mengalir kuat dalam dirinya.

Kecintaannya terhadap wayang krucil mulai tumbuh saat dirinya kerap diajak pentas oleh dalang wayang krucil dari Beged, Bojonegoro.

Dari dalang itulah, Ki Pasiran mulai belajar. Bahkan, Ki Pasiran mengaku pernah diberi buku catatan tentang kesenian wayang krucil dan lakon-lakonnya oleh sang dalang tersebut.

”Namun buku catatan itu sudah tidak ada lagi. Sudah hancur karena banjir yang pernah terjadi di Pojokwatu,’’ ungkap Ki Pasiran.

Pementasan pertama Ki Pasiran sebagai dalang dilakukan secara tak terduga pada 1977 silam. Saat itu, kakak perempuannya menggelar hajatan khitanan anaknya.

”Saya bilang ke mbakyu saya itu, daripada mengundang dalang lain dan butuh biaya tidak sedikit, lebih baik saya sendiri yang mentas. Padahal belum paham betul dalang itu seperti apa,” kenangnya sambil tersenyum.

Tak disangka, pertunjukan itu mendapat sambutan luar biasa. Warga Desa Ledok, desa domisili sang kakak, berbondong-bondong datang untuk menonton pementasan wayang krucil dengan dalang Ki Pasiran.

Sejak penampilannya itu, Ki Pasiran mulai dikenal dan diundang tampil ke desa-desa di Kecamatan Sambong dan sekitarnya.

Dia pun memutuskan menggeluti wayang krucil meski frekuensi pementasannya lebih sedikit dibanding wayang kulit.

”Sejak saat itu, saya istiqomah di wayang krucil. Kalau tidak saya, siapa lagi. Sebab, yang lain memilih wayang kulit,’’ terangnya.

Namun, perjuangan tak selalu mudah. Peralatan pentas saat itu, ia pinjam dari dalang wayang krucil di Kecamatan Cepu.

Butuh hampir 40 tahun hingga akhirnya pada 2015 ia bisa membeli sendiri perangkat pementasan wayang krucil.

”Baru 10 tahun terakhir saya bisa beli sendiri. Dulu pernah ditawari, tapi belum punya uang,” ujarnya.

Di rumah sederhananya, Ki Pasiran membuka sanggar seni bagi siapa pun yang ingin belajar wayang krucil.

Sanggar tersebut ia beri nama Isnamukti, yang diambil dari nama salah seorang cucunya, Isnawati.

Sayangnya, minat generasi muda masih minim. Hingga kini, baru dua cucunya yang serius belajar: Isnawati, 23, dan Dwi Eli Setyawati, 15.

”Biasanya, Isnawati cucu saya yang sering diajak tampil dari awal dan akhir pagelaran. Biar pelan-pelan terbiasa,” kata Ki Pasiran.

Dia berharap kepada cucunya, agar kesenian wayang krucil bisa diwariskan.

”Dua anak saya tidak ada yang meneruskan menjadi dalang wayang krucil. Mudah-mudahan dari cucu-cucu saya inilah, wayang krucil akan tetap lestari,’’ harapnya.

Pada 2018, pernah digelar workshop wayang krucil dalam acara cerita dari Blora.

Pada 20 Desember 2023, wayang krucil juga dipentaskan dalam rangka Hari Jadi Kabupaten Blora di alun-alun Blora.

”Beberapa kali saya pernah bertemu dengan Bupati Arief Rohman. Beliau sangat antusias menyaksikan wayang krucil,’’ kata Ki Pasiran.

Meski tampil dari desa ke desa, dedikasi Ki Pasiran tak berhenti di panggung lokal.

Pada April 2023 lalu, ia diundang tampil dalam Festival Wayang Internasional di Bali.

Di hadapan perwakilan 34 negara, dia memainkan wayang krucil dengan penuh penghayatan. 

"Waktu itu saya merasa sangat bangga. Wayang krucil yang biasanya hanya ditonton orang kampung. Kali ini bisa dikenal dunia,” katanya.

Kini, di usia senjanya, meski tubuhnya tak lagi sekuat dulu, Ki Pasiran tetap setia pada wayang krucil.

Baginya, setiap pementasan bukan sekadar hiburan, melainkan doa dan pengingat akan nilai-nilai luhur kehidupan.

”Saya merasa seni ini bukan sekadar tontonan. Ia mengajarkan budi pekerti, sejarah, dan jati diri kita sebagai orang Jawa,” ucapnya. 

Editor : Ali Mustofa
#sejarah #wayang krucil #Ki Pasiran #blora #pementasan #dalang #kesenian