Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

SOSOK Nunung Noor Khamimah Perajin dan Pengajar Ecoprint asal Kudus yang Hasil Karyanya Tembus Pasar Thailand dan Australia

Redaksi Radar Kudus • Selasa, 27 Mei 2025 | 21:36 WIB

 

KARYA NYATA: Nunung Noor Khamimah dengan background perajin ecoprint memperlihatkan salah satu produk kain ecoprint miliknya.
KARYA NYATA: Nunung Noor Khamimah dengan background perajin ecoprint memperlihatkan salah satu produk kain ecoprint miliknya.
Ecoprint karya Nunung Noor Khamimah berhasil menembus pasar Thailand dan Australia. Daun untuk produksi ia ambil dari pekarangan sekitar rumahnya.

Kain putih terbentang Panjang di teras rumah Nunung Noor Khamimah, warga RT 1 RW 5 Desa Jati Kulon, Kecamatan Jati.

Ia bersama satu rekannya terlihat menata satu persatu daun-daun dengan bentuk yang berbeda di atas kain putih tersebut.

Ia dengan sabar dan teliti menempatkan daun yang berbeda-beda bentuk. Dia tidak asal-asalan menaruh dedaunan tersebut. Diletakkan sesuai pola bentuk daun.

Setelah semua sudah tertata rapi daun-daunnya, masih ada ruang kosong sedikit.

Kemudian, ia kembali memetik daun dengan ukuran kecil yang tumbuh di pekarangan depan rumahnya. Ia taruh di celah-celah ruang yang masih kosong tersebut.

Semua sudah terlihat penuh dengan daun, Imah sapaan akrabnya mengambil sebuah plastik hitam dengan ukuran besaran sama dengan kainnya, lalu ditempatkan diatas daun-daun. Tahap selanjutnya digulung.

”Beginilah pekerjaan saya sehari-hari. Saya menggeluti dunia ecoprint 2021. Alhamdulillah, berhasil menciptakan terobosan di dunia fashion ramah lingkungan melalui karya-karyanya yang memanfaatkan teknik ecoprint,” ujarnya.

Berawal dari keputusannya untuk resign dari profesi sebagai perawat, Imah kini dikenal sebagai perajin fashion ecoprint dengan merek Jatisemi Ecoprint yang menampilkan koleksi busana dan aksesori dari ujung kaki hingga kepala.

Mulai dari sandal, sepatu, kaos kaki, celana, rok, gamis, kaos, kemeja, vest, jilbab, selendang, tas, dompet, gantungan kunci, dompet, dan lainnya.

Semua produk tersebut berbahan dasar ecoprint hasil buatan tangannya sendiri.

“Kain yang dipakai ada beberapa jenis, seperti rayon twill, tenun ATBM (alat tenun bukan mesin), ada sutra juga,” ujar Imah.

Dedaunan yang dipakai juga berasal dari tanaman yang ia tanam sendiri di halaman rumah.

Seperti, daun acalypha, jarak kepyar, jarak wulung, lanang, kalpataru, anggur, fitek, pakis, bunga sepatu, kenikir, truja, daun kelapa.

“Kalau untuk pewarnaan yang merah pakai secang, warna kuning pakai teger, warna coklat pakai kulit kayu ulin atau tingi juga bisa, warna biru pakai indigo, warna hijau bisa pakai ketapang,” tambahnya.

Proses pembuatan ecoprint dilakukan dengan dua metode utama: eco pounding dan steaming.

Durasi pengerjaan bisa mencapai dua hingga tiga jam perkain, dan dalam sehari Nunung mampu menghasilkan hingga 50 lembar kain ecoprint.

Menurutnya, produk-produk ecoprint miliknya menyasar pasar kelas menengah ke atas.

Kain berukuran dua meter dibanderol mulai dari Rp 250 ribu hingga Rp 2 juta, tergantung bahan yang dipakai dalam produk ecoprint.

“Kalau gamis dijual mulai Rp 550 ribu, tas kain tanpa kulit dijual dari Rp 95 ribu. Rp 1,5 juta jika menggunakan bahan kulit. Kalau gantungan kunci ada yang Rp 45 ribu, bisa pakai wadah korek juga,” jelasnya.

Meski belum mengekspor secara langsung, beberapa produk ecoprint kreasi Imah telah dibeli oleh konsumen dari Australia dan Thailand.

Sedangkan, pasar dalam negeri, sudah hampir seluruh provinsi di Indonesia.

Lebih lanjut, Imah menceritakan perjalanan merajut asa di bidang ecoprint dimulai dari mengikuti berbagai pelatihan pada tahun 2021 lalu.

Pandemi justru menjadi momentum penting baginya, karena banyak pelatihan beralih ke platform daring.

Sejak September 2021, Imah aktif mengikuti berbagai pelatihan. Setelahnya, diaplikasikan dalam kehidupan sehari-hari.

Yang kemudian, membuka jalan baginya untuk mengkreasikan eco print hingga bisa melatih orang-orang.

Tak hanya mengajar secara daring, Ia pun semakin percaya diri setelah mengajar guru-guru dari berbagai daerah seperti Demak, Jepara, Kudus dan sekitarnya yang datang langsung untuk belajar membuat ecoprint darinya.

Kiprah Imah di dunia fashion tidak berhenti di pelatihan. Ia juga sering mengikuti ajang fashion show di berbagai kota besar seperti Jakarta, Yogyakarta, dan Kudus.

Produk-produknya tampil dalam berbagai gelaran seperti Fashion Werk dan Fashion Trend. (Indah Susanti)

Editor : Ali Mustofa
#dedaunan #ecoprint #Nunung Noor Khamimah #australia #thailand