RADAR KUDUS - Ketekunan, keberanian, dan semangat belajar bisa membawa seseorang meraih kesuksesan.
Seperti yang dialami Sholihin, pengusaha jahit pakaian di Grobogan. Gempuran pakaian murah impor tak membuat usahanya lesu.
Sholihin merupakan sosok inspiratif asal Grobogan. Berbekal keterampilan menjahit yang dipelajarinya secara otodidak, lulusan pesantren ini, berhasil membangun bisnis jahit pakaian.
Terbukti usaha yang dirintisnya sejak 1989 silam itu, bertahan hingga sekarang.
Kecintaannya pada dunia jahit bermula dari rasa penasaran saat melihat orang lain menjahit.
Tanpa pendidikan formal di bidang ini, pria kelahiran 12 Mei 1965 itu, nekat membuka usaha sendiri di Desa Jengglong, Purwodadi, Grobogan, dengan nama Agung Tailor.
Saat itu, ia hanya dibantu satu pekerja yang bertugas membeli kain dan perlengkapan. Sementara proses menjahit, membuat pola, hingga mengukur ia lakukan sendiri.
Awalnya, Sholihin memasarkan jasanya kepada guru, pegawai, hingga pelajar.
Ketekunan dan pelayanan yang konsisten membuat usahanya tumbuh. Pada 2002, jumlah pekerjanya sudah mencapai 15 orang.
Dia mengaku, usahanya ini sebagian besar menerima pesanan borongan seperti seragam sekolah.
”Karena kebanyakan borongan untuk seragam, jadi langsung banyak yang dijahit. Dari situ mulai banyak yang suka dan langganan,” ungkapnya.
Puncak pertumbuhan bisnisnya terjadi pada 2013. Saat itu, Agung Tailor berpindah ke lokasi baru yang lebih besar di Desa Jengglong. Tak jauh dari tempat sebelumnya.
Toko dua lantai itu, kini mempekerjakan 25 orang. Semuanya dari kalangan usia produktif.
”Saya tidak mau menerima karyawan yang belum cukup umur untuk bekerja,” tegasnya.
Meski banyak kompetitor bermunculan di Kota Swike, Sholihin tetap fokus pada satu lokasi bisnis tanpa membuka cabang. Bahkan, omzetnya kini mencapai puluhan juta per bulan.
Tantangan tentu tak luput dari perjalanan usahanya. Seperti pernah mendapat komplain dari pelanggan, karena jahitan tidak sesuai harapan.
”Sering dimarahi konsumen, karena hasil jahitan kurang tepat. Kadang karena terlalu ramai, jadi bingung sendiri menepati janji. Tapi alhamdulillah, masih banyak yang sabar dan percaya menjahit di sini,” katanya.
Pelanggan Agung Tailor bahkan datang dari luar kota, seperti Kudus, karena sudah setia selama bertahun-tahun.
Ke depan, Sholihin berencana mengadakan pameran untuk menampilkan hasil desain dan jahitannya kepada masyarakat luas.
Kisah Sholihin membuktikan bahwa ketekunan, keberanian, dan semangat belajar bisa membawa seseorang meraih kesuksesan meski dimulai dari nol. (Intan Maylani Sabrina)
Editor : Ali Mustofa