Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Lebih Dekat Sosok Nurwanto, Satu-satunya Dalang Wayang Thengul di Blora yang Tersisa

Arif Fakhrian Khalim • Selasa, 29 April 2025 | 17:41 WIB

 

TAK ADA REGENERASI: Mbah Nurwanto dalang wayang thengul di Desa Bangowan, Kecamatan Jiken, Blora, sedang memainkan wayang.
TAK ADA REGENERASI: Mbah Nurwanto dalang wayang thengul di Desa Bangowan, Kecamatan Jiken, Blora, sedang memainkan wayang.

Dalang wayang thengul asal Desa Bangowan, Jiken, Blora, Nurwanto meratapi kesenian yang kian pupus.

Tak lagi ada regenerasi yang mau melanjutkan kesenian yang eksis pada jamannya. Saat ini, hanya ia satu-satunya dalang wayang thengul yang tersisa.

ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora, Jawa Pos Radar Kudus

Alunan gamelan terdengar merdu di Desa Bangowan. Alunan suara itu, terdengar di pojok desa yang menyandang gelar dewa wisata nasional itu.

Tak banyak orang yang mengetahui siapa pemain utama dari kesenian wayang thengul.

Berada di sebuah rumah kecil, wayang berukuran kecil yang berusia hampir ratusan itu, terpampang berjejer. Gamelan, gong, gender, bonang, dan alat musik lain juga tertata rapi beserta pemain musiknya.

Pemain musik dan dalang keseluruhan adalah laki-laki tua yang berumur 50 tahun.

Mirisnya lagi, hanya Nurwanto yang saat ini menjadi dalang wayang thengul.

Mulai dari anak kecil, remaja, hingga dewasa tidak ada yang berminat untuk belajar memainkan wayang yang berpakaian batik itu.

Hampir seratus tahun wayang tersebut menghiasi pergelaran di Kota Sate.

Sang dalang pun seolah tak lelah berhenti melestarikan kesenian yang mulai ditinggalkan peminatnya.

Hampir 20 tahun berkiprah di panggung perwayangan, ia merupakan generasi ke-4 dalang wayang thengul.

Kula dados dalang niki mpun 20 tahun lebih. (Saya jadi dalang ini sudah 20 tahun lebih). Jadi, sudah lewat banyak zaman. Bayangkan saja, thengul ini sudah 100 tahun umurnya,” katanya.

Mbah Nurwanto menjelaskan, selain bentuknya yang menjadi khas, wayang thengul diiringi musik yang biasa disebut panjak.

Hingga kini, panjak tersebut mulai berubah mengikuti keinginan pasar.

”Dulu panjak atau ketukan musiknya tidak begini. Sekarang diubah. Ciri khasnya thengul ya itu (musik, Red). Jadi pertunjukannya itu rancak atau ramai,” jelasnya.

Mbah Nurwanto -sapaan akrab dalang itu- mengakui kesulitan untuk mencari sosok penerusnya.

Pria berumur 56 tahun itu, merasa generasi yang akan datang tidak begitu berminat. Bahkan, anaknya sekalipun tak mau meneruskan kesenian sang ayah.

Kula niki nggih merdamel liyane. Njih dados dalang, njih tandur (Saya ini juga kerja lainnya. Ya dalang, ya petani). Sebenarnya bisa-bisa saja anak saya meneruskan. Ning, lare-lare niku dereng minat (Tapi, anak-anak itu belum minat),” ujarnya.

Menurutnya, saat ini jarang acara dinas-dinas yang mengundang untuk mementaskan wayang thengul.

”Sudah jarang, Mas. Dulu sebelum Covid masih ada (pertunjukan wayang thengul oleh dinas). Sakniki mpun jarang (sekarang sudah jarang),” ucapnya.

Walau begitu, sebagai budayawan, ia terus berupaya untuk melestarikan wayang thengul ke generasi-generasi berikutnya dengan caranya sendiri.

Terlebih, Desa Wisata Bangowan sendiri mendukung penuh untuk merawat kesenian warisan kesenian tersebut.

”Yang hanya bisa dilakukan ya sabar dan terus menggemakan musik gamelan dan wayang di desa. Jika ada acara atau undangan, kami akan menampilkan yang terbaik dengan keterbatasan usia,” ucapnya.

Ia menambahkan, warga desa dan anak-anak mereka kebanyakan merantau dan bertani. Tak ada yang berminat dalam bidang kesenian.

”Mereka berpikir tidak ada uang yang dihasilkan dari memainkan wayang. Kalau saya mati ya harapannya ada yang meneruskan kesenian ini (wayang thengul, red),” imbuhnya. (*/lin)

Editor : Ali Mustofa
#wayang thengul #kota sate #blora #gamelan #kesenian