Kiai Ma’shum Fathoni menerjemahkan kitab klasik bahasa Arab ke dalam bahasa Jawa.
Tujuannya untuk memudahkan santri memahami isi kitab tersebut.
ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora, Radar Kudus
Halaman Pondok Pesantren (Ponpes) Mansya’ul Huda teduh. Pohon sawo di teras rumah Kiai Ma'shum itu, cukup rindang.
Dua santri abdi ndalem menyambut para tamu sebelum memasuki rumah kiai sepuh di Dukuh Kedungglonggong, Kecamatan Bogorejo, Blora, tersebut.
Sekitar 10 menit, Mbah Ma’shum -sapaan akrab Kiai Ma’shum- datang dengan langkah hati-hatinya sambil memegang tongkat dan dibantu santrinya duduk di ruang tamu.
Beberapa kitab terjemahan karyanya ia suguhkan. Lengkap dengan sampul kitab yang telah dicetak apik.
Mbah Ma’sum kemudian menceritakan kitab terjemahan Jawa, sehingga mudah dipelajari dan dipahami oleh para santri di daerah.
Sebab tidak sekadar dialihbahasakan. Melainkan disesuaikan dengan bahasa lokal Blora, dengan tetap menggunakan tulisan Arab pegon.
”Saya itu berpikir, bagaimana kitab dengan bahasa Arab bisa dipahami. Kemudian saya terjemah sesuai bahasa Jawa khas Blora,” ungkap pengasuh Ponpes Mansya’ul Huda itu.
Beberapa kitab klasik yang diterjemahkan dalam bahasa Jawa khas Blora itu, di antaranya Matholiul Jauhariyah terjemah Qhowaidul Fiqhiyah (kaidah-kaidah fiqih), ’Aunul Bais (ilmu tentang hadits), Sulamul Munawaroqi (metodologi berpikir) ilmu logika, Halul Isyarah (tentang aqidah Islam), dan Alfiyah (ilmu Nahwu atau gramatikal Bahasa Arab).
Sebelum melakukan proses penerjemahan, Mbah Ma’shum harus membaca dan mengkhatamkan kitab yang akan diterjemahkan hingga enam kali.
Kiai kelahiran 1950-an tersebut mengungkapkan, selain menggunakan bahasa lokal Blora, juga menambahkan syarah (keterangan) di dalam kitab karya itu.
Tujuaannya, sebagai pendalami pembahasan isi kitab tanpa keluar dari konteks yang dimaksud pengarang kitab asli.
Kecintaannya terhadap ilmu agama dan penyebarluasan ajaran Islam menuntun Kiai Ma’shum terus menulis.
Usia yang semakin menua dan padatnya waktu mengajar ngaji di pondok bukan menjadi penghambat.
Ia menulis di sela-sela waktu tersebut, bahkan hingga larut malam. Menariknya, saat usia yang sudah menginjak 75 tahun, rois Syuriah PCNU Blora tersebut, juga melek teknologi.
Tak hanya menulis menggunakan kertas, juga menggunakan tablet dalam proses menulis terjemahan kitab-kitab.
Kemudian menyimpan ke dalam file sebelum dicetak ke penerbit.
Informasi dari para santrinya, Kiai Ma’shum biasanya meminta untuk membelikan tablet untuk menulis terjemahan kitab.
”Beliau menulis menggunakan tablet. Beberapa kali saya diminta membelikan,” ujar Ilham Adnan, salah satu abdi ndalem.
Adnan mengungkapkan, selain menerjemahkan kitab-kitab yang telah dikajinya selama belajar di berbagai tempat, Kiai Ma’sum juga menulis beberapa kitab sendiri. Seperti kitab himpunan doa-doa yang khusus.
Diketahui, kecintaan Mbah Ma’shum terhadap ilmu agama hingga usia sepuh tersebut, karena banyak mondok, seperti di Sarang, Rembang.
Tak hanya di tanah air, Kiai Ma’shum juga belajar hingga ke Makkah, Arab Saudi.
Di Tanah Suci, berguru dengan Syaikh Abdullah bin Said Al-Lahji, Syaikh Yasin Al Fadani, Sayyid Muhammad bin Alawi Al-Maliki, dan Syaikh Ismail bin Utsman Al-Tamani. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa