Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Sosok Dina Yogie, Desainer Busana Muslim Sukses asal Grobogan: Awalnya Jualan Kain

Intan Maylani • Selasa, 18 Maret 2025 | 16:07 WIB

 

Dina Yogie
Dina Yogie
Dina Yogie sukses dalam dunia bisnis busana muslim. Itu berawal dari menjajaki berbagai usaha seperti jual kain, busana, jadi hingga kini membuat busana dengan desainnya sendiri.

INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan

PEREMPUAN cantik berhijab ini terlihat sedang sibuk dengan setumpuk kain yang ada di sekitarnya. Mengukur lalu memotong kain dengan berbagai macam corak. Perempuan separuh baya ini bernama Dina Yogie.

Perjalanan bisnisnya di awali dari nol, dia memakai uang tabungannya, yang merupakan uang bulanan dari suaminya. Selama ini uang tersebut selalu ditabung. Tabungannya dijadikan modal awal berbisnis kain.

Meski saat itu, suaminya menjabat sebagai camat, namun dia ingin mandiri.

Tak lama berjualan kain, dia mendapatkan pundi-pundi rupiah. Dina mulai kepikiran untuk berhaji.

“Saat itu suami sudah haji dahulu. Saya diajak tetangga waktu itu, namanya Bu Singgih untuk naik haji bareng,” terangnya.

Di Tanah Haram dia berdoa untuk diberikan kesuksesan pada bisnisnya. “Saat itu berdoa. Ya Allah, mudah-mudahan setelah saya pulang haji. Saya mempunyai bisnis yang sekaligus bisa untuk syiar agama Islam,” doanya.

Akhirnya, sesampainya di Grobogan. Dina fokus berjualan busana muslim yang saat itu masih dijual di dalam rumah dinas kecamatan pada 2002-2003. Tak lama, suami berpindah jabatan dan tidak menempati rumah dinas lagi.

“Saat itu beli rumah. Di rumah tersebut saya mulai berjualan busana muslim. Jadi saya pajang di rumah tersebut. Ruang tamu dipasangi etalase. Ruangan rumah penuh pakaian waktu itu,” ungkapnya.

Dari hasil jualannya, dia mulai memiliki tabungan lagi. Dia pakai tabungan tersebut untuk berbelanja busana di Jakarta. Semua uangnya dihabiskan buat belanja baju.

Tak lama, bisnisnya mulai berkembang. Dia mulai mencari tempat strategis dan membeli tanah hingga membangun toko di Jalan R Seoprapto, depan gedung wisuda dan Luwes Swalayan Purwodadi pada 2004.

Dari situ, dia memiliki satu karyawan khusus untuk jahit. “Saat itu ada pembeli yang ingin membeli baju yang beda. Tidak ada yang menyamai atau dengan desain khusus. Waktu  itu memang sudah ada satu karyawan tersebut, namun saya tidak tahu sama sekali soal jahit menjahit. Mengenai pola saya tidak tahu. Kemudian saya kursus menjahit di Susan Budiarjo Semarang,” katanya.

Belum sampai satu tahun kursus, ternyata dia sudah menguasai berbagai pola, cutting, model, dan lain sebagainya. 

Semenjak kursus, dia mulai mempunyai tiga hingga empat karyawan jahit. Kini terus berkembang hingga memiliki belasan karyawan.

Mereka terbagi menjadi penjahit, pola, cutting, obras, pasang kancing, dan banyak lagi.

Mulailah 2006 dia mendesain busana muslim sendiri. Tahun itu juga, dia mampu mengikuti lomba rancang busana.

Menurutnya, bisnis yang dia jajaki saat ini berkaitan dengan ibadah yaitu menjual perlengkapan muslim. Baik busana muslim pria maupun wanita, oleh-oleh haji sampai kain etnik khas Indonesia.

“Bagi saya menjual busana muslim sama artinya dengan syiar. Misalnya bagi wanita, dari busana muslim wanita seseorang memenuhi kewajibannya. Karena sudah ada di surat An-Nisa dan An-Nur kewajiban untuk berhijab dan menutup aurat,” terangnya.

Kiblatnya butik Q-blat yakni fashion muslim ibukota. Setiap bulannya Dina selalu menyempatkan diri untuk datang ke acara fashion show muslim. Kegiatannya tersebut untuk melihat sejauh mana perkembangan fashion di Indonesia.

“Saya selalu mengikuti tren saat ini. Dengan sering melihat model di mall maupun pasar. Namun juga sering lihat fashion show. Namun, ciri khas saya di tenun dan batik. Saya ingin mengenalkan tenun Grobogan," ujarnya.

Kesukaannya mencari referensi itu, membuatnya tahu perkembangan fashion terlebih untuk Lebaran.

“Setiap tahunnya, harus sudah menyiapkan desain dan mulai jahit busana Lebaran mulai bulan November atau Januari. Jadi jauh-jauh hari sudah mulai membuat busana Lebaran,” tuturnya.

Kini, dari keuletannya dan kegigihannya dalam berbisnis. Sejak 2015, dia mulai memberanikan diri membuat peragaan busana dengan menampilkan rancangannya sendiri. Antusias konsumen dan masyarakat Purwodadi pun mendukung penuh peragaan busana tersebut.

Tak hanya disitu, pada 2006 dia sempat membuat dua peragaan busana dengan menghadirkan artis ibu kota seperti Dewi Sandra dan menggandeng Totok Shahak. (*)

 

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#grobogan #Desainer Busana Muslim #sosok #profil