Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Sosok Farida Susanti, Perempuan di Kudus yang Jadi Mualaf saat SMP: Diterpa Bisikan Negatif, Makin Perdalam Ngaji

Indah Susanti • Jumat, 7 Maret 2025 | 18:17 WIB

 

SEDERHANA: Farida Susanti seorang mualaf saat bercerita pengalamannya yang datang ke kantor Jawa Pos Radar Kudus.
SEDERHANA: Farida Susanti seorang mualaf saat bercerita pengalamannya yang datang ke kantor Jawa Pos Radar Kudus.

Farida Susanti, perempuan mualaf yang masuk Islam sejak duduk di bangku SMP tahun 1987 dan sekarang ini semakin kuat keimanannya dalam mendalami dan belajar Alquran.

Dibawah lindungan Rumah Mualaf Kudus, Farida merasa nyaman.

INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus

Menjadi seorang mualaf tidak mudah seperti apa yang dibayangkan orang-orang selama ini.

Seperti yang dialami Farida Susanti, perempuan paruhbaya yang sekarang ini berprofesi sebagai terapis, memiliki kisah penuh perjuangan dalam mempertahankan akhidah dan kenyakinan menjadi muslim.

Ida sapaan akrabnya, hidup dengan kesederhanaan. Tetap, ia tak malu berbaur dengan orang-orang dari semua kalangan.

Ia mudah akrab dan tak malu menceritakan kisah masa lalunya. Dari sisi berpakaian Ida menunjukkan perempuan mualaf yang imannya tak mudah goyah.

Mengenakan gamis dan hijab dengan warna hijau senada, Ida dengan semangatnya mengual masa lalunya yang sebenarnya ia berat untuk mengungkapkan kembali. Kisah Ida dimulai dari keluarga yang broken home.

Bapak kandungnya yang juga seorang mualaf karena asli Flores, Nusa Tenggara Timur (NTT) menikah dengan ibunya yang memang keluarga muslim.

Saat menjalani rumah tangga, bapaknya Ida tak bertanggung jawab dan meninggalkannya bersama ibu dan memilih untuk menikah lagi.

Saat itulah ekonomi ibunya Ida yang bernama Sutasmi tumbang, beruntungnya hanya merawat Ida pada saat itu masih bayi, karena kakak perempuannya meninggal. Mereka berdua hidup dengan serba kekurangan

Melihat kondisi yang serba kekurangan, ibunya Ida diminta Budhe dari Ida ikut membantu karena memiliki warung, namun dengan syarat tidak diperbolehkan menjalankan salat, karena budhenya Ida non Muslim.

”Waktu itu ibu saya terpaksa mengikuti permintaannya, sebenarnya keluarga ibu muslim termasuk budhe dan pakdhe saya. Karena ada sesuatu hal mereka memutuskan pindah agama dan menjadi non muslim,” ungkapnya.

Bertahun-tahun lama ikut budhe, sampailah Ida menginjak usia remaja. Masih ingat betul, pada waktu duduk dibangku kelas III atau sekarang ini kelas IX SMP.

Ida memiliki teman bernama Kusmiyati, tiap kali memasuki salat Dhuhur dirinya diajak ke Masjid, meski sekadar menunggu dan diam-diam melihat orang salat di balik ventilasi.

”Saya berkata dalam hati…Oooo, caranya salat seperti itu. Karena sering diajak ke masjid, entah kenapa hati kecil saya mengatakan, Kamu Masuk Islam, rasanya ada gugahan dari hati. Pada waktu itu, sempat saya abaikan, tapi lama-lama pikiran dan hati saya mengajak saya menjadi muslim,” kata Ida.

Kemudian, semakin kencang niatnya ingin menjadi mualaf, Ida berbicara kepada Kusmiyati bahwa dia ingin masuk Islam.

Tepatnya Desember 1989, ia mengucapkan dua kalimat Syahadapan dihadapan keluarga Kusmiyati.

”Saya ingat itu waktu ujian kelulusan, karena saya baru masuk Islam dan sudah laporan ke sekolah, banyak yang mensuport,” jelasnya.

Ada cerita lucu tapi sebuah perjuangan. Ida resmi mualaf tentunya untuk mengisi nilai keagamaan ia harus mengerjakan soal Pendidikan Agama Islam (PAI), berhubung ia tidak tahu sama sekali dibantu jawab gurunya dengan menggunakan kode-kode jari.

”Pada waktu ada soal jawaban Surat Al Ikhlas saya panik tapi teman saya bantu melempar kertas jawaban, tidak tulisan arab tapi tulisan biasa, karena saya belum bisa ngaji,” ucapnya.

Perjuangan Ida menjadi mualaf juga penuh rintangan, harus menghadapi budhenya yang tidak menginginkan dia pindah agama. Ia belajar salat dan berusaha menjalani lima waktu, itu di rumah Kusmiyati.

”Rumah budhe saya dan Kusmiyati dekat, sama-sama berada di Desa Getas Pejaten, Kecamatan Jati. Jadi, tiap kali saya salat Dhuhur sampai Magrib saya alasan belajar kelompok di rumah Kusmiyati, karena subuh tidak ada alasan keluar rumah jadi terpaksa tidak salat,” ucapnya.

Menjelang memasuki SMK, ibu kandung Ida menikah lagi dan mendapatkan laki-laki muslim.

Sehingga, ibunya masuk Islam dan pindah rumah ikut suaminya yang baru. Tinggal Ida sendiri dengan persembunyiannya sebagai muslim di rumah budhenya, ia diam-diam memperdalam agama Islam.

Setahun kemudian, ia keluar dari rumah budhenya dan hidup bersama ibu dan ayah tirinya.

Kemudian, ia memberitahukan bahwa dia sudah memeluk agama Islam, dan budhenya baru tahu setelah ia hidup bersama ibunya.

Namun, perjalanan Ida dalam mendalami agama Islam tidak mulus. Diusianya 34 tahun menikah namun selama pernikahan tidak pernah diperhatikan dan memilikih untuk berpisah.

Ida di karuniani satu anak laki-laki dan sekarang ini mengenyam pendidikan di pondok pesantren.

”Saya itu masih terkendala belajar mengaji, karena faktor usia jadi daya ingatnya sudah berbeda,” ungkapnya.

Sulit sekali menghafal huruf hijaiyah kalau sudah digandeng-gandeng. Kalau untuk hafalan saya bisa, saya hafal surat-surat pendek.

Dan, Ida mendoktrin dirinya sendiri ayo belajar Alquran dan seperti diberi pentunjuk oleh Allah SWT, dipertemukan dengan orang-orang baik yang mensuport keimannya dan memberikan ilmu yang ia tidak tahu sebelumnya. (*/him)

Editor : Ali Mustofa
#muslim #agama islam #keagamaan #mualaf #Farida Susanti