Berbekal pengalamannya menjadi guru TK selama sembilan tahun, menjadikan Yayang Dini Nur Frihartini tertarik masuk ke dunia anak lebih dalam.
Dia pun menjadi pendongeng. Tujuannya agar anak-anak dapat menyerap nilai kebaikan lewat kisah menarik tanpa merasa digurui.
INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan
Hampir 12 tahun Yayang Dini Nur Frihartini setia mendongeng. Demi kelancaran menuturkan cerita pada anak-anak, dia rela berhenti menjadi guru.
Semangat untuk bisa lihai mendongeng pun ditekadkan, meski harus beberapa kali mengikuti les mendongeng di daerah Grobogan hingga ke Jogjakarta.
Hobi mendongeng Yayang dimulai sejak kecil. Dari kerap mendengar kakeknya yang juga hobi bercerita dengan bahasa Sunda.
Berbekal kelihaiannya berbicara di depan umum dan bercerita secara runtut, membuatnya mulai tertarik dan menekuni dongeng.
Sebelumnya, selama lima tahun menjadi guru TK di Bandung, perempuan kelahiran Bandung, 21 Desember 1984 ini, mengaku sangat membutuhkan skill mendongeng.
”Lalu pada 2011 saya menikah dan pindah di Grobogan. Di sini saya juga sempat menjadi guru, sekaligus saya mulai ikut les mendongeng yang dibuka Kak Erwin waktu itu,” ujarnya.
Selama empat kali pertemuan, ia yang selalu konsisten datang dibanding temannya yang lain.
Bahkan, peserta kelas mendongeng pun selalu berubah dan berganti wajah setiap pertemuan.
Meski begitu tak menyurutkan niatnya, malah baginya itu kesempatan emas untuk memperdalam pengalaman mendongeng.
Sebab, ia bisa banyak bertanya kepada pelatih dan lebih fokus.
Mulailah pada 2013, Yayang bersama pendongeng Grobogan lain membentuk Ikatan Pencerita Anak Muslim (IPAM).
Kelompok ini membiasakan anak-anak gemar membaca dan mendengarkan dongeng.
Inisiatif Yayang membentuk IPAM melalui parade cerita, karena prihatin dengan minat anak-anak untuk membaca yang masih rendah.
”Di sinilah saya mulai banyak tawaran mendongeng sendiri maupun bersama teman-teman,” jelas perempuan yang kini tinggal di Jalan Soponyono 6, Jetis, Kecamatan Purwodadi, Grobogan, ini.
Kini hampir setiap pekan Yayang selalu menyempatkan diri untuk mendongeng. Yang dihadapinya bermacam-macam.
Ada anak-anak yang terbaring sakit di rumah sakit, anak di tempat pengungsian banjir, sekolah, panti asuhan, perpustakaan, car free day (CFD), PAUD, dan TK.
Tak hanya di Grobogan, tapi juga hingga ke luar kota seperti Kudus, Jepara, dan Semarang. Tak jarang ia pun mendongeng secara cuma-cuma.
”Lebih sering diundang digiat sosial dan sukarela. Jadi kerap tidak pasang tarif. Saya juga kerap mengisi di sekolah yang ada di pelosok desa. Mereka ingin sekali didatangi, tapi minim bujet. Namun kalau pengundang punya bujet ya ada tarifnya. Namun bayaran paling besar adalah senyum dan tawa anak-anak,” ungkapnya.
Anak ke satu dari dua bersaudara ini mengungkapkan, selama mendongeng ia selalu mendapatkan sambutan antusias dari anak-anak.
”Setiap pertemuan mereka selalu tertarik, malah sampai lupa waktu. Kalau anak-anak semakin asyik menikmati, malah saya semakin mudah melontarkan candaan,” ujarnya.
Setelah kerap mengisi dongeng, kini ia sudah lihai mendongeng dengan membawakan beberapa boneka karakter buatan timnya.
”Kini kami sudah memakai opret boneka dengan empat karakter andalan, yakni Dondong, Cenul, Si Moli, dan Grobi. Kami membuat karakter sendiri. Setiap boneka memiliki karakter dan sikap berbeda,” katanya.
Empat boneka dengan karakter berbeda juga sangat ditonjolkan saat mendongeng. Terpenting adalah pesan moral di setiap penyampaiannya.
Sehingga ia selalu membawakan cerita sederhana, ringan agar mudah ditangkap anak-anak.
Dia merasakan manfaat mendongeng amat besar. Suri teladan dapat terpatri dalam sanubari anak-anak tanpa melalui ceramah yang menjemukan.
Di antaranya, membuang sampah di tempatnya, sopan santun, persahabatan tulus, akhlak terpuji, dan pelajaran sekolah. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa