Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati pedoman media siber Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Lebih Dekat dengan Astuti Ananta Toer, Putri ke-4 Pramoedya Ananta Toer Asal Blora yang Kenang Sang Ayah Jadi Tahanan Politik

Arif Fakhrian Khalim • Senin, 17 Februari 2025 | 17:08 WIB

 

 

KENANG AYAH: Astuti Ananta Toer, putri ke-4 Pramoedya Ananta Toer (kiri) dan Aditya Ananta Toer, adik Astuti saat acara membacakan memorial lecture Seabad Pramoedya Ananta Toer.
KENANG AYAH: Astuti Ananta Toer, putri ke-4 Pramoedya Ananta Toer (kiri) dan Aditya Ananta Toer, adik Astuti saat acara membacakan memorial lecture Seabad Pramoedya Ananta Toer.
Dulu, Astuti Ananta Toer menemani sang ayah saat bekerja menjadi juru tulis hingga dibayangi stigma anak tahanan politik (tapol) rezim orde baru.

Kini dia bahagia, karena Pramoedya diperingati seabad serta buah karyanya jadi teladan hidup keluarga dan bangsa.

ARIF FAKHRIAN KHALIM, Blora, Radar Kudus

PARA tokoh nasional seperti Hilmar Farid, Bony Triana, dan pengagum Pramoedya Ananta Toer membacakan memorial lecture Seabad Pramoedya Ananta Toer di Pendapa Kabupaten Blora.

Astuti Ananta, putri ke-4 Pram dan keluarga mendengarkan dengan seksama, seperti mengingat kembali sosok ayah yang menjadi kebanggaan keluarga.

“Senang bahwa Pram lebih diakui dan dihormati dengan agenda festival seabad ini,” ungkap Astuti usai acara Memorial Lecture Kamis (6/2) lalu.

Anak keempat dari delapan bersaudara itu, masih terkenang masa kecilnya bersama sang ayah. Banyak kesan yang tak akan sirna dalam benaknya.

Saat masih berusia delapan tahun Astuti sering diajak Pram untuk bekerja menjadi juru tulis di salah satu media cetak Bintang Timur, Lembaran Lentera. Astuti mempersiapkan peralatan ayahnya hingga diminta membantu mengetik tulisan.

“Saya sudah bisa mengetik dengan 10 jari, ke mana Pram pergi ke luar kota saya ikut. Pada 1962 ikut agenda rapat Pram. Dari kapal ke satu pulau ke pulau yang lain,” ungkapnya.

Perempuan kelahiran 1956 itu, juga masih teringat saat Pram dijadikan tahanan politik (tapol) pada rezim orde baru. Pada saat itu, dirinya merasa kehilangan sosok ayah.

Dia bertanya ke mana ayahnya pergi, tapi tak ada jawaban pasti. “Bertanya yang lain kan tidak tahu. Saya kan anak tapol, tapi saya berusaha sendiri. Kadang sedih gimana gitu,” ujarnya.

Saat Pramoedya dipenjara, keluarganya merasa waswas. Setelah pindah ke rumah sederhana di Utan Kayu Jakarta, rasa khawatir masih menghantui.

Saat itu, jika ada orang berseragam hijau, ibunda Astuti sudah bersiap untuk menyembunyikan anak-anaknya.

Eh itu ada baju hijau, ibu sudah siap-siap. Anak-anak dimasukan ke dalam rumah. Ada yang disembunyikan di dalam lemari dan kolong kasur,” kenangnya.

Pramoedya selalu bercerita tentang masa kecil dan masa saat di penjara kepada anak-anaknya. Menurutnya, Pram adalah sosok yang selalu merasa sunyi, akan merasa senang jika ada lawan bicaranya, semangatnya akan menggebu-gebu.

Astuti berharap, generasi yang akan datang menangkap sinyal yang sudah ditulis Pram. “Selama ini Pram itu berharap, pembaca buku-bukunya dapat menangkap sinyal yang telah ditulis,” katanya.

Menurutnya, Blora menjadi salah satu daerah yang diceritakan Pram paling banyak dalam bukunya, seperti yang tertuang dalam buku Cerita dari Blora, Bumi Manusia, dan Gadis Pantai.

Memuat khazanah epistemologi mengenai Gunung Kendeng, Kali Lusi, masyarakat Samin, dan kondisi sosial masyarakat saat itu.

Ia masih terkenang saat diajak ke Blora oleh ayahnya. Pram suka sekali dengan tahu telor. Pada kesempatan di Blora itu pada Rabu (5/2) lalu, Astuti pun merasakan lagi tahu telor yang disukai ayahnya tersebut.

“Kulinernya (Blora, Red) hampir semuanya enak, tapi yang saya suka itu tahu telur. Pram juga seperti itu, Beliau tidak makan daging,” imbuhnya. (*/lin)

Editor : Noor Syafaatul Udhma
#sastrawan #pramoedya ananta toer #blora