EKO SANTOSO, Blora, Radar Kudus
BUKU berjudul Sang Pemula disodorkan lelaki berkumis dan berjenggot putih tebal itu kepada wartawan koran ini. Pria berkumis tersebut yakni Soesilo Toer, adik kandung dari Pramoedya Ananta Toer.
”Ini baca dulu kalau mau mengenal Tirto,” jelasnya Soesilo Toer, adik Pramoedya Ananta Toer.
Buku itu tampak bukan asli. Hasil fotokopi. ”Buku itu cloningannya. Aslinya, dulu sempat dipinjam Bupati Blora Yudi Sancoyo,” ujarnya.
Menurut Soes, Yudi Sancoyo terpaksa meminjam ke Soes karena tak tahu siapa itu Tirto, tatkala ditanya SBY saat perayaan hari pers di Jateng beberapa tahun lalu.
Soesilo Toer menyebut, Tirto merupakan bapak pers. Sebagaimana keputusan dewan pers RI pada 1973, menggantikan Adinegoro.
"Ketika nama Tirto dikenal, akhirnya dialah yang dijadikan tokoh pers. Karena kontribusinya lebih lengkap. Mendirikan surat kabar Medan Priyayi hingga menulis di berbagai surat kabar," imbuhnya.
Soesilo Toer menyebut melacak Tirto memang agak sulit. Tidak diketahui benar kapan dia lahir dan bagaimana silsilahnya.
Bahkan dalam nisannya pun tak tercantum tanggal kelahirannya. Hanya tertulis tahun saja. Lahir 1880 dan wafat 1918.
"Semula makam itu di Mangga Dua (Jakarta Pusat). Tetapi karena lokasi tersebut dibangun homestay, akhirnya dipindah ke Bogor," jelasnya.
Tetapi teka teki soal kelahiran Tirto memang sulit. Pram bahkan hanya menuliskan Tirto lahir di Kota B. Itu antara Blora atau Bojonegoro. Tapi dalam tahun itu, Bojonegoro masuk wilayah Blora.
"Gedung DPRD Blora itu karesidenan. Membawahi beberapa kabupaten. Termasuk Bojonegoro. Jadi tidak salah kalau Pram diklaim lahir di Blora," terangnya.
Atas dasar itulah Blora disebut kota pemberontak. Sehingga pada masa kolonial, kereta tak melintas di situ.
Terkait benarkah Tirto anak dari Bupati Blora, Soes tidak sepakat. Menurutnya kakeknyalah yang bupati Blora.
Bukan ayahnya. Ayah Pram salah satu anak Bupati Blora yang kemudian bertugas menjadi penarik pajak di Bojonegoro. Sementara buyutnya itu Chan Kadut Bupati Lasem. Jadi dia itu keturunan China.
Tirto juga memiliki trah Solo. Karena dia menikah dengan keturunan Hamengkubuwono 7.
"Istri Tirto juga tak cuma satu. Dia itu buaya juga. Ada beberapa kan itu. Pernah dibuang ke Belitung. Selain itu di Bacan. Dia Kawin juga. Belum yang tidak dikenal. Kita gak tau," terangnya.
Tirto sendiri menempuh pendidikan di HBS dan berlanjut di STOVIA. Dia hidup secara mandiri berkat didikan neneknya. Itulah yang kemudian ditiru Pram dan Soes.
Selain dikenal menjadi tokoh pers, Tirto juga berkontribusi dalam masa pergerakan nasional.
Turut mendirikan SDI yang kemudian berubah menjadi sarekat islam. Sebelum akhirnya diambil alih kendalinya oleh Hos Cokroaminoto.
"Dia juga dikenang mendirikan sekolah perempuan Darmorini. Terletak di Kauman Jalan Dr Soetomo Blora. Sampai sekarang masih ada," katanya.
Idealisme, perjuangan, dan karyanya membuat Tirto jadi panutan. Sehingga dia memiliki murid. Di antaranya yakni mas Marco Kartodikromo. Dia juga mewarisi gaya penulisan Tirto yang bernas, mengkritik, dan tajam atas ketidakadilan pemerintah kolonial.
"Bahkan dia dibuang ke Digul. Sering ditengok istrinya orang Solo. Dikira kelahiran solo. Padahal kelahiran Cepu," imbuhnya.
Saat menjelang ajal Tirto, Mas Marco juga setia. Dari dua orang yang mengantarkan ke liang kubur, satu diantaranya Mas Marco.
"Tirto meninggal di hotel dalam kondisi mlarat. Sebab kekayaannya sebelum meninggal diserahkan pada Gunawan. Dia juga sakit-sakitan. Musuhnya banyak. Karena tulisan-tulisannya," katanya.
Berkaca dari kehidupan Tirto, Soes kemudian berpesan pada semua insan pers. Bahwa wartawan harus hidup berani. Soal menang kalah lain lagi. Hanya yang berani yang bisa menaklukkan dunia.
"Tapi ancaman pers ya gitu. Bui atau mati. Menulis adalah keabadian kata Pram. Kalau Saya adalah seorang liberal yang tumbuh dalam keadaan kesulitan dan tertindas. Yang beriman pada kebebasan. Kalau agama itu sandaran hidup," jelasnya. (*/zen)
Editor : Noor Syafaatul Udhma