Inilah sosok Annisa Himmatul Aulia berhasil lulus koas dokter Undip Semarang. Dia dari keluarga sederhana. Anak dari pasangan M. Mahfudl, buruh tukang kayu dan Alina seorang penjahit.
Andika Trisna Saputra, Kudus, Radar Kudus
ANNISA Himmatul Aulia berhasil membuktikan bahwa keterbatasan ekonomi bukan penghalang untuk meraih impian jadi dokter.
Lahir di keluarga sederhana di Dukuh Kalilipo, Desa Klumpit, Kecamatan Gebog, Kudus, anak seorang buruh harian lepas dan penjahit itu sukses mengukir prestasi akademik hingga meraih gelar dokter dengan IPK 3,96 dari Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip).
Sejak bersekolah di MAN 2 Kudus, Annisa sudah aktif dalam berbagai kegiatan akademik dan pengembangan diri.
Ia tergabung dalam Gerakan Tunas Bangsa, program yang membantunya memperoleh beasiswa pengembangan diri serta beasiswa bulanan sebesar Rp 100 ribu.
Di sini, ia bertemu banyak orang yang memotivasinya untuk melanjutkan pendidikan ke jenjang lebih tinggi.
Ketertarikannya pada sains membawanya meraih berbagai prestasi akademik, di antaranya: Olimpiade Sains Nasional (OSN) Biologi, Juara 1 OSN tingkat Kabupaten Kudus (2018), Lolos OSN tingkat Provinsi Jawa Tengah (2018), Medali Perunggu OSN tingkat Nasional di Padang, Sumatera Barat (1-7 Juli 2018), Kompetisi Sains Madrasah (KSM) Biologi, Juara 1 tingkat Kabupaten Kudus, Juara 2 tingkat Provinsi Jawa Tengah, Medali Perak tingkat Nasional di Bengkulu (September 2018).
Berkat prestasi akademiknya, Annisa diterima di Fakultas Kedokteran Universitas Diponegoro (FK Undip) melalui jalur SNMPTN.
Keterbatasan ekonomi tidak menjadi hambatan, karena ia memperoleh beasiswa Bidikmisi (kini KIP-K) yang membiayai pendidikannya hingga program koas.
Selain itu, ia juga mendapatkan Smart Scholarship yang kemudian berlanjut menjadi Bright Scholarship dari YBM Brillian.
Beasiswa itu tidak hanya membiayai kuliah, tetapi juga menyediakan asrama selama dua tahun serta pembinaan intensif, baik harian maupun bulanan.
Annisa juga aktif dalam program pemberdayaan masyarakat, mengajar anak-anak TPQ, siswa SMA yang mempersiapkan ujian kuliah, serta mengajar anak SD di Desa Penawangan, Kabupaten Semarang.
Di tengah kesibukannya sebagai mahasiswa kedokteran, Annisa juga aktif di berbagai organisasi. Mahasiswa Pecinta Alam FK (Maladica) menjabat sebagai Sekretaris; Rohis Fakultas (Avicenna) sebagai sekretaris bidang Penelitian dan Pengembangan; Rohis Jurusan menjadi anggota aktif; dan mengikuti Pelatihan Kepemimpinan SSC (Salman Spiritual Camp) oleh Salman ITB.
Perjalanan Annisa di Undip penuh perjuangan. Sebelum mendapatkan asrama dari Bright Scholarship, ia hampir dua semester tinggal di Rusun Undip, di mana setiap hari harus berjalan kaki 15 menit melewati Waduk Undip karena tidak memiliki kendaraan.
Saat pandemi, ia kembali ke Kudus, lalu pindah ke asrama setelah mendapatkan beasiswa Bright Scholarship. Setelah dua tahun di asrama, ia kembali kos di Bulusan, Semarang, hingga lulus.
Puncak perjuangan Annisa terjadi saat pengambilan sumpah dokter di Gedung Prof. Soedharto, SH, Tembalang, Semarang, pukul 08.00 - 12.30 WIB pada Senin (3/2).
Momen ini menjadi titik awalnya untuk mengabdikan diri di dunia medis. Kedua orang tuanya dengan bangga menghadiri acara tersebut.
Kini, Annisa telah menyelesaikan program koas di RS Kariadi Semarang dengan perjalanan PP selama satu jam setiap hari. Meski penuh tantangan, ia berhasil lulus dengan IPK 3,96, membuktikan bahwa ketekunan dan semangat juang dapat mengantarkan seseorang menuju impian.
Kisah inspiratif Annisa Himmatul Aulia menjadi bukti bahwa kerja keras, doa, dan kesempatan yang dimanfaatkan dengan baik dapat membawa seseorang melampaui keterbatasan. Ia berharap perjalanannya dapat memotivasi generasi muda, terutama dari latar belakang ekonomi sederhana, untuk terus bermimpi dan berjuang demi masa depan yang lebih baik. (*/zen)
Editor : Noor Syafaatul Udhma