Rumah Merah di Desa Karangturi menjadi bangunan ikonik di Lasem, Rembang. Padahal, dulunya sempat menjadi sarang burung walet.
Sekarang, sudah berkembang menjadi penginapan, restoran, hingga rumah pengrajin batik.
VACHRI RINALDY L, Rembang, Radar Kudus
Suasana pecinan begitu terasa ketika masuk di area Desa Karangturi, Lasem. Deretan rumah-rumah tionghoa kuno berjajar di sepanjang jalan.
Dari deretan itu, ada satu bangunan yang mencolok. Warnanya didominasi warna merah menyala.
Ya, itu lah yang disebut Rumah Merah. Tenpat ini terdiri dari benerapa bangunan.
Ada yang dijadikan sebagai penginapan, restoran, showroom batik, dan rumah pengrajin batik.
Beberapa waktu lalu, Jawa Pos Radar Kudus mengunjungi bangunan milik Rudi Hartono ini.
Begitu sampai di halaman restoran, pengunjung langsung bisa melihat aktifitas warga membatik.
Letaknya berada di sebrang jalan berhadapan dengan restoran.
Bangunan yang disebut sebagai rumah pengrajin batik itu terlihat cukup tua. Sebagian besar didominasi bahan kayu.
Kompleks rumah merah ini memang terdiri dari beberapa rumah tionghoa yang usianya lebih dari seabad yang lalu.
Ahmad Niam, Pramuwisata Rumah Merah Heritage mengajak wartawan koran ini berkeliling.
Ia memulai dari bangunan yang berada di paling barat. Jika dilihat dari luar, kondisinya masih terlihat kokoh.
Begitu masuk, langsung disambut dengan Patung Kongco Kwan Sing Tee Kun atau Dewa Perang, pernak-pernik bertuliskan ukiran aksara tionghoa, juga lampion-lampion.
Niam bercerita, bangunan tersebut diperkirakan berdiri pada 1860-an. Rudi Hartono, pemilik rumah saat ini membeli dari seorang warga yang saat itu sudah tidak lagi tinggal di Lasem.
"Pada tahun 2012 rumah ini ditawarkan kepada pemilik yang sekarang. Namanya Bapak Rudy Hartono (pemilik Rumah Merah saat ini,Red)," jelasnya.
Niam bilang, setelah beralih kepemilikan, Rudy Hartono mencoba mengembalikan bangunan ke bentuk asli.
Sebab, sudah sekitar 10 tahun sebelum dibeli, rumah ini dijdikan sebagai sarang burung walet.
"Full, rumah utamanya juga dijadikan sarang burung walet. Dan rumah ini dibangun dikembalikan lagi ke bentuk asli," katanya.
"Prosentase keaslian dipastikan asli. Cuman kami memperbaiki ornamen, bagian rumah yang sudah rusak atau lapuk. Untuk furniturnya berbentuk repro. Konsepnya memang lama, pembuatannya tahun-tahun belakangan ini. Yang asli memang bangunannya," menambahkan.
Setelah dari ruangan tersebut, Niam mengajak menuju halaman belakang. Di sana terdapat sumur berwarna kuning, yang disebut dengan sumur naga.
Saat ini, rumah merah sudah berkembang. Niam mengatakan, pada 2015, rumah merah mulai kedatangan tamu. Saat itu, digunakanlah sebagai angkringan hingga tempat bermalam.
"Dulu tempat bermalam cuma punya empat kamar saja. Tempat batik cuma punya satu kamar saja," katanya.
Selanjutnya, pada 2017, pemilik kembali mendapatkan tawaran rumah. Sejak itu Rumah Merah semakin berkembang.
Selain penginapan, di sini juga ada rumah batik. Lokasimya bersebelahan dengan bangunan induk. Arsitekturnya juga mencerminkan corak tionghoa.
Pada 2018, berkembang lagi dengan menambah penginapan menjadi 18 kamar.
Di sebelah rumah batik, terdapat bangunan lagi yang sekarang dijadikan sebagai restoran dengan menu-menu ala chinese food.
"Kami juga mengembangkan yang dulunya angkringan menjadi restoran dengan gaya chinese food-nya itu," jelasnya.
Pada 2021, luasan kompleks Rumah Merah bertambah lagi, dengan adanya bangunan yang ada di sebrang restoran itu.
Sekarang disebut sebagai rumah pengrajin batik. Sekaligus menjadi tempat untuk mengenalkan produksi Batik Tulis Lasem. Rumah pengrajin batik ini, kata Niam, sampai sekarang juga masih asli. (*/him)
Editor : Ali Mustofa