Rembang - Suasana khas Pecinan begitu terasa ketika memasuki Desa Karangturi, Lasem.
Deretan rumah-rumah Tionghoa kuno berjajar rapi di sepanjang jalan, memberikan nuansa klasik yang begitu kuat.
Di antara bangunan-bangunan bersejarah itu, ada satu yang tampak mencolok dengan warna merah menyala.
Itulah Rumah Merah, destinasi heritage yang kini berkembang menjadi penginapan, restoran, dan pusat pengrajin batik.
Beberapa waktu lalu, Jawa Pos Radar Kudus berkesempatan mengunjungi bangunan ikonik ini.
Begitu sampai di area restoran, pengunjung langsung disuguhi pemandangan aktivitas membatik warga sekitar.
Di seberang jalan, rumah pengrajin batik tampak berdiri kokoh meski usianya sudah lebih dari seabad.
Sebagian besar bangunannya didominasi bahan kayu, memperkuat kesan klasik dan autentik.
Ahmad Niam, pramuwisata Rumah Merah Heritage, menjadi pemandu dalam kunjungan ini.
Ia menjelaskan bahwa kompleks Rumah Merah terdiri dari beberapa rumah Tionghoa tua yang umurnya mencapai lebih dari seratus tahun.
Bangunan utama diperkirakan berdiri pada 1860-an dan sempat berpindah kepemilikan hingga akhirnya dibeli oleh Rudi Hartono pada 2012.
Dari Sarang Burung Walet ke Rumah Heritage
Sebelum menjadi destinasi heritage seperti sekarang, Rumah Merah sempat mengalami perubahan fungsi yang cukup drastis.
"Sebelum dibeli oleh Pak Rudi, rumah ini sudah sekitar 10 tahun dibiarkan kosong dan dijadikan sarang burung walet," ujar Niam.
Saat membeli rumah tersebut, Rudi Hartono bertekad mengembalikan bangunan ini ke bentuk aslinya.
Ia melakukan restorasi dengan tetap mempertahankan keaslian arsitektur. "Prosentase keaslian bangunan ini masih sangat tinggi.
Kami hanya memperbaiki bagian-bagian yang rusak atau lapuk, sementara furniturnya merupakan replika dengan desain yang tetap mencerminkan era lama," tambah Niam.
Di halaman belakang rumah, terdapat sumur berwarna kuning yang disebut sebagai Sumur Naga, menambah daya tarik mistis dan historis dari tempat ini.
Perkembangan Rumah Merah
Rumah Merah mulai berkembang pada 2015, ketika mulai menerima tamu untuk menginap.
Saat itu, fasilitas yang tersedia masih terbatas, hanya empat kamar untuk penginapan dan satu ruang untuk batik.
Namun, antusiasme masyarakat terhadap destinasi heritage ini semakin meningkat.
Pada 2017, kompleks ini bertambah luas setelah Rudi Hartono kembali membeli rumah di sekitar area tersebut.
Sejak saat itu, Rumah Merah berkembang pesat, bukan hanya sebagai tempat bermalam, tetapi juga menjadi pusat batik dan restoran yang menyajikan menu khas Chinese food.
Pada 2018, jumlah kamar penginapan bertambah menjadi 18 unit, serta restoran semakin diperbesar untuk memenuhi permintaan pengunjung.
Kemudian, pada 2021, area kompleks ini kembali diperluas dengan pembangunan rumah pengrajin batik di seberang restoran.
Rumah tersebut kini menjadi tempat edukasi bagi wisatawan yang ingin mengenal lebih jauh tentang proses pembuatan Batik Tulis Lasem.
"Kami ingin menjaga warisan budaya ini tetap hidup, sekaligus mengenalkan Lasem sebagai kota heritage yang memiliki daya tarik luar biasa," kata Niam.
Kini, Rumah Merah bukan hanya sekadar bangunan tua yang direstorasi, tetapi juga menjadi simbol keberlanjutan sejarah dan budaya Tionghoa di Lasem.
Dari yang dulunya hanya sarang burung walet, kini menjadi destinasi wisata yang menawarkan pengalaman menginap, kuliner, hingga belajar membatik dalam nuansa heritage yang autentik. (*)
Editor : Mahendra Aditya