Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Melihat Kepercayaan Unik Warga Pati di Musim Durian: Dipercaya Jadi Obat Mandul, Durian Sisa Bajing Ramai Diburu

Achmad Ulil Albab • Minggu, 5 Januari 2025 | 20:59 WIB

 

Karyono, pedagang durian di Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati menunjukkan dagangannya. 
Karyono, pedagang durian di Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal Kabupaten Pati menunjukkan dagangannya. 

Sejak Desember hingga Januari ini Kabupaten Pati sedang musim durian.

Selain berburu durian dengan kualitas daging buah terbaik, ada yang unik di masyarakat Pati.

Yaitu berburu buah durian sisa hewan bajing karena dipercaya jadi obat bagi yang sulit memiliki keturunan.

ACHMAD ULIL ALBAB, Radar Kudus, Pati

Di tengah-tengah memilah buah durian, Dyah Puji Astuti seperti mendapat rejeki nomplok siang itu.

Perempuan asal Desa Jrahi Kecamatan Gunungwungkal Pati itu mendapat satu buah durian yang “istimewa”.

Buah durian yang ditemukan Dyah adalah buah durian sisa yang dimakan hewan bajing alias tupai.

Bentuknya seperti durian-durian pada umumnya, hanya ada bekas gigitan bajing di kulit buah berduri tajam itu.

Bagi beberapa orang di Kabupaten Pati terdapat mitos unik terkait buah durian itu.

Mitos itu yakni, durian sisa bajing diyakini bisa menjadi obat bagi pasangan yang belum dikaruniai keturunan atau mandul.

Mitos ini membuat sisa sebagian durian yang dimakan hewan mammalia itu diburu sejumlah orang.

Khususnya sebagian warga Pati yang belum mendapatkan keturunan dan percaya dengan hal itu.

“Senang banget dapat durian sisa bajing ini, saya ingat saudara ada yang belum dikarunia anak. Kebetulan dapat saya beli,” ungkapnya.

Awalnya saat itu Dyah yang mengaku pecinta buah durian itu hendak membeli durian lokal di salah satu penjual langganannya di Desa Giling Kecamatan Gunungwungkal.

“Beruntung dapat durian sisa bajing ini. Saudara saya memang sedang mencari durian seperti ini," ujar dia.

"Mitosnya seperti itu. Ya ini salah satu ikhtiar atau jalan agar mempunyai keturunan. Dikaruniai keturunan oleh Allah,” katanya.

Dyah sendiri sadar, meskipun hanya mitos dan belum terbukti oleh secara ilmiah, namun ia menganggap tidak ada salahnya untuk mencoba sebagai wujud ikhtiar.

Karyono, pedagang durian di Desa Giling mengakui kepercayaan terhadap durian sisa bajing itu sudah ada sejak lama.

Para orang tua meyakini durian sisa bisa menjadi obat untuk pasangan yang belum dikaruniai anak alias mandul.

”Sisa bajing dari orang-orang tua dulu itu sering dicari orang yang belum dikaruniai keturunan. Tapi itu kan mitos. Allahu A'lam,” imbuh lelaki yang akrab disapa Yon ini.

Meskipun durian sisa bajing ini laris manis dan banyak orang yang mencari, namun ia mengaku tak mau manaikkan harga.

Harga durian sisa bajing masih sama bahkan lebih murah daripada durian normal.

”Banyak yang mencari. Harganya sama bahkan saya kurangi,” paparnya.  

Harga durian lokal di tempatnya bervariasi mulai Rp 20 ribu per buah hingga Rp 120 ribu per buah.

”Kita jualnya lokal king Nusantara. Harganya kisaran Rp 20 ribu sampai Rp 120 ribu tergantung rasa dan ukuran,” pungkasnya. (*/him)

Editor : Ali Mustofa
#pasangan #keturunan #pati #durian #mandul #mitos