JEPARA - Meniti karir dan tugas di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan daerah sejak April 2003 silam membuat keterampilan dan pengalaman Khoirul Mizan menjadi sangat matang. Termasuk dalam hal berjejaring.
Pria berusia 44 tahun yang berkelahiran 30 November 1980 tersebut tekun mendampingi masyarakat untuk memajukan dunia literasi hingga ke pelosok-pelosok desa di Indonesia.
Tak ayal, Irul yang kini sebagai Subkoordinator Layanan dan Referensi di Dinas Kearsipan dan Perpustakaan (Diskarpus) Jepara mendapatkan penghargaan sebagai pelatih ahli terbaik.
Penghargaan oleh Perpustakaan Nasional Republik Indonesia tersebut diberikan atas Irul dalam implementasi program tranformasi perpustakaan berbasis inklusi sosial (TPBIS) tertanggal 7 November 2024.
"Saya ditunjuk jadi pelatih ahli untuk memfasilitasi mengenalkan program ini, membagikan pelajaran kepada perpustakaan desa maupun taman baca masyarakat (TBM)," ucapnya.
Dalam mengemban dan melaksanakan tugas tersebut dirinya menerapkan tiga formulasi khusus supaya perpustakaan lebih berkelanjutan.
Meliputi peningkatan layanan informasi, seperti bagaimana mereka menambah koleksi bahan bacaan, penyediaan fasilitas internet atau yang dibutuhkan oleh masyarakat. Kemudian pelibatan masyarakat juga amat penting, serta advokasi ataupun jalinan kerjasama.
Pria lulusan Manajemen Informatika Fakultas Komputer Universitas Dian Nuswantoro 2001 tersebut terus mendedikasikan waktu, tenaga dan pikirannya untuk memajukan perpustakaan daerah.
"Dalam hal ini saya ditugaskan pertama kali pada 2015 di Timika dan Bima. Selain itu juga Jambi, Sumatra Utara, Aceh, Riau dan yang paling sering Papua dan Papua Barat," kenangnya.
Proses tersebut masih berjalan hingga sekarang, setidaknya dalam setahun bisa melakukan sampai tiga kali kunjungan dan living bersama masyarakat setempat.
Proses pendampingan turut dilakukan secara jarak jauh melalui pemanfaatan teknologi dan media sosial.
"Saya sudah berkeliling Indonesia, sampai sekarang masih berproses. Di mana setiap tahunnya ada evaluasi dan hingga saat ini dapat penghargaan. Tapi sebenarnya ya memang ini bagian dari tugas saya," tegasnya.
Penerapan pembelajaran sebaya dalam proses pendampingan yang ada menurut Irul amatlah klop. Sebab jawaban atas tantangan seringkali juga datang dari para penggiat literasi setempat.
Menurutnya apapun itu yang sulit ialah mengawali. Bagaimana mendorong desa untuk membangun perpustakaan, karena panen (kebermanfaatan) jangka panjang.
"Pembangunan di daerah dalam hal ini lingkup desa tidak melulu soal infrastruktur. Tapi pembangunan SDM juga penting. Kami mengajak masyarakat dan pemerintah desa setempat untuk ikut, karena kami siap mendampingi sampai tuntas. Kalau tidak punya sarpras, bisa mencarikan seperti fasilitasi komputer dan buku," terangnya.
Tak hanya itu, dirinya menyampaikan negara maju ialah negara yang punya SDM unggul. Perpustakaan menjadi salah satu garda terakhir untuk pemajuan tersebut.
"Harapannya perpustakaan menjadi tempat yang menyenangkan dan disukai banyak orang. Serta lebih mendapat keberpihakan dari pemerintah," ujarnya.
Sementara itu, hingga saat ini di Kabupaten Jepara sendiri telah terdapat 53 perpustakaan desa, 1 perpustakaan kelurahan dan 27 TBM.
Di antaranya seperti perpustakaan Desa Tulakan pernah mendapatkan juara nasional pada 2019. Di samping itu, juga terdapat Perpustakaan Tahunan yang memiliki cukup menarik.
Irul turut mengenang, masa-masa di mana perpustakaan daerah belum menerapkan sistem otomasi. Pihaknya juga menjadi salah satu perintis.
"Bahkan waktu mau otomasi dulu sempat ada yang menolak, tapi kemudian ada proses diskusi di dalamnya. Sehingga usulan tersebut jadi diterima," ujarnya.
Road maps jangka panjang yang diproyeksikan ialah untuk menata layanan. Agar perpustakaan terus dapat berkembang.
"Saya sendiri senang belajar apapun, senang jadi fasilitator karena di dalam proses pembelajaran tersebut saya juga belajar," katanya.
Penghargaan yang diterima tersebut dia persembahkan khusus untuk perpustakaan daerah dan Kabupaten Jepara secara umum.
"Ini tugas saya, dan terima kasih banyak kepada pimpinan karena telah memberi izin untuk terlibat dan mendukung," kesannya.
Perpustakaan Daerah Jepara sendiri kini memiliki buku cetak sebanyak 50.970 eksemplar dengan 30.256 judul. Sementara itu untuk buku digital sebanyak 3350 eksemplar dengan 2850 judul.
Hingga saat ini di Kabupaten Jepara sendiri diusahakan untuk ada 3-5 rintisan perpustakaan desa/kelurahan maupun TBM baru setiap tahunnya.
"Pengelola perpustakaan pun tidak hanya diajari pengelolaan buku seperti katalog saja. Tapi bagaimana harus sustainable. Sama dengan yang saya ajarkan di Papua ataupun Papua Barat. Bagaimana mengembangkan perpustakaan tidak hanya tempat pinjam buku, namun ya ada kegiatan," catatnya.
Saat ini pihaknya juga telah berpikir untuk membuka layanan perpustakaan hingga malam hari.
"Selain rencana perluasan gedung, kami berangan-angan untuk buka perpustakaan daerah sampai malam. Semacam kafe literasi, bisa dimulai tidak setiap hari tapi Jumat-Minggu," tandasnya. (fik)
Editor : Ali Mustofa