RADAR KUDUS – Saya berkunjung ke Kepulauan Karimunjawa pada Juli 2024. Di sana saya tinggal di sebuah rumah seorang pengajar di Pulau Karimunjawa. Mereka orang asli Karimunjawa: lahir dan besar di sana.
Selama tinggal selama dua hari di sana, listrik menyala sejak pagi hingga malam. Kipas angin, AC, hingga kulkas bebas menyala 24 jam.
Setelah istirahat di penginapan, saya mulai berjalan-jalan di Alun-alun Karimunjawa. Tujuan pertama saya ke penjual seafood yang berjejer rapi di pinggir alun-alun.
Setelah melihat berbagai macam seafood, pilihan saya jatuh pada lobster dan ikan kue bakar yang baru ditangkap hari itu. Ikan dan lobster tersebut tampak masih segar.
Saya menikmati makan malam bersama dua wisatawan dari China. Keduanya tampak sangat menikmati wisata di sana dan bercerita akan menjelahi pulau-pulau di Kepulauan Karimunjawa.
Selain dua wisatawan asal China, banyak juga wisatawan asal Taiwan, Jepang, hingga Korea Selatan juga berburu seafood di sana.
Sebelum bertemu dengan wisatawan asal China, taiwan, Jepang, hingga Korea Selatan, saya sempat bertemu dengan wisatawan asal Australia, Denmark, hingga Italia. Mereka ingin melihat kecantikan Kepulauan Karimunjawa yang dikatakan mirip dengan Maldives.
Penerangan di Alun-alun Karimunjawa sangat baik. Banyak lampu menyala di sana. Tidak hanya di jalan, tetapi dari lapak-lapak penjual ikan.
Suasana di alun-alun tersebut menjadi lebih semarak, menunjukkan bahwa listrik bisa mendorong geliat perekonomian di sana.
Salah satu penjual seafood di Alun-alun Karimunjawa bernama Aminah mengatakan, dulu, sebelum Tahun 2015, listrik di Karimunjawa hanya menyala saat malam saja. Itu pun dibatasi penggunaannya. Berbeda dengan saat ini. Kini listrik di Karimunjawa sudah menyala 24 jam sejak beberapa tahun ke belakang.
“Alhamdulillah. Kini kami bisa berjualan tanpa khawatir mati listrik. Sebab kalau di sini tidak ada listrik, penjualan sepi,” katanya.
Tak hanya Aminah, Yasin, salah satu warga Karimunjawa sangat senang kini listrik di Karimunjawa menyala 24 jam, berbeda dengan beberapa tahun ke belakang.
Dulu, sebelum 2015, kata Yasin, listrik di Karimunjawa hanya boleh menyala saat malam saja. Itu pun dibatasi penggunaanya.
Namun sekarang warga Karimunjawa bisa menikmati kipas angin hingga kulkas selama 24 jam.
Tidak hanya itu, Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk juga sudah menyala 24 jam. Bahkan ketiga pulau tersebut menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS).
“Kami sekarang banyak bersyukur karena bisa menikmati listrik tanpa harus ada pembatasan,” katanya sambil menghidupkan kompresor angin.
Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk Kini Bisa Menikmati Listrik 24, Dukung Pendidikan, Pariwisata, dan Perekonomian Warga
Saya suka pemandangan di Karimunjawa. Di sana bisa dijumpai pemandangan pantai-pantai yang indah, pasir putih yang halus, terumbu karang yang indah, dan ikan warna warni yang cantik, dan pohon kelapa yang tinggi menjulang.
Tak hanya itu, di sana juga ada bukit-bukit dan pepohonan yang rindah dan asri. Tak heran, banyak wisatawan yang ingin berkunjung ke Karimunjawa. Tidak hanya wisatawan domestik, tetapi juga mancanegara.
Di Kepulauan Karimunjawa, tidak hanya ada Pulau Karimunjawa saja. Di sana banyak pulau-pulau yang tak kalah cantik dari Pulau Karimunjawa seperti Pulau Menjangan Kecil, Pulau Menjangan Besar, Pulau Kemujan, Pulau Parang, Pulau Genting, hingga Pulau Nyamuk.
Tiga di antaranya pulau tersebut yakni Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk merupakan pulau terpencil di Kepulauan Karimunjawa.
Meski terpencil, ketiga pulau ini sudah memiliki listrik yang menyala selama 24 jam.
Kades Parang Muh Zaenal Arifin mengatakan sejak 2022, Pulau Parang sudah menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Surya (PLTS) yang dikelola oleh PLN.
Di Desa Parang ada 353 rumah yang sudah bisa menikmati listrik dengan memanfaatkan energi baru terbarukan (EBT) ini.
Senada dengan Muh Zaenail Arifin, Camat Karimunjawa Mu’adz, S.Sos, M.H., mengatakan bahwa tiga pulau di Kepulauan Karimunjawa sudah menggunakan PLTS sejak 2016.
Namun penggunaannya hanya sebagai tenaga pendukung saja. Sebelumnya ketiga pulau tersebut menggunakan Pembangkit Listrik Tenaga Diesel (PLTD).
Namun sejak Agustus 2022, PTLS di Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk akhirnya diambil alih oleh PT PLN.
Total ada 602 rumah di tiga pulau tersebut yang menggunakan listrik bersih dari PLTS tersebut.
Rinciannya yakni Pulau Parang 353 rumah, Pulau Nyamuk 178 rumah, dan Pulau Genting ada 88 rumah yang sudah teralisi listrik.
Mu’adz menyadari hadirnya PLTS di Kepulauan Karimunjawa ini sangat bermanfaat. Tidak hanya untuk kebutuhan warga, tetapi juga mendukung kemajuan pariwisata serta perekonomian warga.
Dia bersyukur, warga Kepulauan Karimunjawa bisa menikmati listrik selama 24 jam tanpa pembatasan. Sebab sebelumnya, listrik di Kepulauan Karimunjawa dibatasi saat malam saja. Hal itu sangat berpengaruh dengan warga yang memiliki usaha dan harus menggunakan mesin pendingin.
Dulu di Pulau Nyamuk, listrik mulai masuk pada Tahun 1990-an. Saat itu menggunakan tenaga diesel. Pada 2018, ada bantuan PLTS dari Denmark. Namun penggunaannya sangat terbatas. “Listriknya tidak bisa digunakan 24 jam,” katanya.
Namun itu kisah lalu. Sekarang di Kepulauan Karimunjawa, khususnya pulau terpencil seperti Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk sudah dapat menikmati listrik 24 jam dari PLTS yang dioperasikan PLN.
“Kami sangat senang, warga di Pulau Parang, Pulau Genting, dan Pulau Nyamuk bisa menikmati listrik PLTS yang dioperasikan PLN. Harapannya semoga PLTS ini dapat mendukung pendidikan, pariwisata dan perekonomian warga, sehingga dapat meningkatkan kesejahteraan masyarakat Karimunjawa mengingat Karimunjawa memiliki potensi wisata luar biasa,” harap Mu’adz.
Mu’adz berharap, ke depan PLN bisa membangun unit PLTS agar mencukupi keputuhan di Kepulauan Karimunjawa. “Biar semuanya bisa merasakan nikmatnya menggunakan listrik 24 jam,” paparnya.
Editor : Noor Syafaatul Udhma