Kahudi Wahyu Widodo didapuk untuk menukangi Persijap berlaga di Liga 2 musim 2024/2025.
Hingga pekan ke-4 kompetisi, Persijap bertengger di peringkat I klasemen sementara Grup 2 Liga 2. Padahal awalnya dia tidak bergitu diperhitungkan.
MOH. NUR SYAHRI MUHARROM, Jepara, Radar Kudus
Mobil Toyota Innova berwarna putih itu, perlahan masuk ke parkiran sebuah wisma di Kelurahan Pengkol, Kecamatan Jepara Kota, pagi itu.
Dari dalam, sosok bertopi putih dan berkaus hijau perlahan memarkirkan kendaraan tersebut dengan rapi.
Sosok tersebut tak lain Kahudi Wahyu Widodo, head coach Persijap Jepara.
Pagi itu, ia baru saja pulang dari memimpin latihan anak asuhnya di lapangan Desa Kedungcino.
Setelah beres-beres beberapa perlengkapan yang ia bawa latihan sebentar, ia tak langsung bersantai.
Namun, memilih melanjutkan aktivitas yang lain. Dengan hati-hati, ia keluarkan dua buah sangkar berisi burung murai.
Secara perlahan, pelatih yang berdomisili di Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Jogjakarta (DIJ) ini, memandikan unggas-unggas kicauan tersebut.
”Saya memang penggemar burung. Kicau manialah istilahnya,” ungkap Kahudi menceritakan hobinya dalam mengisi waktu selain menjadi pelatih sepak bola.
Selama melatih tim berjuluk Laskar Kalinyamat -julukan Persijap, ia memang nekat membawa tiga burung kicau koleksinya dari Sleman ke Jepara.
Dua ekor burung murai dan seekor burung cucak cungkok. Di kediamannya, ia memang memiliki belasan koleksi burung kicau.
Tak hanya saat di Jepara, kebiasaan tersebut telah dilakukan sejak sebelum melatih di Kota Ukir.
Yaitu membawa burung koleksinya di tempat tinggalnya yang baru di daerah ia melatih.
”Di manana pun melatih, selalu membawa burung kicau ini. Selain itu, kalau melatihnya jauh, yang pertama didatangi adalah pasar burung dulu. Hunting burung,” kelakar Kahudi.
Sebelum melatih Persijap, Kahudi menjadi pelatih beberapa tim lain. Mulai dari menakhodai Sragen United dan Persibangga Purbalingga.
Lalu menjadi asisten pelatih Persis Solo, Persab Brebes, hingga Nusantara United.
Rupanya, kebiasaan tersebut juga dijalani oleh sahabat karibnya yang saat ini juga berprofesi sebagai pelatih sepak bola, Aji Santoso.
Kahudi mengaku memiliki kesamaan dengan pelatih asal Malang tersebut.
”Sama dengan sahabat saya, Coach Aji Santoso. Kami punya hobi yang sama. Beliau juga pasti melakukan itu. Hunting burung,” ujarnya diikuti tertawa.
Pelatih yang juga pemilik Maguwoharjo Football Park Jogjakarta ini, gemar memelihara burung sejak ia duduk di bangku SMP.
Kebetulan saat itu ayahnya merupakan seorang dokter hewan. Hal itu membuatnya makin sering berinteraksi dengan unggas tersebut.
Baginya, selain menjadi sebuah hobi, memelihara burung kicau bisa menjadi alat penyeimbang.
”Melatih sepak bola kan butuh pemikiran. Butuh keseimbangan juga. Makanya burung ini, saya jadikan alat untuk penyeimbangkan diri supaya selalu maksimal dalam melatih. Ketika sudah merasa fresh lagi, pasti saat melatih akan maksimal,” ujar Kahudi.
Sejak kali pertama menginjakkan kakinya di Bumi Kartini, Kahudi mengaku langsung jatuh hati.
Terutama dari segi euforia sepak bola di Kota Ukir. Meski ia mengakui banyak tekanan yang dirasakan saat melatih Laskar Kalinyamat, tapi itu tak jadi masalah baginya. Sebab, ia pun mengakui gemar mencari tantangan.
Namun karena ia orang bola, dan setiap waktunya diisi soal sepak bola, Kahudi tak mau waktunya terbuang sia-sia.
Untuk itu, dengan menekuni hobi merawat burung kicau ini, ia jadikan penyeimbang. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa