Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Profil dan Sosok Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti Asal Kudus yang Didapuk Jadi Menteri dalam Kabinet Prabowo-Gibran

Fikri Thoharudin • Rabu, 16 Oktober 2024 | 21:55 WIB
Abdul Mu
Abdul Mu

 

 

RADAR KUDUS - Sekretaris Umum (Sekum) Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu'ti dikabarkan akan menduduki pos Menteri Pendidikan Dasar dan Menengah dalam Kabinet Prabowo-Gibran.

Hal ini menguat usai Abdul Mu’ti hadir di kediaman Presiden terpilih Prabowo Subianto di Jalan Kertanegara Nomor 4, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan, pada Senin (14/10) lalu.

Abdul Mu'ti merupakan putra daerah asal Kudus yang lahir pada 2 September 1968. Kampung halamannya di RT 10/RW 5, Dukuh Serabi Kidul, Desa Getassrabi, Kecamatan Gebog.

Berjarak sekitar 9 kilometer atau 20 menit perjalanan dari area Kudus Kota.

Mu'ti merupakan anak pertama dari empat bersaudara dan berasal dari keluarga sederhana.

Ayahnya menjadi salah satu perangkat desa yang juga peternak sapi. Sementara ibunya buruh bordir dan penjual telur ayam di Pasar Jetak, Kaliwungu, Kudus.

Saat ditemui di kediamannya, Kartinah, 73, ibunda Abdul Mu'ti menceritakan, sejak kecil putranya itu, menempuh pendidikan dengan basic keilmuan Islam.

Hingga lulus Madrasah Ibtidaiyah (MI) Manafiul Ulum pada 1980, putra pertamanya itu, tinggal serumah dengannya.

Namun beranjak madrasah tsanwiyah (MTs) sampai lulus Madrasah Aliyah Negeri (MAN) Purwodadi Filial di Kudus (sekarang MAN 1 Kudus) pada 1986, sering tinggal bersama sang kakek yang masih satu desa.

Saat wartawan berkunjung di kediaman orang tua Abdul Mu’ti kemarin, rumahnya sederhana dengan bercat kuning keroranyean disertai jendela krepyak.

Tampak beberapa foto dalam figura yang merupakan saudara-saudari sekum PP Muhammadiyah itu.

Kartinah menyampaikan, Mu'ti memiliki adik bernama Qoniah, Ma'ruf, dan Nurul Zaman. Sedangkan sang bapaknya bernama Jamiyadi.

”Mu'ti merupakan anaknya simbah (bapak dan ibu saya, Red) Abu Bakar dan Kasmirah. Kalau manggil saya dengan sebutan Mak kalau dengan simbahnya Simbok," tuturnya.

Kebaktian Mu'ti kepada kedua orang tuanya amat kuat sedari kecil. Tak jarang dirinya mengantarkan ibunya ke pasar untuk berjualan telur. Termasuk mengantarkan pesanan bordir motif bunga.

”Mu'ti kecil sregepe rak mekakat (rajin sekali). Saya buruh membuat bordir bunga untuk hiasan kerudung. Kadang juga ke Pasar Jetak untuk jual telur ayam," ujarnya.

Kartinah menjelaskan, usai lulus dari bangku MAN, anaknya itu kemudian ingin melanjutkan untuk berkuliah di Fakultas Tarbiyah IAIN Walisongo jurusan Pendidikan Agama Islam.

Namun pada saat itu, dia mendapati cibiran dari tetangga-tetangganya. Sebab, Mu'ti menjadi angkatan pertama dari desanya yang kuliah.

Anake tani kok meh kuliah. Turunan tani ancen macul, adol beras kok kanggo kuliah (Anak petani kok mau kuliah. Keturunan tani memang mencangkul, menjual beras kok makai kuliah). Kemudian saya berpesan kepada anak saya, supaya kuliah sing temenanan (yang sungguh-sungguh). Kami menjual beras dan menghemat uang untuk bisa bayar kuliah, karena punyanya ya hanya itu. Dua sapi milik almarhum bapak dulu hanya buat samben," katanya.

Tekad untuk menjadikan anaknya sebagai seorang sarjana merupakan cita-cita Kartinah dan mendiang suaminya.

Hal itu lantaran pengenyaman pendidikan keduanya yang hanya sebatas sekolah rakyat (SR).

”Saya malah tidak SR. Bapaknya waktu itu mau mondok di Gontor tidak keturutan, karena dijodohkan dengan saya. Maka anak-anak nanti kudu pinter (sarjana, Red)," kenangnya.

Membicarakan kepribadian Mu'ti, Kartinah menyampaikan, putranya itu memiliki jiwa sosial yang tinggi.

Biasanya setiap mau Lebaran mendata orang-orang yang kurang beruntung untuk diberi santunan. Kadang juga bakti sosial di panti asuhan.

Dia mengaku Mu'ti juga sangat menyukai puisi. Di pernah mendengar saat Mu’ti semasa remaja siaran di Radio Manggala.

Kendati demikian, sosok Mu'ti di mata orang tuanya bukan tipikal orang yang suka bercerita.

”Sebagai hiburan, semuanya (anak-anak, Red) saya belikan radio. Yang paling sering diputar Mu'ti BBC London. Itu sejak kecil. Tahunya di kemudian hari dia bisa sekolah di luar negeri," kenangnya.

Kartinah mengatakan, dia mendorong anak-anaknya termasuk Mu'ti merantau ke luar kota. Supaya mendapatkan banyak ilmu dan pengalaman.

Kulo mboten nate nyuwun karo Pangeran opo-opo. Cuma pengen dipilihno dalan ingkang sae. Kulo mangertos nek kulo nyuwun tapi Pangeran mboten setuju piye? Nyuwune kulo namung anake kulo sing merantau dipun pangestuni (Saya tidak pernah minta kepada Tuhan apa-apa. Hanya ingin dipilihkan jalan yang baik. Saya tahu kalau saya minta tapi Tuhan tidak setuju bagaimana? Pinta saya hanya anak saya yang merantau mendapat restu Tuhan”," ungkapnya dalam bahasa Jawa.

Sekitar tiga hari yang lalu, Mu'ti pulang kampung. Menurutnya pun tidak bilang-bilang.

”Minta doa restu. Sebagai orang tua tentu saya selalu mendoakan yang terbaik," imbuh perempuan 73 tahun itu.

Sementara itu, dalam kacamata warga Dukuh Serabi Kidul, Desa Getassrabi, Sekum PP Muhammadiyah Abdul Mu'ti terkenal berasal dari keluarga Nahdlatul Ulama (NU).

Salah satu warga Sucipto mengatakan, ayah maupun kakek dari Mu'ti merupakan salah satu tokoh NU.

”Bisa dibilang Pak Mu'ti ini bukan Muhammadiyah full dan memulai perjalanan hidupnya benar-benar dari nol," ungkapnya.

Sementara itu, KH. Zainuddin Rusydan, pengasuh Ponpes Al Hidayah Kudus yang juga satu yayasan dengan MI Manafiul Ulum -sekolah Abdul Mu’ti dulu- menyampaikan, semasa kecil Mu'ti sering tidur di musala. Bahkan sering ikut jamiyah maulidurrosul.

”Ya seperti umumnya anak-anak kecil. Dia main bola, mandi di kali, tidurnya kalau malam sering di pondok (musala). Juga terhitung cerdas sejak kecil. Terutama dalam keterampilan mengolah kata dan bergaul," sebutnya.

Zainuddin sendiri dulunya merupakan kakak dua tingkat semasa MI dan satu fakultas selisih lima semester.

”Saya ngaso (istirahat studi) dulu. Kalau Kang Mu'ti usai lulus MAN langsung kuliah di IAIN Walisongo jurusan PAI," kata pria yang menjabat sebagai ketua DPC PPP Kudus ini.

Sejak kuliah, Mu'ti mulanya ikut organisasi Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Lalu ikut Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM). Meskipun aktif berorganisasi, tapi mendapat prestasi akademik.

”Karena bahasa Inggris-nya bagus dan IPK cumlaude dia (Abdul Mu’ti, Red) meraih beasiswa pembibitan dosen di Australia," jelasnya.

Mendengar sepupu satu buyutnya tersebut, dikabarkan akan didapuk menjadi salah satu menteri dalam Kabinet Prabowo, Zainuddin berharap, Mu'ti dapat berkontribusi memajukan pendidikan di tanah air. Terlebih pendidikan dasar dan menengah.

”Sebagaimana Mbah Buyut Rusydan dulu yang seangkatan dengan Raden Asnawi, menjadi tokoh yang berkontribusi dalam pengamanan tentara Indonesia yang dicari-cari oleh Belanda. Jadi manusia yang bisa bermanfaat bagi sesama," harapnya. (fik/lin)

Editor : Ali Mustofa
#prabowo #Muhammadiyah #menteri pendidikan #IAIN Wali Songo Semarang #abdul mu'ti #Kudus