RADAR KUDUS - Politisi asal Kabupaten Kudus, Nusron Wahid memeperoleh kesempatan berharga.
Dia dipanggil oleh Presiden terpilih Prabowo Subianto ke kediaman di Kertanegara, Jakarta.
Dalam pertemuan itu, Nusron diminta bantuan menjabat sebagai menteri di dalam kabinet.
Kabar itu telah didengar oleh sanak keluarga Nusron Wahid di Kecamatan Mejobo, Kudus. Pihak keluarga mengaku senang atas kabar tersebut.
Di sisi lain pihak keluarga mengaku sedih, lantaran menteri adalah amanah yang berat.
”Tanggapan saya pertama kali mendengar kabar itu ya innalillahi wainnailaihirojiun. Ini adalah amanat yang berat. Keluarga hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk beliau,” kata Arief Wahyudi, keponakan Nusron Wahid.
Di sisi lain, politikus Partai Golkar itu, juga dianggap pantas oleh Wahyudi memeroleh jabatan menteri dari pemerintahan Prabowo-Gibran.
Sepak terjang Nusron di pemilihan presiden (pilres) memenangkan Prabowo-Gibran memang punya andil dan kerja keras.
Sebab, saat itu Nusron menjabat sebagai sekretaris Tim Kampanye Nasional (TKN).
Wahyudi menilai, apa yang diperoleh Nusron saat ini, bukan hal yang instan. Dalam karir politik, dimulai Nusron dari nol atau dasar.
Nusron sebelum terjun ke dunia politik merupakan seorang santri. Saat mengeyam pendidikan bangku aliyah, Nusron sekolah di dua lembaga pendidikan.
Saat pagi hari ia sekolah di Qudsiyah Kudus. Sedangkan saat siang sekolah di SMA NU Al Ma’ruf Kudus.
”Beliau juga mondok di sekitar Menara Kudus,” ujarnya.
Usai lulus madrasah aliyah, kakak dari calon wakil bupati Kudus Mawahib Afkar itu, merantau ke Jakarta.
Di sana ia hendak melanjutkan kuliah lewat jalur seleksi. Dengan doa restu orang tuanya, Nusron berhasil mengeyam pendidikan di Universitas Indonesia (UI).
Sejak di Jakarta itulah, mental dan daya juang Nusron ditempa begitu keras.
”Waktu beliau di Jakarta tidak meminta uang dari orang tua. Berangkat dengan biaya sendiri dan tidak ingin merepotkan orang tua,” katanya.
Wahyudi mengakui, Nusron bukan datang dari keluarga berpunya. Ekonomi keluarganya terbilang dalam tataran menengah ke bawah saat itu.
”Saya saksi betul mbah saya (orang tua Nusron, Red) kerjanya jualan pecel. Kalau sore ngajar di pondok pesantren,” kenangnya.
Untuk menyukupi kebutuhan hidupnya di Jakarta, Nusron harus bekerja di sela-sela waktu kuliahnya. Dia pernah menjadi loper koran, bermain teater, dan lainnya.
Pria yang menjadi anggota DPR RI sejak 2004 silam itu, mulai tertarik terjun di dunia politik sejak mengeyam pendidikan di Ibu Kota.
Terutama saat menjadi wartawan. Kemudian berlanjut menjadi aktivis dan ketua Pergerakan Mahasiswa Islam Indonesia (PMII).
Mental politik Nusron terbangun dan ditempa juga ketika menjabat sebagai ketua Gerukan Pemuda (GP) Ansor kala itu.
Anggota DPR RI periode 2024-2029 ini, sebelumnya juga aktif di organisasi Nahdlatul Ulama (NU) di Ikatan Pelajar Nahdlatul Ulama (IPNU).
Sukses menjadi politikus, Nusron kemudian berkontribusi di dunia pendidikan di Kabupaten Kudus.
Ia mendirikan Yayasan Pendidikan Assa’idiyyah Al-Quds di Kecamatan Mejobo. Memiliki sekolah jenjang MTs hingga SMK/MA dan pondok pesantren.
”Pembangunan ini adalah dedikasi Nusron untuk memajukan pendidikan dan mencerdaskan anak bangsa,” katanya.
Dia menambahkan, saat Nusron pulang kampung di Kota Kretek, tidak hanya di rumah dan berkumpul dengan sanak famili.
”Beliau kalau pulang juga menyempatkan mengajar di ponpes miliknya,” imbuhnya. (gal/lin)
Editor : Ali Mustofa