Nguri-uri budaya melalui prosesi budaya Asrah Batin antara Desa Karanglangu dan Ngombak, Kecamatan Kedungjati, Kabupaten Grobogan berlangsung sangat meriah.
Warga didua desa dilarang jatuh cinta. Jika maksa, dipercaya dapat musibah.
INTAN MAYLANI SABRINA, Radar Kudus, Grobogan
Acara syarat makna ini digelar di tengah-tengah sungai Tuntang sedalam 65 meter.
Dalam tradisi asrah batin ini, sesepuh Desa Ngombak beserta rombongan mengenakan pakaian pengantin, mereka bersiap ke tengah sungai untuk menyambut kedatangan sesepuh desa serta iring-iringan warga Desa Karanglangu.
Sebelum bersiap ke tengah sungai, mereka (warga Desa Karanglangu, Red) melakukan arak-arakan melintasi kawasan hutan jati sejauh empat kilometer. Mereka kemudian menyeberang sungai Tuntang.
Setelah rombongan tiba di tepi sungai, ribuan warga Desa Ngombak telah mempersiapkan rakit dan perahu karet hias untuk menjemput dan membawa rombongan menyeberang secara bergantian ke Desa Ngombak.
Kepala Desa Karanglangu beserta perangkat desa dijemput menggunakan rakit perahu yang dihias sedemikian rupa. Disusul warga Desa Karanglangu.
Sesampainya di Desa Ngombak yang dipusatkan di kediaman petinggi setempat.
Hajatan besar telah menanti. Para tamu juga dimanjakan dengan hiburan kesenian dan kudapan khas Jawa.
Segala hal berkenaan dengan prosesi tersebut turut dijelaskan secara gamblang.
Dalam artian agar masyarakat yang hadir ikut mengerti acara syarat makna ini.
Yakni, proses mengenang Kendhana-Kendhini sebagai cikal bakal desa tempat tinggal mereka.
Selama tradisi tersebut, ratusan warga yang datang turut berbut bancaan yang berisikan sayur gudangan dan ikan hasil tangkapan dalam tradisi Tubo beberapa hari lalu.
Terlihat sebagian warga rela memanjat pintu dan jendela rumah untuk mendapatkan bungkusan nasi bancakan.
Warga juga berebut air tape sambil menyodorkan gelas untuk diisi air itu. Air tape tersebut langsung diminum.
Setelah itu mereka berebut bedak dan langsung mengoleskan bedak ke seluruh tubuh dan wajah.
Menurut salah satu warga setempat, hasil yang didapat dalam tradisi asrah batin ini dipercayai membawa berkah tersendiri.
Mereka percaya bahwa air tape, bedak, serta nasi bungkus yang ia peroleh akan membawa berkah dan membuat tubuh tetap sehat dan awet muda kepada seluruh keluarga.
Tradisi asrah batin ini erat kaitannya dengan kepercayaan warga tentang sosok Kendhana-Kendhini yaitu Raden Sutejo dan Raden Ayu Roro Musiah yang diyakini sebagai leluhur pendiri Desa Ngombak dan Desa Karanglangu.
Menurut silsilah, Kendhana dan Kendhini merupakan saudara kandung. Keduanya terpisah sewaktu masih kecil.
“Ritual ini terkait dengan kepercayaan masyarakat terhadap Kedhana –Kedhini, yaitu Raden Bagus sutejo dan Raden Ayu Roro Mursiah yang merupakan sesepuh kami. Sebagai saudara tua Karanglangu sengaja menemui warga Ngombak untuk mempererat jalinan persaudaraan,” jelas Kepala Desa Ngombak Heriyanto.
Keduanya sempat lama berkelana melewati hutan dan sungai. Sampai akhirnya Kendhana menetap di perkampungan yang diberi nama Desa Karanglangu.
Sedangkan Kendhini bertahan di tempat yang dinamakan Desa Ngombak. Setelah mereka dewasa, mereka sudah tak saling mengenal dan bertemu kembali.
Ternyata mereka saling jatuh cinta dan nyaris menikah.
Namun, pernikahan itu akhirnya urung terjadi setelah terungkap bahwa keduanya merupakan kakak dan adik sedarah.
Akhirnya warga mengganti hajatan perkawinan menjadi hajatan syukuran karena mereka saudara kandung yang lama terpisah.
“Maka akhirnya kami uri-uri budaya. Kami rutin melangsungkan pada Minggu Kliwon setiap dua tahun sekali. Dimaksud untuk mengenang Kendhana dan Kendhini. Asrah batin sendiri memiliki makna pasrah batin dengan kenyataan yang terjadi,” imbuhnya.
Kini secara turun termurun, laki-laki dan perempuan dari dua desa tersebut dibatas untuk tidak saling mencintai.
Keyakinan tersebut hingga saat ini masih dipertahankan.
“Memang sudah turun temurun, laki-laki dan perempuan dari dua desa dilarang untuk saling menikah. Mereka percaya jika melanggar akan mendapatkan musibah. Sempat ada yang melanggar dan meninggal dunia, kini belum ada lagi,” imbuh salah satu tokoh masyarakat, Tamsir. (*/zen)
Editor : Ali Mustofa