JB. Iwan Sulistyo, pelukis kelahiran Kudus sudah menghasilkan 222 karya.
Lukisannya yang mayoritas tentang tempat-tempat ikonik di Indonesia itu, dia hasilkan di sela-sela bekerja sebagai karyawan perusahaan rokok.
INDAH SUSANTI, Kudus, Radar Kudus
Lukisan JB. Iwan Sulistyo saat terpajang di area Pendapa Kudus beberapa waktu lalu, mencuri perhatian banyak orang yang melintas pada bulan lalu.
Goresan cat minyak yang timbul itu, di antaranya menggambarkan kekhasan Kabupaten Kudus. Ada Menara Kudus, buah parijoto, hingga perajin caping kalo.
Saat dikunjungi Pj Bupati Kudus M. Hasan Chabibie, Iwan pun mendampingi sembari menunjukkan dan menerangkan hasil karyanya.
Sesekali, iwan memegang dengan telunjuk jarinya ke salah satu lukisannya.
Menyakinkan bahwa cat yang ia gunakan bisa timbul. Dia juga menjelaskan teknik pembuatannya di hadapan Pj Bupati Hasan.
”Ini saya menggunakan kain kanvas. Lalu catnya saya langsung oleskan pada kanvas. Saya melukis keadaan atau suasana yang ada di depan saya. Saya datang ke lokasi. Jadi tidak secara imajinasi. Seperti lukisan perajin caping kalo, ya saya datang ke pembuatnya,” ujarnya.
Iwan dikenal sebagai pelukis cat minyak yang selalu berkutat dengan warna-warna yang beraneka. Namun, ia juga hadir dalam karya-karya hitam putih.
Hasil karyanya banyak mengenai keindahan tempat di Indonesia.
”Karya hitam-putih itu dalam lingkup seni menyatukan arti drawing (gambar rekam atas obyek) dan sketch (sketsa, gambar awal untuk lukisan), sehingga kemudian layak disebut sebagai drawsket,” ungkapnya.
Iwan memang rutin melakukan perjalanan ke berbagai tempat di pelosok Nusantara.
”Saya kan sering mendapatkan tugas dari kantor untuk ke luar kota. Pada waktu singgah diberbagai kota tersebut, saya mengekplor lokasi untuk untuk saya buat sketsa cepat,” ungkapnya.
Karya-karya hitam putih yang ia buat, di antaranya menggambar penari-penari Bali, penari Gandrung Banyuwangi.
Selain itu, pemandangan alam dengan obyek yang mengagumkan yang digambar sketsa oleh Iwan, di antaranya bukit, gunung, ngarai, pantai, danau perkebunan, dan lainnya.
Tempat-tempat peribadatan juga hadir dari berbagai daerah juga terekam dalam sketsanya.
Begitu pula berbagai situs peninggalan sejarah. Beberapa gambar juga menunjukkan tren kekinian, seperti obyek kafe dan sudut-sudut kota.
Total dia sudah menghasilkan 222 lukisan. Kini, sudah dibukukan dengan judul ”Fascinating Indonesia Hitam Putih Perjalanan Hati.”
Iwan meski tidak mengeyam pendidikan arsitektur, ia sangat mahir mengolah perspektif. Hasil gambar-gambar bangunan menjadi lebih kuat.
Sketsa dan lukisannya dituangkan dengan berbagai alat, seperti pensil, conte, charcoal, pen, arang, bahkan bambu.
Ia yang saat ini berdomisili di Jakarta tak pernah berhenti untuk melukis baik menggunakan cat minyak atau dalam bentuk sketsa.
Iwan yang saat ini menginjak 70 usia tahun, daya juga sesekali masih diundang oleh perusahaannya untuk menjadi narasumber dan mengisi pelatihan seni sketsa.
Uniknya, Iwan yang merupakan karyawan di perusahaan rokok sejak 1979 ini, mampu menghasilkan karya lukisan hebat dan dikenal se-Indonesia.
Sebagai orang kantoran yang nyambi sebagai pelukis, ia harus membagi waktu sebaik-baiknya.
”Saya hanya sempat melukis pada Sabtu dan Minggu. Itupun hanya beberapa jam di malam hari setelah pulang kantor. Saya sampai dijuluki pelukis paro waktu,” kata Iwan.
Meski begitu, ribuan lukisan yang berkualitas ia lahirkan untuk secara berkala ia pamerkan.
Bahkan, ia juga sempat menjadi ketua Persatuan Pelukis Cat Air Indonesia.
Sampai 2020, Iwan telah berpameran tunggal hingga 27 kali dan 100 pameran bersama baik di Indonesa dan berbagai negara, salah satunya di Belanda. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa