MENJADI seorang hafizah bagi Nur Mudzakiroh, 60, merupakan sebuah amanah besar untuk mengajarkan ilmu sampai akhir hayat.
Apalagi sepeninggal sang suami tiga tahun lalu, pihaknya harus melanjutkan syiar agama di Pondok Pesantren Nurul Badriyyah Al-Amin yang telah dirintis sejak tahun 2001.
Saat ini Mudzakiroh intens mendampingi para Santri Kasep hingga diwisuda atau khatam Alquran pada usia yang tak lagi muda.
FIKRI THOHARUDIN, Grobogan, Radar Kudus
Senyum kebahagiaan mengembang di wajah Santri Kasep Pondok Pesantren Nurul Badriyyah Al-Amin yang berada di Kelurahan Kuripan, Kecamatan Purwodadi pada Sabtu Sore (25/5).
Para santri tersebut akhirnya bisa diwisuda karena telah khatam Alquran Binador yang telah baca dan dipelajari setidaknya sejak dua hingga tiga tahun yang lalu.
Pengasuh Pondok Pesantren Nurul Badriyyah Al-Amin, Hajah Nur Mudzakiroh Al Hafizah menjelaskan Santri Kasep merupakan santri yang tidak mukim namun belajar secara rutin di tempat binaannya.
"Disebut kasep karena berusia dari 40 hingga 60 tahun. Meskipun begitu mereka memiliki semangat yang besar dalam belajar Alquran," sebutnya Minggu (26/5).
Menurut Mudzakiroh menjadi pengalaman tersendiri karena ini merupakan kali pertama mewisuda santri dari kalangan tua.
"Biasanya anak-anak atau remaja. Golongan ibu-ibu dan simbah-simbah ini malah meminta untuk diajari (Alquran, Red) hingga kini diwisuda," tuturnya.
Tantangan yang dihadapi beragama, dari lisan yang kaku, ingatan yang melemah, hingga terbentur dengan tanggung jawab di dalam keluarga.
"Kali ini ada 13 orang. Dari yang sudah punya anak sampai yang sudah punya cucu. Waktu ngajinya tiap Senin, Selasa dan Rabu pukul 09.00," katanya.
Dalam perayaan wisudanya, Santri Kasep diarak keliling Kelurahan menggunakan odong-odong. Hal itu maksudkan untuk menularkan semangat kepada khalayak lain.
"Saya senang, meskipun sudah tua begini tapi masih diberikan waktu dan kesempatan bisa ngaji sampai khatam bersama teman-teman," tanggap Siti Kustiyati, 57.
Menurut Siti yang diketahui juga telah menunaikan ibadah haji tersebut, seiring dengan bertambah dan panjangnya usia dia ingin terus membenahi diri menjadi semakin lebih baik.
"Malu sama anak dan cucu kalau gak bisa ngaji. Selain itu tak ada kata terlambat untuk belajar, karena sejatinya dari lahir hingga sampai ke liang lahat kan?" pahaminya.
Meskipun tertatih-tatih akan tetapi Siti bersama teman seangkatannya berusaha tetap istiqamah.
"Ya meskipun nderes hanya dapat satu muka," hematnya.
Diketahui selain 13 Santri Kasep ini, juga turut diwisuda 24 anak yang Binador.
Ditambah dengan tiga orang santriwati lain yang sudah Bil Hifzi atau hafal 30 juz.
Jika Ibu-ibu diarak menggunakan odong-odong, anak-anak diarak dengan berjalan kaki di sekitar pondok diiringi lantunan rebana.
Masyarakat sekitar tampak tertarik dengan kegiatan wisuda yang meskipun sederhana akan tetapi bermakna tersebut.
Tampak mereka keluar rumah dan menyaksikan secara saksama atas arak-arakan itu.
Wakil Bupati Grobogan, Bambang Pujiyanto turut tersentuh dengan semangat Santri Kasep tersebut.
"Luar biasa, sudah sepuh akan tetapi selalu bersemangat. Menginspirasi. Jika Ibu-ibu begini saja masih memungkinkan untuk belajar, tentu anak-anak juga akan sangat mudah untuk meraih hal itu," ungkapnya saat menghadiri acara dalam sambutannya.
Editor : Ali Mustofa