Bhikkhu Piyadhoro Thera sudah berniat mengabdikan diri sebagai bhikkhu sejak remaja.
Keinginan itu terus dipelihara. Sampai sekarang masih terus merasa ingin belajar.
VACHRI RINALDY L, Rembang, Radar Kudus
Bhikkhu Piyadhiro Thera terlihat sibuk di Vihara Ratanavana Arama di Desa Sendangcoyo, Lasem, Rembang.
Ia harus bersiap-siap bersama para umat Buddha untuk menghias vihara hingga mempersiapkan acara arak-arakan perayaan Waisak.
Vihara ini bisa dibilang yang terbesar di Kabupaten Rembang. Bangunannya megah.
Terdapat taman indah dengan berbagai bentuk patung Buddha.
Selain itu, di bagian taman paling atas juga ada patung Buddha terbaring yang besar. Panjangnya 14 meter.
Di bagian belakang, terdapat Candi Sudhamo Mahathera yang berbentuk seperti Borobudur dalam versi kecil.
Saat perayaan Waisak, di vihara ini dilaksanakan berbagai rangkaian kegiatan. Yang terlihat meriah berupa arak-arakan.
Saat arak-arakan, umat Buddha di sini berjalan sekitar 4 kilometer.
Mengarak beberapa gunungan dari Vihara Vidyaloka menuju Candi Sudhamo Mahathera yang berada di Vihara Ratanavana Arama.
Untuk itu, persiapan harus dilaksanakan pada hari sebelumnya.
Acara arak-arakan ini, sudah digagas oleh Bhikkhu Piyadhiro Thera sekitar 12 tahun lalu.
Awalnya, acara dilaksanakan secara sederhana. Hanya dilakukan di kompleks vihara.
Bhikkhu Piyadhiro memang menghabiskan waktunya di vihara sebagai kepala vihara.
Bahkan lebih jauh dari itu, sejak masih bersekolah SMA, juga sudah berada di sini menjadi anak asuh Bikkhu Sudhamo Mahathera, pendiri Vihara Ratanavana Arama yang kemudian namanya diabadikan sebagai nama candi di sini.
”Saya SMA di sini. Saya belajar juga. Sampai beliau (Bhikkhu Sudhamo Mahathera) tidak ada (wafat) pada 2005," katanya.
Setelah Bhikkhu Sudhamo meninggal, Bhikkhu Piyadhiro pun memutuskan untuk menjadi Samanera.
Proses Bikku Piyadhiro Thera untuk belajar agama Buddha berlangsung di beberapa vihara. Mengembara dari tempat satu ke tempat lain.
Sampai 8 Maret 2008 ia ditabiskan menjadi bhikkhu.
”Satu tahun membina di sana (Jakarta, Red), tinggal bersama dengan pentahbis. Selanjutnya empat tahun belajar di Vihara Mendut dekat Candi Borobudur di Magelang sana," ujarnya.
Setelah dianggap mampu, barulah bertugas ke Vihara Ratanavana Arama untuk mengabdi sebagai kepala vihara.
Ia memang merasa tertarik menjadi bhikkhu sejak SMP. Setiap mendengarkan ceramah merasa sejuk dan meneduhkan.
”Kehidupan bikkhu bisa membina baik ke dalam maupun ke luar,” ujarnya.
Keinginan tersebut terus dipelihara.
”Menjadi Bikku itu, bukan jabatan, tetapi pola hidup latihan. Berlatih menjadi lebih baik," katanya.
Tentu saja, dalam perjalanan menuju sana begitu banyak cerita.
”Yang tidak nyaman tidak usah diceritakan. Yang nyaman-nyaman itu, yang membagikan semangat. Dukanya tidak banyak. Yang banyak kebahagiannya kalau melihat umat menjadi lebih baik," jelasnya.
Bagi bhikkhu, hidup akan terus ada perubahan, sehingga tidak akan memuaskan.
Karena tidak memuaskan, maka sesungguhnya tidak memiliki inti.
Untuk bisa terbebas dari itu, harus mempraktikkan kebijakan, moralitas, pengembangan batin, dan kebijaksanaan.
”Hidup adalah perjuangan. Ya inilah kehidupan dengan segala suka dan dukanya," jelasnya.
Sampai sekarang, Bhikku Piadhiro merasa masih perlu banyak belajar.
Ia juga pernah menuntut ilmu ke berbagai negara. Seperti India dan Thailand. Di sana juga belajar tentang bagaimana kehidupan seorang bhikku.
”Selalu ada yang berbeda. Saya pernah di Thailand, karena tidak banyak yang kenal kami meditasi, diam di suatu tempat, lebih tenang, lebih damai," jelasnya.
Sekarang, pengabdian Bhikkhu Piyadhiro Thera tidak hanya di Lasem. Ia juga melayani umat di kota-kota sekitar, seperti Pati dan Jepara.
”Saya juga punya wilayah pembinaan. Wilayah pembinaan saya di Daerah Istimewa Jogjakarta," jelasnya.
Ia bilang, bahwa kehidupan menjadi bhikku tidak mudah bagi mereka yang tidak tertarik.
”Sebagai bhikku juga harus berdana telinga. Untuk mendengarkan keluh kesah umat. Ini merupakan cara berbuat baik dengan membuat umat Bahagia,” imbuhnya. (*/lin)
Editor : Ali Mustofa