Pengungsi banjir Desa/Kecamatan Karanganyar, Demak, masih merasakan trauma banjir Februari lalu.
Salah satu pengungsi menceritakan pengalamannya saat banjir menenggelamkan rumahnya lagi.
SEKARWATI, Demak, Radar Kudus
Balai Desa Kedungwaru Lor, Karanganyar, Demak, tampak bejubel para pengungsi banjir dari Desa Karanganyar.
Saat wartawan Jawa Pos Radar Kudus tiba di lokasi kemarin pukul 08.30, aktivitas pagi mereka isi dengan kegiatan bersih-bersih.
Sebagian pengungsi terlihat mencuci pakaian di Kali Jratunseluna.
Ada pula yang bersantai dan saling berbagi kabar kondisi rumah yang terendam banjir.
Ida, 39, warga Desa Karanganyar mengatakan, sudah tiga hari mengungsi di Balai Desa Kedungwaru Lor.
Ia datang bersama dengan keluarga dan tetangganya.
”Ini sudah kedua kalinya mengungsi. Banjir kali ini lebih parah (dari Februari lalu)," ucapnya.
Ia menceritakan, sebelum tanggul Dukuh Norowito, Desa Ketanjung, Karanganyar, Demak, jebol, selama dua hari warga Desa Karanganyar tidak boleh tidur.
Alarm tanggap siaga bencana dibunyikan berkali-kali. Masyarakat diminta waspada oleh pemerintah desa.
Seketika Ida mengemasi pakaian. Namun, tak ada barang yang bisa diselamatkan dari banjir Februari lalu. Selain memang pakaian.
”Belum selesai bersih-bersih perabot. Malah banjir lagi, " katanya
”Wes ajur kabeh (barang elektronik). Nggak ono sing iso diselamatke," imbuhnya.
Perempuan yang tinggal di RT 4/RW 1 itu menyebut, saat ini ketinggian air permukiman mencapai 3 meter.
Banjir yang melanda kali kedua ini, airnya lebih deras. Derasnya aliran air, bahkan dua kali lipat dari banjir sebelumnya.
”Nggak usah hitungan jam. Hitungan menit saja air sudah masuk rumah," terangnya.
Ia mengaku masih trauma dengan kejadian tersebut.
Setiap melihat air tiba-tiba terbayang banjir yang menenggelamkan rumahnya.
Tak hanya Ida, Sarpinah, 40, pengungsi lain turut merasakan kejadian serupa. Tidak perlu menunggu evakuasi.
Saat tanggul Dukuh Norowito jebol, ia langsung bergegas menyelamatkan diri ke posko pengungsian.
”Saya kan punya anak kecil. Tahu tanggul jebol terus lari ke Desa Kedungwaru Lor," ujarnya.
Anggota Badan Permusyawaratan Desa (BPD) Desa Kedungwaru Lor Munawaroh menerangkan, saat ini ada 763 jiwa korban banjir yang mengungsi di desanya.
Jumlah itu, ada yang menempati balai desa dan rumah-rumah warga.
Pengungsi di antaranya dari Desa Karanganyar, Ketanjung, Ngemplik, dan Wonorejo.
”Yang berada di balai desa ada sekitar 500 jiwa," terangnya.
Ia menyebut, kebutuhan logistik sementara ditanggung Pemerintah Desa Kedungwaru Lor.
Meski saat ini, belum ada bantuan masuk dari luar.
Mulai dari kebutuhan logistik sampai dengan air bersih masih tercukupi.
Pihaknya sangat berharap ada bantuan datang. Selain kebutuhan logistik, juga dibutuhkan pakaian bersih, obat-obatan, serta popok bayi dan dewasa.
”Bantuan yang sangat dibutuhkan itu logistik. Terutama air minum, karena pengungsi membeli sendiri," imbuhnya. (*/lin)
Editor : Noor Syafaatul Udhma