Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal Sosok Selamet Supriyadi, Perintis Pertanian Modern Asal Rembang yang Bikin Aplikasi Penyiraman Otomatis hingga Buat Pupuk Genderuwo

Vachri Rinaldy Lutfipambudi • Sabtu, 24 Februari 2024 | 01:12 WIB

 

Selamet (kiri), Penanggung Jawab Landoh Smart Farming
Selamet (kiri), Penanggung Jawab Landoh Smart Farming

METODE pertanian digital sedang dikembangkan di Rembang. Saat ini telah ada proyek Landoh Smart Farm (LDF) yang berencana mengembangkan aplikasi penyiram lahan otomatis.

Para petani muda tampak antusias mengikuti sarasehan di Kantor Dinas Pertanian dan Ketahanan Pangan (Dintanpan) Rembang kemarin.

Di sana mereka diajarkan inovasi pembuatan pupuk. Namanya pupuk Genderuwo.

Baca Juga: Bocah SD di Pancur Rembang Tewas usai Tertimpa Pohon Randu, Begini Kronologinya

Salah satu pematerinya, adalah Selamet Supriyadi dari Landoh Smart Farm (LDF), sebuah proyek penelitian untuk mengembangkan pertanian berbasis digital.

Sesuai dengan namanya, LDF ini berada di Desa Landoh, Kecamatan Sulang.

Saat sarasehan kemarin, para petani milenial tampak antusias berdiskusi bersama para pemateri.

Terutama tentang pupuk organik yang diberi nama pupuk Genderuwo.

Produk ini merupakan satu dari sekian inovasi untuk menunjang pertanian yang kekinian.

Kemarin, Selamet juga mempraktikkan proses pembuatannya.

Ada berbagai bahan yang disiapkan, seperti kotoran sapi, gamping, dan berbagai cairan lainnya.

Baca Juga: Sejumlah Tokoh Agama di Rembang Serukan Perdamaian usai Pemilu 2024, Ini Pesannya

Waktu yang dibutuhkan cukup singkat. Tidak sampai satu jam. Prosesnya bisa dibilang simpel, hanya dengan memasukkan seluruh bahan sesuai dengan urutannya.

Selamet bilang, kualitas pupuk ini memiliki berbagai unsur.

"Kelebihannya pupuk Genderuwo memiliki unsur majemuk. Yang awalnya Nitrogen tok sekarang nitrogen, fosfat dan kalium menjadi satu," katanya.

Pupuk ini juga diklaim bisa memberikan imun kepada tanaman sehingga tidak mudah terserang hama. Inovasi ini sudah dipasarkan hingga ke luar Jawa.

"Pupuk Genderuwo awalnya di Rembang, diupgrade di Banyuwangi," imbuhnya.

Soal LDF sendiri, Selamet menjelaskan, proyek ini sudah berdiri sekitar tahun 2020 silam.

Latar belakangnya, karena melihat kondisi pertanian di Rembang mengandalkan banyu langit. Atau tadah hujan.

Selain itu kondisi tanah di sini juga kering. Untuk itulah LDF mencoba hadir sebagai inisiator pertanian di lahan kekeringan.

Baca Juga: Bocah SD di Pancur Rembang Tewas usai Tertimpa Pohon Randu, Begini Kronologinya

Saat ini sudah ada program-program yang akan dikembangkan oleh LDF.

Diantaranya, dengan membangun embung diatas tanah dua hektare. Targetnya, untuk menyirami lahan pertanian di sekitarnya.

Tidak ada sekadar embung. Nantinya wadah air ini akan diberikan sentuhan modern.

Saat ini pihaknya telah merencanakan panel surya untuk membantu proses irigasi ke sawah sekitar.

Gambarannya, panel surya akan berfungsi sebagai penghantar listrik untuk menghidupkan pompa.

Setelah itu, air akan disalurkan melalui sistem irigasi.

"Kami coba nanas, pisang, sekarang kami coba cabai," katanya.

Saat ini pihaknya juga sedang membangun aplikasi untuk memudahkan kerja pertanian.

Ia menggambarkan, aplikasi ini nantinya bisa menyiram tanaman secara otomatis.

"Kalau nyempret dari rumah bisa. Misalnya rumah saya 1 kilometer. Nanti membuka aplikasi itu, langsung. Ini baru tahap merintis," katanya.

Selamet sendiri mengaku tidak memiliki latar belakang pertanian.

Sebelum terjun ke dunia cocok taman, pria asal Depok ini justru bekerja di bidang pendidikan.

Baru setelah sampai Rembang, sekitar 2020 akhir, ia baru merambah ke tani.

Bagi dia, masalah di bidang pendidikan maupun pertanian sama.

"Kalau pendidikan bagaimana buat anak itu ngerti. Kalau di tumbuhan bagaimana saya mengendalikan hama ini, ya sama. Cuma pemberlakuan yang berbeda," katanya. (vah/ali)

 

Editor : Ali Mustofa
#rembang #panel surya #pertanian #kekeringan #pupuk