Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Mengenal SOSOK Jamaludin Malik Caleg 'Ultraman' Asal Jepara yang Viral Ternyata Sempat Benci Politik dan Kerja Nguli

Nibros Hassani • Senin, 19 Februari 2024 | 01:11 WIB
WAWANCARA: Jamaludin Malik, caleg DPR RI Dapil 2 Jateng yang terkenal dengan strategi kampanye mengenakan kostum “ultraman”.
WAWANCARA: Jamaludin Malik, caleg DPR RI Dapil 2 Jateng yang terkenal dengan strategi kampanye mengenakan kostum “ultraman”.

JEPARA - Mengenal lebih dekat sosok Jamaludin Malik atau akrab disapa Mas Malik, caleg Ultraman asal Jepara yang viral media sosial.

Mas Mali diketahui merupakan caleg  DPR RI Dapil 2 Jateng asal Kabupaten Jepara.

Ia sempat viral di kalangan masyarakat karena strategi kampanyenya memasang baliho “Ultraman” meraih suara cukup banyak.

Sebelum nyaleg, Mas Malik pernah kerja sebagai kuli panggul di pasar dengan gaji Rp 30 ribu per hari.

Ia juga bercerita bahwa dirinya pernah benci politik.

Saat ditemui wartawan Radar Kudus di rumahnya, ia menunjukkan sebuah topeng dan kostum ultraman tampak tergeletak di ruang tamu kediaman Jamaludin Malik.

Kostum dan topeng itu menjadi saksi perjuangan untuk menarik perhatian publik demi merebut kursi di Senayan.

Kepada wartawan, Jamaludin Malik memperlihatkan kostum dan topeng ultraman yang ia andalkan saat berkunjung ke lapangan. 

“Kostumnya (sembari memperlihatkan kostum ultraman) ini ukuran kecil, saya nggak muat. Yang pakai orang saya (timnya) yang kurus. Kostum ini saya beli di Shopee Rp 30 ribuan. Topengnya agak mahal harganya sekitar Rp 400 ribuan keatas tapi bagus,” kata Mas Malik menceritakannya dengan bangga. 

Mas Malik bercerita, ide memasang gambar Ultraman itu murni dari ide pikirannya setelah salat Tahajud.

Ia tidak menggunakan jasa konsultan atau tim media yang mahal.

Mas Malik bahkan menjadi admin media sosialnya sendiri.

Ia juga mengakui tidak punya tim yang besar seperti caleg lain.

“Admin medsos saya sendiri, admin chat WhatsApp aduan juga saya sendiri. Kalau video di Tiktok ada editornya, karena kalau saya yang edit kelamaan, hehe” kata pria kelahiran 1989 itu.

Saat kampanye, Ia hanya dibantu enam orang yang bekerja dengan sistem shift.

Jumlah enam orang itu termasuk pembawa kamera dan orang yang terjun ke lapangan menggunakan kostum Ultraman bagi-bagi bantuan. 

Ia mengaku pernah mendapat tawaran untuk menggunakan jasa konsultan politik dari Jakarta.

Namun Ia langsung menolaknya lantaran saat nyaleg ia tidak ingin mengeluarkan uang terlalu banyak.

Sebab, ia khawatir nantinya saat mengabdi untuk masyarakat di kursi dewan Ia harus berpikir keras untuk balik modal.

Saat wartawan tiba di kediamannya, tampak sekitar rumahnya juga sepi.

Tidak ada tim kampanye yang biasanya mondar-mandir di rumah caleg.

Mas Malik tampak meladeni wawancara wartawan sendiri di rumah.

Ia hanya ditemani anak-anaknya yang masih kecil. 

“Admin medsos saya sendiri, admin chat WhatsApp aduan juga saya sendiri. Kalau video di Tiktok ada editornya, karena kalau saya yang edit kelamaan, hehe” kata pria kelahiran 1989 itu.

Sementara itu, tampak dari layar laman pemilu2024.kpu.go.id (update 17 Februari pukul 19.30), Jamaludin Malik telah memeroleh 62.685 suara. Meski tergolong pendatang baru dan “modal viral di media sosial”, ia berhasil menyaingi suara kompetitor dari partai lain yang sudah berpengalaman di Senayan.

Baca Juga: Kelelahan, Dua Anggota KPPS di Pati Mengalami Keguguran, Begini Respon KPU

Mas Malik berdomisili di Desa Tunggul Pandean, Kecamatan Nalumsari, Kabupaten Jepara.

Setelah lulus dari SMA 1 Pecangaan, ia mengaku harus bekerja sebagai kuli panggul di Pasar.

Ia sering nguli di Kudus, ngekos di daerah Ploso Kecamatan Jati Kudus, di belakang pasar dan kadang di daerah Jetak Kudus.

Ketika itu bekerja sebagai kuli ia mendapat penghasilan sekitar Rp 30 ribu per hari, tidak makan dari bosnya.

“Saya tulang punggung keluarga. Saya anak pertama dari tiga bersaudara. Adek saya belum bayar sekolah dan orangtua ditagih hutang sama rentenir. Saat kerja sebagai kuli, saya sering minta ditraktir teman-teman saya,” kata Mas Malik mengenang masa-masa sebelum ia mendapat pekerjaan.

Mas Malik sempat berhenti sebagai kuli setelah kakinya patah karena terjatuh.

Dalam masa-masa sulit itu, ia berpikir bagaimana bisa menghasilkan uang lebih banyak dari orang lainnya.

Saat kakinya patah, orangtuanya punya hutang Rp 50 juta yang harus ia lunasi.

Lalu saat ada lowongan pekerjaan, Ia mendaftar sebagai agen marketing di sebuah perusahaan asuransi hingga kemudian berproses sampai menjadi agency director. 

Kepada wartawan ia bercerita pernah sangat benci dengan politik.

Ia menganggap semua politikus adalah pembohong, hanya mementingkan diri sendiri, dan munafik.

Di masa lalu, Ia berpengalaman membantu pemenangan seorang politikus, namun saat keluarganya sakit dan butuh perawatan di Rumah Sakit, politikus tersebut melupakannya.

Sekarang, ia berhasil nyaleg dan berpeluang lolos maju ke Senayan.

“Saya ingin nyaleg supaya aksi saya bisa berpengaruh untuk orang lebih banyak. Saya tidak mau nyaleg di daerah, saya pilih langsung DPR RI karena dampaknya lebih terasa." kata Mas Malik.

"Saya sempat ditolak banyak partai karena saya bukan orang parpol. Akhirnya saya diterima Golkar, ketuanya di Jepara telfon saya saat itu katanya saya bisa nyaleg DPR RI menggantikan orang partai ada yang mundur. Bismillah saya maju,” imbuhnya. (nib)

Editor : Dzikrina Abdillah
#caleg #jepara #ultraman #Jamaludin Malik