PENAMPILAN Spensadut sukses menarik perhatian saat tampil di peresmian kantor Dinas Pendidikan Pemuda dan Olahraga (Dindikpora) Rembang beberapa waktu lalu.
Garapan aransemen berbagai tembang terdengar bersih dan enak.
Dandanan kelompok musim dari SMPN 1 Rembang ini, juga terlihat kompak.
Mereka memakai kemeja hitam dirangkap dengan rompi warna merah.
Lagu pembuka yang dimainkan adalah mars SMPN 1 Rembang yang digarap dengan aransemen versi dangdut.
Setelah itu, dilanjutkan dengan tembang-tembang hits. Setiap hendak tampil, Spensadut sudah mempersiapkan list lagu yang akan dibawakan.
Jumlahnya hampir 20-an lagu. Terkadang juga menerima permintaan dari pihak yang punya acara. Namun, juga tetap memperhatikan durasi waktu.
Saat tampil di kantor Dindikpora Rembang beberapa waktu lalu, grop yang beranggotakan Ba’il, Dio, Lyla, Keysia, Nindita, dan Sahafira ini, sukses menyedot perhatian hadirin.
Yang tak kalah menarik adalah penampilan Lyla yang piawai memainkan kendang.
Sebab, pemain kendang perempuan jarang ditemui pada grup orkes.
Suhartati, guru pembina Spensadut mengatakan, grup musik ini ia dirikan sekitar setahun yang lalu.
Awalnya, dia melihat potensi anak-anak didiknya yang berbakat di bidang seni musik.
Seperti Ba’il, vokalis Spensadut yang pernah menjadi juara II lomba Festival Lomba Seni Siswa Nasional (FLS2N) tingkat kabupaten.
Selain itu, juga ada Keysa yang pernah berlomba juga di bidang tarik suara.
”Saya yang ngambil personel dari pelajaran (saat mengajar seni budaya)," katanya.
Di grup ini, Suhartati mendidik para murid agar bisa profesional. Seperti memberikan nilai-nilai disiplin saat latihan. Jika terlambat, risikonya bisa dikeluarkan dari grup musik ini.
”Kami menuju profesional. Kalau profesional 100 persen ya belum," ungkapnya.
Ia melihat para muridnya sudah bisa bermain dengan baik. Seperti memperhatikan hal-hal detail sebelum tampil. Setiap latihan juga ada inovasi aransemen baru.
Guru mata pelajaran seni budaya itu bercerita, pernah suatu hari Lyla, pemain kendang Spensadut terlihat sedih ketika mendengar kualitas sound system yang jelek.
Melihat itu, Suhartati pun langsung komplain kepada operator.
”Feeling-nya kuat banget. Dia (Lyla, Red) itu kalau sound-nya nggak bagus sedih hingga menangis," katanya.
Sementara itu, Keisya, salah satu vokalis Spensadut menyampaikan, ia bersama teman-temannya diajarkan tentang profesionalisme dalam berkesenian.
Selain itu, menjadi bagian dari grup musik, membuatnya harus menguasai berbagai lagu.
Bahkan, dalam sekali manggung setidaknya harus mempersiapkan sekitar 15 daftar lagu. Terkadang juga menyesuaikan permintaan dari pihak yang nanggap.
”Ya senang bergabung dengan Spensadut," ungkapnya.
Lyla juga merasa demikian. Ia mengaku, sejak duduk di bangku sekolah dasar (SD) sudah memiliki ketertarikan terhadap kendang.
Ceritanya, saat menonton Youtube, dia menemukan permainan kendang dari seorang anak kecil. Dari situlah siswi yang saat ini duduk di kelas VIII itu, merasa tertarik.
”Pertama (tertarik dengan kendang) pas kelas III SD," katanya.
Menginjak bangku SMP, Lyla pun bergabung dengan Spensadut. Awalnya, dia mengikuti ekstrakurikuler. Kemudian guru pembimbingnya melihat potensi yang ia miliki.
”Senang bisa menjadi bagian dari grup orkes ini (Spensadut, Red),” ujarnya. (vah)
Editor : Ali Mustofa