Juwana merupakan gudangnya produk olahan bandeng presto. Salah satunya bandeng presto produksi Bu Darni -Winarso.
UMKM-nya bertahan hingga 20 tahun. Dari produksi 5 Kg sekarang ini jadi 120 Kg.
Kesibukan terlihat di rumah produksi bandeng presto di Desa Dukutalit, Juwana, Pati, pagi itu.
Terlihat sejumlah pekerja menyiapkan ikan-ikan yang akan dimasak menjadi bandeng presto.
Begitu bahan baku datang, ikan bandeng disiangi, dibuang kotorannya.
Kemudian dipilah sesuai ukuran, lalu dimasak dalam dandang presto dan terakhir dikemas sebelum diedarkan.
Di tempat ini pasangan suami istri Darni dan Winarso setia memproduksi bandeng presto.
Mereka memproduksi bandeng presto dan aneka olahan ikan bandeng lainnya dengan merek Bandeng Bu Darni W.
Usaha mereka ini sudah berjalan sekitar 20 tahun. Winarso mengisahkan, ia dan istrinya memulai usaha dengan modal Rp 5 juta pinjaman dari bank.
Pinjaman itu untuk modal awal kami membeli bahan baku ikan bandeng. Kalau peralatan mereka sudah punya sendiri.
Ia mengaku modal itu dari KUR (kredit usaha rakyat). Sudah ambil berkali-kali. Kalau lunas ambil lagi untuk membesarkan usaha sampai sekarang.
”Buat beli alat produksi, misalnya freezer dan dandang presto. Dandang presto itu mahal, harganya puluhan juta," terang Darni.
Saat masih awal merintis, kata Winarso, usaha ia jalankan berdua tanpa bantuan karyawan. Untuk proses pemrestoan, ia juga belum sepenuhnya melakukan sendiri, melainkan masih bekerja sama dengan pihak ketiga.
Ikan bandeng yang sudah dipresto lalu mereka kemas dan jual di pasar tradisional setempat.
"Sudah lima tahun belakangan ini kami kirim ke Tangerang. Banyaknya tergantung stok. Dalam satu hari rata-rata 70 Kg. Kadang 1 kuintal lebih. Yang kami kirim ke Tangerang bandeng ukuran besar," papar dia.
Winarso mengungkapkan, untuk mencapai titik itu, produsen bandeng presto tradisional seperti dirinya membutuhkan perjuangan cukup berat.
Misalnya manajemen bisnis belum begitu tertata rapi. Sehingga keuangan usaha sempat terganggu. Beruntung, masalah itu bisa diatasi.
Kendala lain ialah mengenai pasokan bahan baku. Demi menjaga kualitas, Winarso dan Darni hanya menggunakan ikan bandeng hasil produksi petambak lokal Pati.
Menurut mereka, bandeng asli Pati rasanya lebih enak dan tidak beraroma lumpur/tanah.
Masalahnya, pasokan ikan bandeng lokal kadang seret.
Bahkan jika musim kemarau panjang, tambak ikan di Juwana dialihfungsikan untuk produksi garam. Namun, mereka juga punya pemasok dari Tayu.
"Kalau pas nggak ada pasokan bahan baku bandeng lokal, ya kami prei (libur produksi). Tapi kami nyetok juga di freezer. Kadang beberapa hari (pasokan) kosong, stok bahan baku kami keluarkan. Beberapa hari kemudian sudah ada pasokan lagi," jelas Darni.
Ukuran paling kecil yang hanya diedarkan di pasar lokal Juwana dibanderol Rp 5 ribu per kotak isi dua ekor.
Adapun bandeng presto ukuran besar untuk oleh-oleh dibanderol Rp 20 ribu per kotak isi dua ekor.
Adapun bandeng presto besar kemasan vacuum dibanderol mulai Rp 30 ribu per ekor.
"Dulu namanya baru merintis, masih tahap permulaan, 25 kilogram saja dua hari baru habis terjual," lanjutnya.
Winarso menyebut, kini, dalam sehari pihaknya bisa mengolah lebih dari satu kuintal ikan bandeng. Rata-rata, dibantu lima orang tenaga kerja.
Dalam satu hari ia memproduksi 120 kilogram bandeng presto. Sebanyak 50 kilogram diproduksi untuk pasar lokal.
Sementara 70 Kilogram diproduksi untuk menyuplai distributor dan rumah makan di Tangerang. (aua)
Editor : Ali Mustofa