KUDUS - Baru-baru ini telah rilis film dokumenter yang menampilkan sosok Sulli (Choi Jin Ri). Pada film dokumenter tersebut, berisi wawancara dengan Sulli mengenai kehidupannya, pemikiran terbuka tentang kritik yang Sulli hadapi, tentang lingkungannya, serta industri hiburan di Korea.
Bagi anda yang belum tahu, Sulli telah meninggal dunia pada tahun 2019 lalu, sebelumnya ia telah melakukan syuting untuk pembuatan film dokumenter ini dan sekarang hasil syuting tersebut telah dirilis ke publik setelah empat tahun lamanya.
Film ini bertajuk “Persona : Sulli” dan di dalam film tersebut terdapat 2 bagian terpisah. Awalnya, film ini direncanakan akan tayang dengan 5 bagian, akan tetapi produksinya dihentikan karena kematian Sulli pada tanggal 14 Oktober 2019.
Salah satu bagian dalam film dokumenter ini adalah yang pertama yaitu berjudul “4: Clean Island” serta bagian yang lainnya yaitu berisi wawancara dengan Sulli.
Pada film ini Sulli bercerita tentang rasa sakit dan juga kesedihan yang ia rasakan ketika membahas seputar pelaku pelecehan secara daring.
Pada saat ditanyai tentang perasaannya terhadap orang-orang yang suka menyebarkan rumor jahat, ia mengungkapkan rasa penasarannya apakah mereka memiliki suatu penyesalan. Sulli kemudian meneteskan air matanya ketika menjelaskan alasan di balik kemurahan hatinya.
Sulli mengungkapkan bahwa dulu ia tidak suka menunjukkan sisi rentannya, namun ia tidak ingin bersembunyi lagi. Sulli merenungkan masa depannya, mengakui bahwa ia tidak mengetahui apa yang akan terjadi.
“Saya tidak tahu tentang masa depan. Pertanyaan itu sepertinya terlalu sulit. Saya ingin hidup dengan baik. Saya ingin sehat dan memiliki kemantapan.” Ucap Sulli.
Di dalam wawancara tersebut, Sulli berusaha untuk menjawab berbagai pertanyaan yang diarahkan kepadanya secara terus terang. Seringkali setelah pertanyaan pertanyaan dilemparkan, ia terlihat menekur dan juga menerawang, mencoba untuk menyusun jawaban dalam kepalanya.
Pada tahun 2018 sebelum Sulli memutuskan untuk mengakhiri hidupnya sendiri, ia sudah meminta bantuan. Sulli mengaku bahwa ia sudah sangat lelah, akan tetapi tidak ada yang mendengarkannya. “Sepertinya saya ditinggalkan sendirian di dunia ini,” katanya.
Selain wawancara mengenai hal tersebut, terdapat pula bagian wawancara mengenai hidup sebagai seorang idol Kpop. Selama program ini, Sulli menyebutkan juga bahwa ia merasa begitu ketakutan dikarenakan ia sudah terjun ke industri hiburan di usia yang masih sangat muda.
“Setengah dari waktu saya tidak tahu mengapa saya melakukan semua hal ini. Kemudian saya sampai di titik di mana saya mulai menyadari bahwa saya seharusnya tidak melakukan apa yang saya lakukan sekarang ini,” katanya.
Menurutnya, menjadi seorang idol Kpop adalah hal yang terburuk, katanya sambil menghela napas. Ketika ditanya apakah menurutnya seorang idol Kpop adalah buruh, ia berpikir panjang sambil mengerutkan dahi.
Kemudian ia menjawab dengan kata “Ya,”, menurutnya idol Kpop sama dengan buruh, ia lalu mengekspresikan kekesalannya tentang hal tersebut.
Sulli juga menambahkan bagaimana menurutnya pandangan seseorang terhadap pekerjaan sebagai artis. “Aku merasa orang-orang menganggap selebritas itu bukanlah manusia. Mereka tidak melihat kami sebagai manusia biasa.” Tegasnya.
Ia juga bercerita tentang kata-kata yang sering didengarnya pada saat ia baru memasuki industri hiburan di Korea.
“Ada satu hal yang tak henti-hentinya dikatakan orang kepadaku dan dahulu aku tidak merasa itu adalah absurd. ‘Kamu adalah produk, kamu harus menjadi produk yang berkualitas terbaik dan terhebat bagi publik’,” ujar Sulli. Karena itulah, Sulli seperti didoktrin untuk selalu merasa takut kehilangan “nilainya” di depan mata publik.
Ia jadi tidak bisa menyuarakan pendapatnya dan ia jadi tidak tahu bagaimana cara untuk berterus terang.
Sulli menyebutkan bahwa meskipun sudah bisa berterus terang tentang kesulitannya, sistem tetap tidak akan berubah. Kemudian ia tertawa kecil sambil berkata, “Saya terdengar seperti sedang menjelek-jelekkan Kpop.”.
(sal)
Editor : Kholid Hazmi