Ambyar Blora Catatan Ekonomi Entertainment Fashion Feature Grobogan Hobi Inspirashe Internasional Jateng Jepara Karimunjawa Kesehatan Kudus Kuliner Lifestyle Mlaku Bareng Nasional Olahraga Otomotif Pati Pendidikan Religi Rembang Sportainment Teknologi Unisnu Mengabdi Wisata

Melihat Desa Banjarejo Grobogan yang Dulunya Diduga Bekas Laut Purba

Intan Maylani Sabrina • Senin, 6 November 2023 | 16:13 WIB
Warga mengunjungi Museum Banjarejo, Grobogan.
Warga mengunjungi Museum Banjarejo, Grobogan.

 

Sumber air payau ditemukan di Desa Banjarejo, Kecamatan Gabus, Grobogan saat pengeboran pamsimas.

Ini menguatkan dugaan jutaan tahun lalu ada lautan purba. Akibat perubahan cuaca ekstrem kini menjadi daratan yang dihuni masyarakat.

Baru-baru ini warga Desa Banjarejo Kecamatan Gabus kembali dihebohkan dengan adanya sumber air yang memiliki rasa payau, manis dan pahit.

Sumber itu ditemukan ketika warga sedang mengebor untuk mencari sumber mata air.

Bila mendapat sumber air akan dijadikan pembangunan penyediaan air minum dan sanitasi berbasis masyarakat (Pamsimas).

Pencarian sumber mata air tersebut dilakukan di Dusun Kedungjati. Tak mudah, karena warga harus melakukan pengeboran sebanyak empat kali dengan lokasi yang berbeda.

Setelah ditemukan sumber mata air di kedalaman 80 meter. Ternyata malah memiliki rasa dengan ciri khas air laut.

Salah satu Tim Ahli Cagar Budaya Grobogan, Achmad Taufik yang juga eks Kades Banjarejo ini mengungkapkan, penemuan ini sudah berulang terjadi.

Sebelumnya ditemukan ketika pencarian sumber di Dusun Ngrunut. Air tersebut memiliki rasa sangat asin.

”Kalau kali ini ada rasa asin dan pahit. Jadi bisa disebut payau, di antara air tawar dan air laut. Karena sudah empat kali pencarian sumber, baru ini ditemukan. Meski payau, jadi mau tidak mau tetap dipakai warga. Dari pada harus beli air, mending pakai itu,” jelasnya.

Warga desa setempat sudah terbiasa menggunakan air payau tersebut untuk aktivitas sehari-hari seperti mencuci baju, mandi hingga minum ternak.

Malah hewan ternak seperti sapi cocok ketika diberi minum dengan air tersebut, karena ada asin-asinnya.

”Kalau untuk minum sudah pakai air galonan. Tapi dulu warga pernah memakainya untuk masak nasi, katanya malah asin dan enak. Untuk penemuan kali ini, airnya memiliki ciri fisik yang bening namun juga sedikit berbau,” imbuhnya.

Penemuan sumber air payau ini biasanya dilakukan jika warga mengebor di kedalaman lebih dari 30 meter. Sedangkan jika di atas 10 meter, jarang ditemukan.

Penemuan sumber air payau ini sempat dilakukan tes laboratorium oleh Puskesmas Gabus II pada 2009 silam.

”Untuk hasil sudah lupa. Untuk yang di Dusun Kedungjati ini sempat dilakukan pengecekan oleh petugas Dinkes Grobogan dengan hasil kadar garam (TDS) 5,180 PPM dan tingkat keasaman (PH) 8,5. Sehingga tak layak untuk dikonsumsi,” jelas Taufik.

Sumber air payau di Dusun Kedungjati, Desa Banjarejo itu diduga karena ada sisa penguraian jasad renik pada masa Medang Kamulan.

Ini diduga juga masih adanya sisa material lautan masa purba dari hewan laut yang mati. Ini memengaruhi rasa sumber air tersebut.

Diungkapkan, sejak lebih kurang dua juta tahun lalu, Banjarejo mulai mengalami perubahan lingkungan yang ekstrem.

Dari lautan menjadi rawa-rawa. Lalu sepenuhnya menjadi daratan hingga saat ini.

Dulunya ketika masih lautan, berbagai fauna laut hidup dan berseliweran di Banjarejo.

Dari ikan hiu, penyu, berbagai macam siput dan kerang mendiami lautan Banjarejo.

Maka tak jarang, saat mencari sumber air di kedalaman tertentu hingga 80 meter.

Warga kerap menemukan benda kecil seperti kerang dan siput. Jejak vertebrata atau fauna laut juga masih banyak ditemukan di berbagai dusun di Desa Banjarejo.

Sejauh ini juga tercatat, sudah ada 1.100 patahan hasil fosil dari 15 spesies hewan purbakala mulai dari gajah, kudanil, hingga rusa.

Ada juga temuan fosil serigala, kura-kura, buaya, siput, kerang, kerbau, penyu, banteng, antelope, menjangan, ikan laut serta hiu ditemukan di Desa Banjarejo. (int)

Editor : Ali Mustofa
#Desa Banjarejo #grobogan #air payau #lautan purba